Makna Api dalam Upacara Agama Hindu

Editor: Satmoko Budi Santoso

313

DENPASAR – Di antara ratusan bahkan ribuan benda material dalam upacara agama Hindu, penggunaan api adalah hal yang penting dalam menyertai upacara atau ritual tertentu.

Mulai upacara yang terkecil sampai yang terbesar, penggunaan api adalah suatu keharusan dalam upacara yadnya atau kurban suci.

Hal ini ditegaskan oleh Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran pada acara workshop Bebantenan (persembahan kepada Hyang Widi) yang diikuti oleh PKK Kabupaten/Kota se-Bali di Gedung Khsirarnawa, Art Center Denpasar, Minggu (1/7/2018).

Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran pemuka Agama Hindu Bali.-Foto: Sultan Anshori.

Dengan mengambil materi Api (Teja) dalam Memberdayakan Energi Semesta Agama Hindu, menurut Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran, api dimunculkan di dalam puja mantra. Api atau agni ditampilkan atau dinyatakan secara nyata saat upacara. Api juga ditampilkan dalam upacara berbentuk nyasa atau simbol.

Menurut Ida Pedanda asal Gria Kekeran, Blahbatuh Gianyar ini, dalam lontar Arghapatra Puja Pandita Shiva, jenis api dan fungsinya tidak hanya berguna bagi alam semesta. Tapi juga sangat penting bagi makhluk hidup, khususnya bagi umat manusia.

Karena itu api selain difungsikan sebagai bagian dari alam yang mampu membakar, menciptakan cahaya, memproses bahan-bahan alam lainnya, juga diyakini sebagai sarana untuk menciptakan kehidupan spiritual yang memberikan perlindungan bagi umat manusia.

“Dalam upacara selain menggunakan atau menyalakan api dalam banten, warna merah yang sering digunakan dalam banten sebagian besar dimaksudkan sebagai simbol api. Seperti daun ending bang, ayam biing dan juga dalam pengurip-urip digunakan darah segar,” papar Ida Pedanda Putra Kekeran.

Selain paparan perihal bebantenan, pada kesempatan itu peserta juga dijelaskan sekaligus diperlihatkan beberapa contoh banten tebasan yang berkaitan dengan Dewa Api.

Beragam jenis banten (persembahan) sebagai bagian penting dalam upacara tertentu. Foto: Sultan Anshori

Seperti misalnya banten tebasan pasupati, tebasan candra geni, tebasan sabuh rah, tebasan raja singa, tebasan pengesengan lara dan tebasan pengalang hati. Banten  menghadirkan api sebagai sarana pemujaan, namun ada juga beberapa banten yang menghadirkan api untuk memohon kebaikan dan menghilangkan segala keburukan manusia.

Sementara itu, Wakil Ketua 2 PKK Kabupaten Gianyar, Ny. Dwikorawati Wisnu Wijaya yang didampingi Wakil Ketua 1 PKK Kabupaten Gianyar Ny. Tagel Winarta mengatakan, workshop ini tidak hanya bermanfaat bagi peserta, namun juga bagi seluruh masyarakat.

Biar pun tidak bisa membuat banten tersebut, seperti banten tebasan, dengan mengikuti workshop minimal tahu apa nama banten yang dibuat dan dihaturkan kepada siapa.

“Khususnya kami sebagai warga Gianyar, karena narasumber Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran berasal dari Gianyar, apa yang disajikan terasa pas dengan yang berasal dari daerah sama. Karena kita tahu masing-masing daerah, bantennya berbeda-beda, meski maknanya sama,” jelas Ny. Dwikorawati Wisnu Wijaya.

 

Baca Juga
Lestarikan Budaya, Galakkan Festival Seni DENPASAR  - Anggota DPRD Provinsi Bali, Ketut Tama Tenaya, mendukung kegiatan pementasan seni budaya yang dibalut dengan kemasan festival dalam upaya ...
Diaspora Indonesia Gelar Cultural Tourism Gallery ... BADUNG - Para pegiat budaya dan Indonesian Diaspora Network United menggelar Cultural Tourism Gallery yang berlangsung pada Sabtu (1/9/2018) dan Mingg...
Karangasem Kembali Gelar Festival Pesona Tirta Gan... KARANGASEM – Kabupaten Karangasem, Bali menggelar Festival Pesona Tirta Gangga 2018. Event kali ini, bertujuan untuk membangkitkan kawasan wisata dan ...
Sering Terjadi Gempa, Pemkab Gianyar Gelar Upacara... GIANYAR - Terkait bencana alam gempa bumi yang terjadi secara beruntun belakangan, Pemkab Gianyar menggelar upacara pemarisudha jagat di Padmasana dan...
Rare Bali Festival untuk Melestarikan Permainan An... DENPASAR - “Curik-curik semental alang-alang boko-boko, tiang meli pohé, aji satak aji satus kéténg, mara bakat anak bagus pécéng, enjok enjok," itula...
FKUB Gianyar Pentaskan Khang Ching Wie GIANYAR – Turut serta memeriahkan peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kabupaten Gianyar menggel...
Kisah Klasik ‘Sunda Upasunda’ Dilurusk... DENPASAR --- Budayawan Prof Dr I Wayan Dibia yang sekaligus pemimpin garapan seni pertunjukan pariwisata "Barong Sunda Upasunda" dari Sanggar Seni Geo...