Libur Panjang, Penjualan Kebutuhan Sekolah Sepi Pembeli

Editor: Satmoko Budi Santoso

220

LAMPUNG – Jelang tahun ajaran baru 2018/2019  sejumlah pedagang peralatan dan seragam sekolah masih mengalami sepi pembeli.

Hasan (40) salah satu pedagang yang sehari-hari hanya berjualan pakaian bahkan mencoba peruntungan dengan berjualan buku dan alat tulis untuk sekolah. Hasan menyebut, sejak tiga pekan berjualan pembeli masih cukup sepi.

Libur panjang sekolah yang akan berakhir dua pekan ke depan, menjadi faktor penjualan peralatan sekolah masih sepi.

Dibandingkan tahun sebelumnya, Hasan menyebut, libur lebih singkat sehingga orang tua lebih cepat membelikan peralatan sekolah bagi anaknya. Pada tahun ini, ia menyebut, faktor lebaran Idul Fitri bertepatan dengan pertengahan bulan, membuat sejumlah orangtua menunda membeli keperluan sekolah.

Peralatan sekolah jenis buku tulis paling banyak dibeli masyarakat meski penjualan masih sepi [Foto: Henk Widi]
“Libur cukup panjang pada tahun ini sehingga sebagian orangtua memilih untuk menunda membeli peralatan sekolah. Jadi masih sepi pembeli kemungkinan sepekan sebelum masuk sekolah,” terang Hasan, salah satu pedagang peralatan sekolah di pasar Sidomulyo Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Minggu (1/7/2018).

Hasan menyebut, jenis peralatan sekolah yang dijualnya berupa buku, penggaris,
penghapus, pensil, spidol, jangka serta keperluan sekolah jenjang TK hingga SMA.

Pada tahun sebelumnya ia mengaku bisa menjual sekitar 100 pak buku beragam isi dan merk. Buku tulis yang dijual mulai dari isi 32 ukuran 21×16 cm sebanyak 10 buku dijual dengan harga Rp30.000, isi 38 seharga Rp45.000 hingga isi 78 lembar seharga Rp60.000 per pak.

Ia memprediksi, penjualan akan semakin meningkat sekitar minggu kedua bulan Juli karena siswa sekolah masuk pada 17 Juli mendatang. Harga peralatan tulis yang dijual diakuinya cukup beragam. Meski demikian, ia menyebut, menjual peralatan tulis dengan harga terjangkau.

Pasalnya meski keuntungan sedikit jika barang terjual semua, maka ia masih bisa memperoleh penghasilan dari berjualan sambilan tersebut.

Peralatan sekolah yang dijual pedagang di pasar Sidomulyo Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Saat ini masih sepi, penjualan saya lakukan dengan membantu adik yang memiliki toko buku dengan sistem bagi keuntungan,” papar Hasan.

Hasan menyebut, menjual peralatan tulis hanya pekerjaan sampingan saat jelang tahun ajaran baru. Sebab pada hari pasaran normal dirinya hanya berjualan pakaian.

Sejumlah pedagang yang berjualan pakaian bahkan memanfaatkan momen dengan berjualan peralatan sekolah terutama buku. Per pak buku penjual biasanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 demikian juga dengan peralatan tulis lain.

Penjual peralatan sekolah lain bernama Boby (30) menyebut, sepinya penjualan
dipengaruhi faktor libur sekolah masih panjang. Boby yang sehari-hari berjualan kaset dan VCD tersebut mengaku, mencoba peruntungan dengan berjualan alat tulis bekerjasama dengan kerabat pemilik toko peralatan dan seragam sekolah.

Membantu orang tuanya yang berjualan seragam sekolah dalam dua pekan terakhir omzet masih cukup sedikit.

Harga seragam sekolah dijual bervariasi mulai dari seragam SD seharga Rp80.000 per setel, seragam SMP Rp130.000 per setel, seragam SMA seharga Rp140.000 per setel. Dari hasil penjualan seragam tersebut, pada tahun sebelumnya sehari bisa memperoleh sekitar Rp3 juta per hari.

Namun tahun ini hanya memperoleh Rp2 juta per hari. Peningkatan omzet disebutnya baru akan terjadi menjelang sekolah akan memulai tahun ajaran baru.

“Kebutuhan orangtua tentunya beragam untuk keperluan lebaran, jadi sekalian menunggu gajian awal bulan Juli untuk membelikan keperluan anak sekolah,” papar Boby.

Hal yang sama juga diakui pedagang lain, tak jauh dari lokasi Boby berjualan.

Samiran (40) menyebut juga mengalami penurunan omzet. Ia menyebut, saat memasuki tahun ajaran baru bersamaan dengan masa tanam petani juga membuat sebagian masyarakat belum melakukan pembelian peralatan sekolah bagi anaknya.

Samiran yang berjualan sejak pagi hanya mendapatkan omzet sekitar Rp1 juta per hari padahal tahun sebelumnya mampu memperoleh omzet sekitar Rp2 juta per hari.

Sebagai langkah agar penjualan meningkat,  mendekati masa akan masuk sekolah ia akan memberi diskon khusus. Sebab ia menyebut, sebagian stok buku yang dijualnya masih cukup banyak termasuk peralatan tulis lain.

Kondisi sepinya penjualan membuat dirinya harus mengembalikan sebagian peralatan sekolah yang dijual ke pasar yang berada di dekat Jalinsum.

Heny (30) salah satu orangtua pemilik anak usia SD dan SMP menyebut, membelikan peralatan sekolah bagi dua anaknya. Beberapa peralatan sekolah dibeli secara bertahap mulai dari sepatu, tas, seragam sekolah hingga buku.

Sejumlah peralatan sekolah yang sengaja akan dibeli jelang memasuki tahun ajaran baru di antaranya buku karena jelang akhir liburan sekolah harga bisa turun.

Sebagai orangtua ia harus memilih sejumlah alat sekolah sang anak yang sudah harus diganti, sebagian memakai barang lama yang masih bisa digunakan. Beberapa peralatan sekolah yang masih bisa dipakai meski sudah tahun ajaran baru di antaranya sepatu dan tas.

Pembelian peralatan sekolah baru diakuinya hanya digunakan sebagai cadangan karena alat sekolah lama masih bisa digunakan dengan baik.

Lihat juga...

Isi komentar yuk