Manfaatkan Libur, Anak Sekolah di Ketapang Bantu Nelayan

Editor: Koko Triarko

302
LAMPUNG — Sejumlah anak usia sekolah di Desa-Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, mengisi libur sekolah dengan membantu nelayan tangkap. Kegiatan ini dilakukan sembari bermain, dan mendapatkan uang yang kemudian dimanfaatkan untuk membeli buku.
Budiman (9), salah satu siswa SD di Ketapang, menyebut libur selama hampir satu bulan dimanfaatkan untuk membantu orang tua, yang bekerja sebagai nelayan, seperti memperbaiki jaring, memisahkan ikan dari jaring dan menjemur ikan.
Budiman, anak kampung nelayan di Ketapang membantu melepas ikan dari jaring [Foto: Henk Widi]
Nelayan pesisir Timur Lampung mencari ikan jenis lapan-lapan dan ikan pirik, menjadi sumber penghasilan bagi warga. Penangkapan ikan mempergunakan jaring dan kapal tradisional janggolan, sebagian besar memperoleh ikan tepian. Ikan pirik, lapan-lapan yang ditangkap, selanjutnya dibawa ke ke tepian dan dipisahkan dari “jaring sodo”.
Budiman menyebut, setelah selesai membantu orang tua, sebagian anak-anak nelayan sengaja membantu nelayan penangkap ikan yang menepi ke lokasi penampungan.
Ada spuluhan nelayan yang menepi seusai menangkap ikan dengan jaring sodo. Puluhan anak kerap membantu memisahkan ikan dari jaring yang kerap disebut dengan istilah “ngegibrik”.
Sementara itu, sebagian anak perempuan membantu memanen rumput laut dan memasang bibit rumput laut di jalur tambang untuk mendapatkan uang. Budi daya rumput laut di Ketapang juga sekaligus memberi penghasilan bagi anak-anak perempuan, mulai proses memasang bibit hingga panen.
“Kami anak-anak kampung nelayan mengisi waktu libur dengan membantu orang tua, kadang-kadang bisa mendapat uang dari upah membantu nelayan,” ungkap Budiman, Kamis (5/7/2018).
Menurut Budiman, kegiatan ngegibrik dan alang-alang merupakan salah satu kegiatan yang bisa menghasilkan uang bagi anak-nak nelayan. Ngegibrik menjadi kegiatan melepaskan ikan yang tersangkut jaring dengan cara mengibaskan jaring.
Setiap nelayan yang dibantu anak-anak, kerap memberikan uang Rp5.000. Dalam sehari, Budiman bisa membantu sekitar 10 nelayan. Kegiatan ngegibrik, kata Budiman, tidak terlalu sulit, karena dikerjakan di tempat teduh sembari bermain.
Setelah kegiatan ngegibrik selesai, anak-anak bisa membantu nelayan di tempat pendaratan ikan (TPI) Ketapang. Kegiatan anak-anak tersebut diistilahkan dengan alang-alang, dengan membantu nelayan mengangkat ikan dari perahu ke TPI.
“Kami biasanya mendapat uang dari nelayan lima ribu rupiah sekali membantu, lalu kami kumpulkan untuk membeli peralatan sekolah, terutama buku,” terang Budiman.
Budiman bersama kawan-kawan, menyebut, meski hanya sederhana, namun ia bisa mengurangi beban orang tua membeli buku. Selesai melakukan kegiatan ngegibrik dan alang-alang, dirinya tetap kembali bermain di tepi pantai.
Meski sempat dilarang, Budiman bersama kawan-kawan anak nelayan di tempat tersebut tetap melakukan aktivitas ngegibrik dan alang-alang untuk memperoleh uang.
Sumiran (40), nelayan jaring sodo ,menyebut nelayan tradisional melaut di tepian dengan perahu janggolan. Perahu dilengkapi dengan jaring sodo, kerap memperoleh ikan lapan-lapan, pirik yang dibeli pengepul seharga Rp5.000 per kilogram.
Sekali penangkapan ikan, dirinya bersama lima nelayan lain kerap mendapat 200 kilogram atau mendapat sekitar Rp1 juta saat menangkap ikan dari subuh sekitar jam 5.00 hingga jam 09.00 WIB.
“Anak-anak kerap membantu  melepaskan ikan dari jaring dan kami beri uang, karena sembari bermain mereka meringankan pekerjaan nelayan,” terang Sumiran.
Ikan hasil tangkapan nelayan, kata Sumiran, akan diolah menjadi ikan rebus untuk bahan ikan asin. Selain itu, dipergunakan sebagai bahan pakan ikan dan udang.
Di tingkat pengepul, ikan bisa dijual seharga Rp8.000 dengan permintaan mencapai lima ton per bulan. Ikan tersebut akan digiling menjadi tepung sebagai bahan campuran pembuatan pakan ikan dan unggas.
Baca Juga
Lihat juga...