Letjen (Purn.) Soeyono: UUD Amandemen 2002 itu UUD Palsu!

Editor: Koko Triarko

1.053
Letnan Jenderal (Purn.) Soeyono, -Foto: Ist./Thowaf Zuharon
JAKARTA – Letnan Jenderal (Purn.) Soeyono, mengapresiasi kepemimpinan Tommy Soeharto di Partai Berkarya. Ia bahkan berharap, Tommy Soeharto bisa meningkatkan harkat dan martabat Pak Harto, yang selama reformasi ini terus dihujat dan dicemooh.
“Semoga, perjuangan Mas Tommy bisa menghilangkan image berbagai tuduhan jelek sebagian masyarakat yang tidak tahu atas kebaikan-kebaikan Pak Harto. Dan, Mas Tommy harus waspada juga dengan kutu loncat partai yang tiba-tiba masuk di Partai Berkarya,” ujarnya, saat ditemui beberpa waktu lalu di  Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan.
Bagi mantan ajudan Pak Harto ini, secara menyeluruh, Pak Harto lebih banyak nilai positifnya. Apalagi, sumbangsih Pak Harto dalam melaksanakan amanat Pancasila dan UUD 1945 dalam kepemimpinannya, bisa dirasakan secara nyata.
Menurut mantan Pangdam Diponegoro ini, kebesaran Pak Harto juga bisa dipakai untuk modal membangun Indonesia, dengan visi ke depan yang lebih maju, sesuai perkembangan zaman, menyesuaikan perkembangan teknologi.
Soeyono pun mengaku masih terngiang betul, kata “So…So…So…” yang tertoreh di kamar kerja Pak Harto.
Ternyata, setelah Soeyono bertanya kepada Pak harto, didapatkan jawaban, “So…So…So…” tersebut adalah singkatan dari nilai-nilai yang selalu dipegang oleh Pak Harto dalam laku kehidupannya.
“Tiga ‘So’ itu merupakan singkatan dari Sabar Atine (sabar hatinya, -red), Sareh Tumindake (tenang perilakunya, -red), Saleh pikolahe (Saleh Ahlak sehari-harinya, -red),” jelas Soeyono, fasih.
Soeyono berpesan kepada generasi muda, agar bisa mengambil nuansa positif nilai-nilai dari Pak Harto tersebut. Bagi Soeyono, Pak Harto dan Pak Karno ketika menjadi Presiden, mereka berusia 45 tahun. Maka, jika disamakan dengan kondisi sekarang, kepemimpinan 2020 nanti, adalah era kepemimpinan generasi muda yang lahir di sekitar tahun 1970-an.
“Para pemimpin Indonesia yang lahir pada 1970-an inilah yang harus kita bina dan kita pupuk dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945,” ujarnya tegas.
Soeyono menilai, dalam mengimplementasikan Pancasila dan UUD 1945, Pak Harto masih paling mumpuni. Ia pun kemudian sangat menyesalkan UUD amandemen 2002 sekarang ini yang sangat bertentangan, dan melenceng jauh dari Pancasila dan UUD 1945.
“UUD amandemen 2002 adalah Undang-Undang Negara yang palsu!” tegasnya.
Baca Juga
Lihat juga...