Madu Lebah, Hasil Manis Pelestarian Alam ‘GELAM’

Editor: Koko Triarko

363
LAMPUNG – Program pemberdayaan masyarakat di sektor kehutanan nonkayu, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), telah digalakkan oleh masyarakat di Provinsi Lampung. Salah satunya adalah Gerakan Lampung Menghijau (GELAM).
Romli (65), warga Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, merupakan salah satu petani yang tergabung dalam program GELAM tersebut.
Selain melakukan penanaman pohon, ia juga melakukan budi daya lebah madu jenis Apis Indica/Cerena, dengan glodok dari kayu kelapa sebagai kandang atau sarangnya. Budi daya lebah madu itu menurutnya dilakukan sebagai pengisi masa pensiun sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Lampung Selatan.
Mulyono,warga desa Pematang Pasir kecamatan Penengahan Lamsel selaku pendamping program GELAM dan instruktur budidaya lebah madu [Foto: Henk Widi]
Ia menyebt, setahun sebelum pensiun, ia sudah mengikuti pelatihan bersama kelompok pembudidaya lebah yang dilakukan Mulyono, di bawah binaan KLHK dan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.
“Saya awalnya hanya mendengar ada pelatihan bagi masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan, salah satunya pelestarian alam sekaligus budi daya lebah,“ terang Romli, Rabu (25/7/2018).
Romli mengaku tertarik mengikuti program pelatihan sekaligus pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, karena ia tinggal di kaki Gunung Rajabasa. Sebagian kawasan hutan lindung yang tidak boleh dirusak dijaga oleh masyarakat dengan alternatif sumber pendapatan nonkayu.
Tujuan kegiatan pelatihan, salah satunya menjaga kelestarian lingkungan melalui berbagai jenis pohon untuk penghijauan. Berbagai jenis pohon diutamakan tanaman penghasil bunga, untuk menyediakan sumber nectar bagi perkembangan lebah madu.
Pemilik satu hektare lahan kebun dengan penanaman pohon sistem Multy Purpose Tree Species (MPTS), mengaku dominan menanam kakao. Selain itu, sebagian lahan ditanami dengan cengkih, kopi robusta, kopi arabica, durian, kelapa serta jenis tanaman kayu, di antaranya akasia, medang dan pule.
Berbagai jenis tanaman tersebut terus ditambah melalui program Gelam yang diikutinya. Berbagai jenis bunga sumber nectar bagi lebah madu, bahkan sengaja ditanam di lahan miliknya.
“Saat pelatihan, saya diberi bibit pohon dan sepuluh kotak lebah madu sebagai awal budi daya, sehingga kini saya kembangkan,” papar Romli.
Menurutnya, lebah madu yang kini telah dikembangkannya menjadi 70 kotak lebah madu, membutuhkan proses panjang. Lebah madu diperoleh dengan memasang gelodok dari kayu kelapa dan kayu randu.
Selama musim berbunga pada tamanan kopi robusta dan arabica, ia memastikan lebah akan berdatangan di kebunnya. Pemasangan gelodok kayu akan menjadi rumah bagi lebah madu, yang selanjutnya dipindah ke rumah buatan terbuat dari papan dibentuk menjadi kotak.
Hasilnya, setelah lima tahun berjalan, lebah madu yang dibudidayakannya sudah bisa dipanen. Menghasilkan sekitar beberapa liter madu dari sejumlah kotak kayu, dan ia pun mampu menghasilkan beberapa produk turunan lebah madu.
Khusus untuk madu, ia menyediakan berbagai ukuran dari 150 ml, 250 ml, 350 hingga botol kaca ukuran 600 ml dan 650 ml. Madu tersebut dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp50.000 hingga Rp180.000.
Ia memastikan, ketersediaan bunga untuk lebah yang dibudidayakan terjaga dengan melestarikan pohon. Pasalnya, berbagai jenis madu yang dihasilkan akan dipengaruhi bunga yang dihisap lebah madu.
Penyedia bunga rutin bagi lebah di antaranya kelapa, randu, kelengkeng, kopi dan berbagai jenis tanaman lain. Saat musim tanaman jagung, ia juga kerap menggembalakan lebah budidayanya ke area perkebunan jagung untuk mendapatkan nectar.
“Melestarikan pohon dan menjaga hutan, salah satu resep agar produksi madu lebah bisa terus dihasilkan, terutama saat musim puncak berbunga jenis pohon tertentu,” papar Romli.
Romli juga kerap menitipkan sejumlah gelodok kayu miliknya ke kebun warga. Sejumlah warga yang memiliki pohon penghasil bunga diberinya bagian madu sekaligus menyarankan, agar tidak melakukan penebangan pohon.
Selain sebagai upaya menjaga lingkungan, sejumlah pohon tersebut juga menjadi faktor utama ketersediaan pakan alami bagi lebah madu.
Sementara itu, Mulyono (53), salah satu pembudidaya lebah sekaligus pendamping program GELAM dari KLHK di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, mengatakan, telah melakukan pembinaan ratusan kelompok pembudida lebah.
Di Pematang Pasir, katanya, ada kelompok An Nahl yang sudah memproduksi hasil lebah madu. Konsep pemberdayaan sektor kehutanan tersebut dipadukan dengan upaya melestarikan pohon, sekaligus sumber pakan alami lebah madu.
Di seluruh Lampung melalui program GELAM, Mulyono sudah membina 117 kelompok binaan budi daya lebah. Kelompok binaan tersebut selain di Lampung Selatan, juga tersebar di wilayah kabupaten Way Kanan, Tanggamus, Pesawaran, Lampung Barat serta wilayah yang berada di dekat kawasan hutan.
Hasil budi daya lebah tersebut dalam bentuk madu, royal jeli, beepollen, dan lilin, dipasok ke sejumlah pabrik.
“Peternak atau pembudidaya madu harus paham, bahwa faktor lingkungan yang lestari menjadi kunci sukses budi daya lebah madu untuk hasil yang maksimal,” jelas Mulyono.
Melalui program GELAM, berkat pohon yang dijaga dan hutan yang lestari bisa membuat pepohonan menghasilkan bunga. Berbagai jenis bunga yang disukai lebah madu akan membuat koloni lebah semakin banyak.
Selain melakukan pelatihan budi daya lebah hingga bisa membuat kotak rumah lebah, Mulyono juga mewajibkan anggotanya menanam dan melestarikan pohon.
Jika terpaksa menebang pohon, maka harus melakukan penggantian serta reboisasi. Ia memastikan, memelihara lebah tidak bisa dipisahkan dengan upaya melestarikan pohon dan hutan.
Baca Juga
Lihat juga...