Mahasiswa UNS Kembangkan Aplikasi Penyerapan Zat Warna

Editor: Koko Triarko

290
SOLO – Banyaknya industri garmen di Solo dan sekitarnya, yang dapat berdampak meningkatnya pencemaran air, menjadi alasan tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Solo untuk berinisiatif membuat aplikasi penyerapan zat warna. 
Aplikasi biomaterial penyerapan zat warna metilen biru dengan teknik eco-bio (adsorpsi-elektrokimia) dilakukan tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS, dengan memanfaatkan rumput laut.
Ketiga mahasiswa itu, Yahna Febrianastuti, Elsa Ninda Karlinda Putri, dan Uly Wulan Aprian. Menurut mahasiswa, penggunaan alginate yang diperoleh dari rumput laut menunjukkan adanya penurunan kandungan metilen biru sebesar 90,37 persen.
“Metilen biru ini banyak digunakan untuk dunia industri, karena merupakan warna dasar serta mempunyai kelarutan yang baik. Namun sayangnya, proses industri penggunaan metilen biru hanya berkisar 5 persen, sedangkan sisanya 95 persen terbuang sebagai limbah,” terang salah satu peneliti, Syahna Febrianastuti, Rabu (11/7/2018).
Menurut Syahna, dampak pertumbuhan industri tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun sudah merambah ke daerah pedesaan. Hal ini mengancam ekosistem yang ada di sungai.
Dipilihnya aplikasi biomaterial penyerapan zat warna metilen biru dengan teknik eco-bio, karena merupakan teknologi baru yang ramah lingkungan, murah, dan efektif untuk menurukan kadar pencemaran sungai.
“Jika tidak kita cegah sejak dini, pencemaran lingkungan yang berakibat rusaknya ekosistem, dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Seperti peningkatan denyut jantung dan muntah,” imbuhnya.
Hasil pengujian yang dilakukan pada produk BIA-GOAL yang mampu menurunkan kandungan metilen biru sebesar 90,37 persen, diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi pijakan bagi pelaku industri untuk menggunakan pewarna yang ramah lingkungan.
“Diharapkan dengan adanya inovasi ini, dapat mengurangi pencemaran terhadap ekosistem serta munculnya penyakit seperti peningkatan denyut jantung dan muntah,” tandas Dr. Sayekti Wahyuningsih, Dosen Pembimbing.
Baca Juga
Lihat juga...