Kuota Sekolah di Perbatasan Sleman tak Terpenuhi

Editor: Koko Triarko

195
YOGYAKARTA – Di tengah ketatnya persaingan seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, sejumlah sekolah tingkat SMP di Kabupaten Sleman justru kekurangan jumlah murid. Hal itu terlihat dari tidak terpenuhinya kuota siswa baru di sejumlah SMP Negeri. 
Uniknya, meski kursi siswa baru di sekolah mereka tidak terpenuhi, sejumlah SMP ini justru tetap bersyukur. Hal itu karena jumlah murid baru pada proses PPDB tahun ini tercatat sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 3 Prambanan, Haryana. -Foto: Jatmika H Kusmargana
Seperti terjadi di SMP Negeri 3 Prambanan, Sleman. SMP yang terletak di tengah perbukitan terpencil Desa Gayamharjo ini hanya mendapat 80 orang murid baru, dari total 128 kursi yang tersedia.
“Memang tiap tahun kita selalu kesulitan mencari siswa baru. Itu karena banyak siswa yang memilih sekolah lain. Jadi, setiap PPDB kita harus jemput bola. Alhamdulillah, tahun ini kita bisa dapat 80 siswa untuk 4 rombongan belajar. Tahun lalu kita hanya dapat 3 rombel saja,” ujar Wakil Kepala Sekolah SMPN 3 Prambanan, Haryana.
Berada di daerah perbatasan Sleman, Klaten dan Gunungkidul,  SMPN 3 Prambanan memang harus bersaing dengan sekolah lain untuk mendapatkan murid setiap tahunnya. Pihak sekolah bahkan harus jemput bola dengan mendatangi setidaknya 13 SD untuk melakukan sosialisasi dan menarik murid baru.
“Jadi, di sini sistem seleksi berdasarkan zonasi tidak berpengaruh. Karena kan kita di perbatasan. Setiap siswa yang mau mendaftar di sini, kita janjikan pasti langsung diterima,” ujarnya.
Hal serupa juga terjadi di SMPN 4 Prambanan, Desa Sambirejo, Prambanan. Terletak di atas bukit tak jauh dari Objek Wisata Candi Ijo, membuat sekolah ini dihindari para siswa. Alasan utama mereka adalah akses menuju sekolah yang sulit dijangkau.
“Lokasi sekolah ini kan di atas bukit. Tidak ada angkutan umum. Untuk pakai sepeda juga tidak mungkin. Jadi, mayoritas siswa yang sekolah di sini hanya warga sekitar sini saja. Warga luar desa kebanyakan enggan sekolah di sini, karena akses susah,” ujar Sekretaris PPDB SMPN 4 Prambanan, Rosyad.
Rosyad menyebut, pada PPDB tahun ini SMPN 4 Prambanan hanya mendapat 47 siswa, dari total 63 kuota kursi yang tersedia. Jumlah itu menurun dari perolehan siswa tahun sebelumnya yang mencapai 57 siswa.
“Ya, kita tetap bersyukur, toh kita sudah tidak bisa apa-apa. Yang terpenting kita sudah dapat dua rombel. Meski satu rombel hanya diisi sekitar 23-24 siswa. Namun, sudah melewati batas minimal 20 orang siswa,” katanya.
Meski sistem seleksi berdasarkan zonasi sebenarnya diakui menguntungkan bagi sejumlah sekolah negeri di kawasan pinggiran, namun dampak tersebut hingga saat ini belum dirasakan.
Pertimbangan akses lokasi, hingga image kualitas sekolah di mata masyarakat juga masih menjadi pertimbangan utama siswa memilih sekolah.
“Sebenarnya, sistem zonasi itu menguntungkan bagi sekolah pinggiran seperti kita. Buktinya sejak sistem online berlaku, ada siswa dari luar Prambanan yang masuk ke sini. Sebelumnya itu tidak pernah terjadi. Meskipun setelah tahu lokasi sekolah ini, mereka akhirnya mundur dan tidak jadi masuk,” katanya.
Lihat juga...

Isi komentar yuk