Mahasiswa UMB Edukasi Kesenian Tradisional-Modern Pelajar SMP

Editor: Makmun Hidayat

286

JAKARTA — Kesenian tradisional Nusantara belum banyak terekspos, padahal lebih indah dan bagus dibanding kesenian mancanegara yang merambah Indonesia. Hal ini menjadi perhatian mahasiswa Universitas Mercu Buana (UMB).

Enam mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UMB, yakni Irma Rakhmawati, Fitri Rahayu, Wati Mutfiyah, Brigita Hana, M. Bacharudin, dan Imam Fery Syahroni yang tengah melaksanakan Kuliah Peduli Negeri memberikan edukasi berupa sosialisasi atau penyuluhan mengenai budaya Indonesia terutama kesenian tradisional Indonesia di SMPN 95 Jakarta Utara.

Irma Rakhmawati, selaku koordinator KPN, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap seni budaya Indonesia khususnya pada generasi muda, memberikan pemahaman serta mengajak para remaja untuk mengembangkan kreatifitas khususnya pada bidang seni dan musik tradisional.

Tidak hanya itu, edukasi melalui penyuluhan ini mengajak para siswa untuk lebih apresiatif terhadap seni budaya Indonesia, memberikan pengetahuan para siswa mengenai keanekaragaman seni budaya Indonesia terutama pada musik tradisional yang ada.

Sebanyak 36 pelajar SMPN 95 yang merupakan anak-anak pilihan dari beberapa pengurus OSIS, ketua pengurus ekstrakulikuler, dan dari masing-masing kelas dipilih untuk mengikuti kegiatan penyuluhan ini.

“Dengan menampilkan pentas seni tradisional dan modern di hadapan pelajar SMPN 95 ini, kita berharap tercipta generasi muda yang mempunyai rasa nasionalisme dengan mencintai budaya Indonesia,” kata Irma, Rabu (18/07/2018).

Kegiatan PKN mahasiswa UMB di SMPN 95 Jakarta – Foto: M. Fahrizal

Penampilan tarian tradisional Papua, baik yang klasik maupun yang sudah di-mush up atau di-remix menjadi modern -oleh grup Noken Lab yang merupakan putra asli Papua yang kuliah di IKJ, komunitas Kebon Pisang (Bon Pis)- diperagakan secara berkolaborasi oleh penari anak-anak SMPN 95, mahasiswa UMB, guru pembimbing SMPN 95.

Selain itu, juga dilakukan pemutaran video seputar ragam seni budaya tradisional Indonesia yang justru sangat dicintai oleh negara asing.

“Apa yang disuguhkan ke anak-anak SMPN 95 ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki budaya yang harus terus dikembangkan, dilestarikan, dengan mengikuti perkembangan zaman. Kita seharusnya memperkenalkan seni budaya tradisional Indonesia ke mancanegara, bukan justru kesenian tradisional milik kita diperkenalkan oleh orang asing di negara mereka,” jelasnya lagi.

Irma menjelaskan, tema Our Culture Our Future dikarenakan budaya kita untuk masa depan kita. Budaya yang sering diingat tentang kesenian tradisional, terlalu kaku, lama, kolot, namun jika itu digabungkan dengan budaya zaman sekarang, dapat menjadi salah satu bentuk menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional kita.

“Penampilan Noken Lab, itu salah satu contoh seni budaya tradisional yang di-mush up atau di-remix antara tarian tradisional Papua dipadu dengan hip hop. Justru itu menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak di zaman sekarang,” katanya.

Sementara itu, Imam Fery Syahroni menambahkan, dalam kegiatan penyuluhan ini anak-anak SMPN 95 mendapatkan pemahaman agar memiliki rasa kepedulian terhadap seni musik tradisional dengan terus mengembangkannya agar tidak luntur bahkan menghilang karena tergeser oleh hadirnya musik modern yang beranekaragam.

Dikatakan, sosialisasi edukasi ini tentang budaya pentas seni yang masih berkembang di sekolah, dan penyuluhan ini untuk menyampaikan kepada sekolah-sekolah untuk tetap eksis dengan pentas seninya.

“Kita juga memperkenalkan kepada anak-anak remaja SMP, jenis atau ragam kesenian budaya Indonesia mulai dari tradisional hingga modern. Mudah mudahan dengan adanya sosialisasi edukasi ini mereka lebih peduli dan mau menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional. Dan mereka terlihat antusias ketika Noken Lab dan teman-teman mereka tampil,” katanya.

Sekaitan kegiatan mahasiswa UMB tersebut, M. Akbar, Ketua Osis SMPN 95 mengaku sangat puas. Apa yang disampaikan kakak-kakak mahasiswa dari Mercu Buana, kata Akbar, dapat menambah wawasan serta membuka pikiran.

Akbar menambahkan, ternyata begitu banyak kesenian tradisional di negeri ini yang tidak terekspos, dan dirinya mengakui justru kesenian Nusantara lebih indah dan bagus dibanding seni dari luar (mancanegara) yang merambah dan berkembang di Indonesia.

“Iya memang, kita malah menggandrungi K-Pop yang justru kalau dilihat ya begitu-gitu aja, beda dengan kesenian tradisional kita yang jika di kombinasikan justru jauh lebih bagus ternyata,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...