KSOP Laurens Say Maumere Tertibkan Kapal Penumpang Tradisional

Editor: Mahadeva WS

288

MAUMERE – Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP ) Laurens Say Maumere mulai menertibkan kapal penumpang tradisonal yang melayani rute antar pulau yang melalui pelabuhan tersebut.

Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Laurens Say Maumere Anis Kumanireng,SH,MM. Foto : Ebed de Rosary

Rute pelayaran yang biasa dilayani adalah ke Pulau Pemana, Sukun, Palue, Kojagete dan Parumaan di perairan laut Flores, pantai utara kabupaten Sikka. “Sejak banyaknya kasus kapal tradisional yang tenggelam termasuk di Danau Toba Sumatera Utara, presiden telah menginstruksikan agar kapal penumpang tradisional harus ditertibkan,” sebut kepala KSOP Laurens Saya Maumere, Anis Kumanireng SH.MM Rabu (11/7/2018).

Dikatakan Anis, untuk tujuan ke Pemana ada enam unit kapal motor tradisional berbahan kayu yang telah mendapatkan sertifikat. Hal itu diperoleh setelah dilakukan pengukuran oleh petugas KSOP Laurens Say Maumere. Semua kapal oleh pemiliknya telah didaftarkan ke kantor KSOP Laurens Say Maumere.

“Tapi untuk kapal tradisional tujuan Palue yang berjumlah tujuh kapal semuanya belum didaftarkan oleh pemiliknya. Kami sudah tiga kali melakukan sosialisasi baik difasilitasi oleh pihak kecamatan, tokoh agama serta pemuka masyarakat. Rabu (11/7/2018) malam kami akan ke Palue dan sosialisasi kembali,” sebutnya.

Bila kapal-kapal tersebut belum didaftarkan, maka KSOP Laurens Say tidak akan mengeluarkan izin berlayar. Bila ditemukan berlayar maka pihak Polisi Perairan dan TNI Angkatan Laut dan Lanal maumere akan menangkap kapal-kapal tersebut karena berlayar tanpa mentaati peraturan termasuk mengindahkan keselamatan pelayaran.

“Kami akan bekerja sama dengan TNI Al dari Lanal Maumere dan Polairud untuk menindak tegas kapal-kapal tradisional yang berlayar tanpa ketentuan dan menyalahi peraturan pelayaran. Apalagi kapal-kapal tersebut selain mengangkut penumpang juga memuat barang,” tuturnya.

Iksan salah seorang warga Pemana yang ditanyai Cendana News mengatakan, selama ini kapal-kapal penumpang yang berlayar ke Pemana atau Pulau Sukun dari pelabuhan Wuring sering sekali mengangkut penumpang melebihi kapasitas.

“Mungkin karena sudah terbiasa sehingga mereka menanggap tidak menjadi masalah. Namun kalau memang ada penertiban oleh pihak Syahabndar itu lebih baik lagi sebab jangan sampai setelah ada kejadian kapal tenggelam baru semua orang saling menyalahkan,” tuturnya.

Iksan berharap semua kapal penumpang tradisonal dan juga kapal barang harus ditertibkan. Pengecekan secara berkala dilaukan agar bisa diketahui apakah kapal tersebut layak berlayar atau tidak. “Kalau penertiban yang dilakukan demi kebaikan bersama tentunya kita semua harus mematuhi apalagi dalam berlayar keselamatan penumpang harus diutamakan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...