Keunikan Rumah Adat Simalungun

Editor: Satmoko Budi Santoso

396

JAKARTA – Di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tampil enam buah bangunan rumah adat. Diantaranya, rumah adat Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak Dairi, Batak Simalungun, Nias, dan Melayu.

Sebelah kiri pintu masuk anjungan ini, tersaji Jabu Bolon Simalungun atau rumah adat Simalungun. “Rumah adat ini dihuni raja suku Batak Simalungun di daerah Permatang Purba,” kata pemandu anjungan Sumut, Gundi kepada Cendana News, Jumat (27/7/2018).

Tampilan rumah adat ini disanggah oleh tiang-tiang tegap berbahan kayu jati dan balok-balok penghubung mendatar. Balok-balok itu disusun memanjang dan melebar berselingan setinggi kurang lebih 2 meter.

Pemandu Anjungan Sumatera Utara TMII, Gundi. Foto : Sri Sugiarti.

Terasa unik memandang bangunan khas Simalungun dengan hiasan berupa cicak dan kepala kerbau di atap rumah.

“Cicak melambangkan kebijaksanaan, sedangkan kerbau bermakna keberanian, kebenaran dan untuk menangkal roh-roh jahat,” jelas ayah dua anak ini.

Keunikan lainnya, yakni di atas pintu rumah adat ini tertulis “Habonaroan do Bona”, yang bermakna kebenaran adalah utama dalam kehidupan.

Menurut Gundi, kalimat tersebut merupakan tuntutan perilaku kehidupan masyarakat Batak Simalungun yang mengajarkan nilai-nilai luhur Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.

Rumah adat Simalungun di Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Memasuki ruangan, bagian depan disebut lopou. Yakni, ruangan yang dipergunakan raja untuk menjamu tamunya. Sedangkan ruang belakang adalah khusus untuk raja dan keluarganya.

Tampilan warna rumah adat Simalungun ini berpadu merah, putih dan hitam. Warna merah bermakna pemberani, putih perlambang kesucian, dan hitam menggambarkan suasana kedukaan.

Dia menjelaskan, ada empat marga Batak Simalungun, yaitu Saragih, Sinaga, Damanik, dan Purba. Namun di Sumut, kebanyakan tinggal di kabupaten Simalungun dan kota Pematang Siantar.

“Nah, rumah adat Simalungun yang ditampilkan di anjungan ini ada di daerah Pematang Purba yang terus dilestarikan. Ini warisan nenek moyang Simalungun,” ujarnya.

Kehadiran rumah adat ini di anjungan Sumut TMII dimanfaatkan sebagai sarana memamerkan pakaian adat Simalungun dan untuk berlatih kesenian. Seperti sanggar Matra Etnira yang berlatih tari khas Simalungun setiap Selasa dan Jumat, pukul 14.00-16.00 WIB.

Di rumah adat ini pula tempat berkumpulnya masyarakat Simalungun yang sudah merantau di Jakarta dan sekitarnya. Mereka saling melepas kangen kampung halaman.

Baca Juga
Lihat juga...