Lumai, Lalapan Pesisir Lampung Selatan, Nikmat Pedas

Editor: Satmoko Budi Santoso

289

LAMPUNG – Salah satu kekayaan kuliner boga bahari (sea food) memiliki ciri khas kesegaran yang alami bahkan langsung bisa disantap dalam kondisi segar.

Keberadaan pantai di pesisir Lampung Selatan memberikan khazanah kekayaan kuliner boga bahari salah satunya lalapan serta sayuran segar yang dikenal dengan lumai (Caulerpa Sp).

Nurhayati (40) salah satu warga Penengahan menyebut, lumai atau dikenal dengan anggur laut memiliki penampilan menyegarkan.

Lumai, disebut Nurhayati, nikmat disantap setelah diambil dari laut menggunakan sambal pekhos khas Lampung lengkap dengan nasi hangat dan ikan bakar. Menurutnya, lumai merupakan sebutan khas suku Lampung untuk rumput laut yang dikenal sebagai anggur laut tersebut.

Proses pencarian lumai di pantai berpasir yang sedang surut wilayah pantai Belebuk desa Totoharjo Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Di beberapa tempat lumai kerap disebut dengan Latoh (Sunda), Lawi lawi (Sulawesi) dan sebutan berbeda sesuai daerah tumbuh rumput laut tersebut.

Proses mencari lumai, disebut Nurhayati, ditemani Sukmanah (42) cukup mudah setelah surut terjauh air laut. Bagi warga pesisir Rajabasa hingga Kalianda, pencarian lumai dilakukan saat pagi dan sore hari ketika air laut surut.

Ciri khas yang mudah dikenali di antaranya berwarna hijau cerah, bergerombol seperti tangkai anggur sehingga disebut anggur laut. Tumbuh melekat di batu karang berpasir saat laut surut membuat lumai mudah ditemui dan bisa dipetik dengan tangan. Tumbuh menjalar salah satunya di pantai Belebuk Bakauheni.

“Saya sudah kerap menyantap lumai sejak kecil karena dikasih tahu banyak khasiatnya untuk kesehatan dan bisa jadi lalapan menyegarkan saat wisata ke pantai. Apalagi dimakan ramai-ramai dengan ikan bakar saat bancakan,” terang Nurhayati, salah satu warga Penengahan, saat ditemui Cendana News baru-baru ini, di pantai Belebuk Karang Indah Bakauheni.

Nurhayati (kanan) dan Sukmanah (kiri) memperlihatkan lumai yang akan dijadikan lalapan [Foto: Henk Widi]
Lumai disebutnya memiliki ciri khas kenyal dengan bentuk seperti anggur bulat kecil-kecil. Sebagai makanan laut lokal yang disukai masyarakat pesisir pantai, Nurhayati menyebut makanan tersebut jarang dikenal masyarakat umum.

Namun bagi warga pesisir dari wilayah Tanggamus hingga Lampung Selatan sudah terbiasa menjadikan lumai sebagai alternatif boga bahari untuk disantap.

Ia menyebut lumai juga kerap dijadikan urap (kuluban) setelah dicuci bersih dengan air tawar, dibuatkan parutan kelapa lengkap dengan sambal. Selain sebagai urap, lumai bisa disantap sebagai makanan segar berupa lalapan.

Cara pengolahannya cukup sederhana, syaratnya lumai harus dalam kondisi segar jangan sampai kering karena kadar air dalam bintil atau bulir lumai akan hilang.

Kebersamaan keluarga saat menyantap lumai [Foto: Henk Widi]
“Intinya lumai harus disantap dalam kondisi mentah karena kandungan gizi dan khasiatnya justru masih tinggi sesudah diambil dari pantai,” papar Nurhayati.

Setelah lumai diambil dari pesisir pantai, dibersihkan dengan air tawar, lumai disisihkan dalam piring. Sembari menunggu air tiris, pembuatan sambal pekhos atau sambal asam pedas dipersiapkan.

Bahan sambal pekhos cukup sederhana di antaranya berupa cabai rawit secukupnya, belimbing wuluh segar, garam secukupnya, jeruk nipis, tomat, bisa ditambah mangga. Semua bahan dihaluskan dengan menggunakan ulekan batu dan disisihkan dalam piring.

Setelah sambal pekhos selesai dibuat, dalam acara bancakan atau makan bersama di pantai biasanya dilengkapi dengan ikan bakar. Lumai yang sudah bersih bisa dicocolkan atau disiram sambal pekhos di dalam piring lengkap dengan nasi hangat dan ikan bakar.

Lumai yang menyerupai anggur berukuran lebih kecil bertekstur kenyal akan pecah di lidah saat digigit, sensasi kesegaran bercampur asam aroma laut akan terasa.

Sebelum merasakan sensasi amis air laut yang kerap muncul, lumai cepat-cepat dilahap bersama nasi hangat lauk ikan bakar disempurnakan dengan sambal pekhos. Sensasi pedas sambal pekhos akan semakin segar saat disantap di tepi pantai yang sejuk dan panas apalagi dalam kebersamaan.

Menyantap lumai juga menjadi momen kebersamaan mengenalkan kuliner pantai. Mengenalkan pada generasi muda ada makanan laut segar dengan berbagai khasiat dan bisa jadi pilihan saat terjadi kekurangan makanan.

“Kami yang hidup di tepi pantai selalu memiliki stok makanan yang disediakan alam dan gratis,” ungkapnya tersenyum.

Sebagai makanan segar, Nurhayati juga secara turun temurun percaya khasiat rumput laut jenis lumai. Beberapa khasiat di antaranya menjaga kesehatan mata karena kaya vitamin A, anti bakteri, jamur, menyembuhkan diabetes, rematik, serta bisa menghaluskan kulit.

Khasiat yang sudah terasa tersebut membuat Nurhayati bahkan kerap menganjurkan mengonsumsi lumai dibandingkan obat-obatan buatan pabrik.

Sukanta (26) salah satu anggota keluarga menyebut, rumput laut jenis lumai sudah dikenalnya sejak kecil. Disantap bersama dengan sambal pekhos, nasi hangat, ikan bakar, lumai sekaligus menjadi pemersatu keluarga.

Pasalnya saat liburan berkumpulnya keluarga yang berasal dari Jakarta, Bandung jarang menemui makanan tersebut. Makanan segar yang diolah tanpa proses pemasakan tersebut disebut Sukanta memberi sensasi segar di mulut.

“Bagi saya yang merantau di Jakarta dan pulang berlibur, makan lumai sekaligus menjadi pelepas rindu, karena biasa makan fast food di Jakarta,” ujarnya sambil tertawa.

Sukanta juga menyebut, selain lumai ada jenis rumput lain yang bisa langsung disantap. Meski tidak mengenal persis namanya rumput laut dengan ciri khas pipih panjang juga kerap disantap bersama lumai.

Jika lumai memiliki ciri khas rasa asam, rumput laut jenis lain memiliki rasa pedas menyerupai ketumbar. Jenis tersebut kerap dicampur bersama lumai saat pembuatan sayur urap.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.