Maman Sukses Pasarkan Kendang Hingga Luar Negeri

Editor: Mahadeva WS

211

SOLO – Berawal dari kegemarannya bermain reog, pria asal Ponorogo bernama Maman Hadi Darmanto, sukses merintis usaha kendang. Produknya bisa dipasarkan hingga ke luar negeri.

Perajin Kendang Maman Hadi Darmanto – Foto Harun Alrosid

Cerita sukses Maman tersebut melewati proses yang cukup panjang. Keberhasilan yang dimiliki sekarang harus dibayar dengan pengalaman yang cukup pahit. Kisah perajin kendang yang saat ini tinggal di Dusun Jatiteken RT 1, RW 5, Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah tersebut, berawal dari usaha kecil-kecilan yang dibangunnya pada 2013 silam.

Saat itu, bapak tiga anak ini mencoba peruntungan membuat kendang dengan modal seadanya. “Belum punya modal sama sekali. Hanya memanfaatkan kayu yang ada, trus saya buat kendang. Semua tahapan saya lakukan dengan manual sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama,” ucap Maman kepada Cendana News, Selasa (24/7/2018).

Karya perdana dari membuat kendang yang diselesaikan selama dua bulan itu cukup membuatnya bersemangat. Sebab, kendang dengan ukuran sedang yang dikerjakan itu laku Rp600 ribu. “Dari situ saya mulai semangat untuk menelateni usaha kendang ini,” lanjutnya.

Setelah itu, pria 47 tahun tersebut mulai mengumpulkan modal sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya di tahun ke dua, Dirinya bisa membeli sejumlah peralatan mesin untuk pembuatan kendang. Berbagai spekulasi dilakukan untuk mendapatkan jenis katu yang cocok untuk dibuat kendang. “Ternyata kayu nangka dan mahoni yang bagus untuk membuat kendang. Kayu trembesi bisa dibuat, dan harganya lebih terjangkau tapi soal suara masih kalah bagus,” ungkap Maman.

Dalam pembuatan kedang, Maman mengaku tidak mendapati kesulitan. Berbekal jiwa seniman semasa bermain reog, Maman mampu membedakan kualitas kayu dan kulit yang bagus untuk dijadikan kendang. Bahan kayu ia dapatkan dari sejumlah daerah sekitar di Solo hingga ke perbatasan Jawa Timur, seperti Bloro, Ngawi, Ponorogo, hingga Pacitan. Sementara untuk kulit sapi, diambil dari Yogyakarta dan Magelang.

Proses pembuatan gendang dimulai dengan memotong kayu dan dilubangi dengan menggunakan mesin bubut. Potongan kayu selanjutnya dipahat hingga membentuk sebuah kendang. Proses berikutnya adalah  proses pengeringan kayu dengan di jemur di bawah sinar matahari. “Setelah kering baru proses menghaluskan permukaan, mengukir serta memplitur. Setelah kering baru dirakit dengan menggunakan bahan kulit sapi atau kerbau,” tuturnya.

Satu unit kendang berbahan kayu mahoni ukuran kecil berdiamete 16-19 cm dan panjang 45 cm dijual Rp500.000. Sedangkan ukuran sedang berdiamter 19-24 cm panjang 68 cm dihargai Rp1.500.000. Untuk yang besar dengan diameter 24-31 cm dan panjang 75 cm dijual Rp4,5 juta.

Harga kendang selain ditentukan besar kecilnya ukuran juga bahan kayu yang digunakan. “Kalau untuk kayu nangka jauh lebih mahal, karena selain sulit menemukan, kualitas suara juga lebih bagus,” urai pria yang memiliki empat pegawai itu.

Selama hampir lima tahun mengembangkan usaha pembuatan kendang, Maman mengaku sudah memiliki pelanggan tersendiri. Pasar lokal yang biasa dikirimnya diantaranya mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Flores. Sementara pasar luar negeri, dari Malaysia, Inggris hingga Jepang.

Maman sempat beberapa kali diminta untuk menjadi instruktur kendang di Malaysia dan Jepang. “Tapi karena terlalu rumit saat berada di bandara, saya kurangi. Pihak bandara mempersoalkan bahan kulit yang digunakan dalam kendang,” imbuhnya.

Dari pengalamannya menjadi intruktur kendang, Maman mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang ada di Indonesia. Menurut dia, antusias masyarakat dan perhatian pemerintah terhadap alat musik tradisional berbeda jauh dengan negara-negara tetangga. “Kalau di Malaysia ataupun Jepang untuk belajar menyetel kendang banyak yang antre. Kalau di negeri kita justru minim sekali peminatnya. Ini yang kadang-kadang membuat saya prihatin,” tambah dia.

Meski begitu, Maman optimis, kedepan salah satu alat musik tradisional tersebut dapat kembali digemari masyarakat Indonesia. Dia juga berharap pemerintah memberikan perhatian khusus, kepada pelaku seni yang berjuang mempertahankan keragaman budaya Indonesia ditengah gempuran alat musik modern.

“Harapannya seni musik tradisional ini bisa dimasukkan dalam pendidikan. Agar generasi penerus bangsa mendatang bisa mengetahui dan gemar bermain dengan alat musik asli Indonesia. Itu harapan saya,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...