Mahalnya Produksi Kemasan Dikeluhkan UMKM Kalsel

Editor: Mahadeva WS

225
Fatma Ariani memperlihatkan makanan produksinya yang sudah dikemas menarik - Foto Arief Rahman

BANJARMASIN – Mahalnya biaya produksi membuat kemasan menjadi keluhan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Banua.

Salah satu pelaku UMKM asal Banjarbaru Fatma Ariani menyebut, mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk memproduksi kemasan untuk beragam kue kering yang dibuatnya. “Dari harga produk kue kering Rp15.000 persatuannya, sekitar Rp2.500 adalah biaya untuk kemasan. Jadi kalau dipersentasekan ada 20 persen dari harga jual untuk kemasan,” keluh Owner Fatma Food tersebut, Kamis (19/7/2018).

Dengan kondisi tersebut, Dia berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah setempat. Salah satu caranya dengan membantu mencarikan jaringan jasa pembuatan kemasan di Pulau Jawa. “Di Jawa katanya produksi kemasannya lebih murah. Namun karena saya tidak punya jaringan kesana, terpaksa hingga saat ini masih menggunakan jasa pembuatan kemasan lokal saja,” ungkapnya.

Pelaku UMKM lainnya Aulia Abdi juga menyebut mahalnya biaya produksi kemasan di Kalsel dibanding dengan di Pulau Jawa. Akibatnya dari sisi harga, pelaku UMKM lokal sulit untuk menjual produknya dengan harga yang kompetitif.

“Harusnya karena kita produksinya di Kalsel, harganya jauh lebih murah. Namun karena biaya produksi kemasan cukup besar, menjadikan harganya hampir sama bahkan jauh lebih mahal. Inilah yang sering kali membuat produk lokal sulit bersaing dengan produk luar,” ucap Owner Sambal Acan Raja Banjar tersebut.

Karena itu, diharapkannya, persoalan mahalnya harga kemasan bisa mendapatkan perhatian serius pemerintah daerah. Karena kemasan yang menarik dan berkualitas sudah menjadi hal yang penting agar produk bisa dijual dan berkembang ke pasar yang lebih luas.

“Kita UMKM lokal dituntut untuk membuat kemasan yang menarik dan berkualitas. Namun disatu sisi pemda belum mencarikan solusi agar UMKM lokal bisa mendapatkan akses produksi kemasan yang murah,” tambahnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin M Saleh menambahkan, persoalan kemasan merupakan sebuah hal yang harus ditingkatkan oleh UMKM lokal. Hal itu dibutuhkan agar produk mereka pasarnya bisa berkembang. Kalau hanya bertahan dengan kemasan seadanya tentunya akan menjadikan konsumen kurang tertarik membeli beragam produk yang dibuat UMKM lokal.

“Sekarang enak saja tidak-lah cukup bagi konsumen untuk memutuskan pilihan dalam membeli produk. Kemasan yang menarik dan unik juga menjadi pertimbangan mereka dalam memutuskan untuk membeli. Karena itulah saya berharap kepada UMKM lokal masalah kemasan ini jangan dikesampingkan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...