Luka Kaki Diabetes, Mahasiswa FKUB Manfaatkan Madu Randu

Editor: Satmoko Budi Santoso

252

MALANG – Tidak hanya dapat dikonsumsi dengan cara diminum, ternyata madu randu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar penutup luka kaki diabetes.

Seperti yang dilakukan tiga mahasiswa jurusan farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) yakni Made Prissila Prindani, Ramendra Dirgantara Putra, Kadek Devi Arum Savitri melalui produk temuannya Madu Randu Anti Luka Kaki Diabetes (Dua Kates).

Ketua tim, Made menjelaskan, Dua Kates merupakan formula Patch Nanoemulsi berbasis hydrogel dari madu tanaman kapuk randu (Ceiba pentandra) yang dimanfaatkan sebagai inovasi penutup luka pada penderita luka kaki diabetes (Diabetic foot ulcer).

Made Prissila Prindani (tengah) bersama tim Dua Kates – Foto Agus Nurchaliq

“Luka kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi dari penyakit diabetes, dimana jika tidak segera ditangani akan berujung pada amputasi akibat dari timbulnya infeksi oleh bakteri,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan Made, pemilihan madu randu sabagai bahan dasar penutup luka kaki diabetes karena madu randu pada Patch Nanoemulsi Dua Kates mengandung Flavonoid dan Polifenol serta bersifat hiperosmolar dengan pH 3,8 yang dapat membantu penyembuhan luka kaki diabetes dengan berperan seperti anti mikroba. Selain itu madu randu sangat mudah didapatkan karena merupakan madu lokal asli Indonesia.

Menurutnya selama ini kebanyakan penderita luka kaki diabetes hanya menggunakan saleb anti mikroba, dimana saleb tersebut sangat mudah hilang jika angin maupun benda sekitar berhembus.

“Untuk itu kami menggunakan teknologi patch nanoemulsi yang memungkinkan obat untuk lebih mudah masuk ke dalam jaringan yang rusak sehingga memiliki efektifitas yang baik,” sebutnya.

Patch nanoemulsi sengaja dirancang agar dapat melindungi luka kaki diabetes sehingga tidak terpapar langsung oleh lingkungan dan menjaga zat aktif agar menempel lebih lama pada kulit. Selain itu, dengan dibuat dalam bentuk patch, akan lebih memudahkan pasien dalam menggunakannya.

“Karena luka diabetes itu memiliki ukuran yang berbeda-beda setiap orang. Jadi kami buat patch agar pasien bisa mengguntingnya sendiri sesuai ukuran lukanya untuk kemudian di tempelkan,” terangnya.

Jadi patch ini ditempelkan pada luka selama satu hari, kemudian dilepas dan digandengkan yang baru. Proses penyembuhan luka berbeda-beda tergantung kondisi luka dari masing-masing penderita, tandasnya.

Sementara itu, diakui Made, untuk membuat patch nanoemulsi cukup sulit. Mereka harus melakukan percobaan hingga puluhan kali sebelum diperoleh Dua Kates.

“Cara pembuatan patch nanoemulsi cukup sulit karena kita harus berpikir bagaimana caranya menyatukan minyak dengan air. Bahkan untuk membuat nanoemulsi ini saja kami sudah melakukan percobaan hampir 50 kali dan baru ini yang berhasil,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...