Mat Peci, Memelihara dan Menjaga Ciliwung dengan Edukasi

Editor: Mahadeva WS

244

JAKARTA – Sungai Ciliwung merupakan ikon Jakarta. Sayangnya, buruknya perilaku manusia menjadikan aliran sungai yang membelah Jakarta tersebut menjadi kotor dan tidak enak untuk dipandang mata.

Usman Firdaus, Ketua Komunitas Mat Peci. foto M. Fahrizal

Adalah Sekolah Sungai Ciliwung, yang digagas warga untuk mencoba menjaga ikon Jakarta tersebut. Adalah, Usman Firdaus, Ketua Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci) yang menjadi motor bergeraknya komunitas tersebut. Disela-sela waktu luangnya, kepada Cendana News Usman menyebut, Mat Peci memiliki tiga program utama yakni, Sekolah Sungai, Green Camp, dan ekoriparian.

Sekolah sungai lebih berorientasi ke edukasi. Sedangkan Green Camp berorientasi kepada pengenalan lingkungan langsung seperti kemah, outbond. Sementara ekoriparian lebih mengarah ke taman ditepi sungai yang bertujuan agar sungai tidak kotor dengan adanya penumpukan sampah milik masyarakat.

Adanya taman ditepi sungai membantu menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah ditepi maupun disungai secara langsung. Taman ditepi sungai sangat efektif membuat sadar masyarakat.

Program Mat Peci selain, sekolah sungai juga konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan lingkungan sekitarnya. “Jadi bagaimana sungai Ciliwung itu sepadannya di konservasi mulai dari airnya, hewannya, dilakukan agar tetap terjaga kelestariannya, tidak hanya disungai tetapi juga semua lingkungan dimanapun,” tandasnya, Jumat (13/7/2018).

Program Urban Farming (pertanian kota) dibuat, untuk memanfaatkan tempat kosong dengan diisi berbagai macam tanaman seperti cabai hingga sayur-sayuran. “Lahan kosong kita tanami sayur-sayuran dan sebagainya itu bertujuan menyadarkan masyarakat agar tidak sembarangan membuang sampah,” tambahnya.

Program Rescue dan Pengurangan Resiko Bencana, Ciliwung merupakan sumber banjir itu adalah yang selalu diucapkan orang. Setiap kali banjir, orang menyalahkan Sungai Ciliwung sebagai sumber banjir. Adanya tim rescue di Mat Peci dan pengurangan resiko bencana merupakan bentuk kesiapsiagaan. Dengan kata lain, sebelum sungai meluap, dengan menggunakan material yang ada lingkungan sungai dibersihkan.

Program lainnya Konservasi Budaya, yang mencoba mengangkat kearifan lokal yang ada di Ciliwung. Program lain adalah edukasi dan pemberdayaan. “Pada program ini Mat Peci menyampaikan, mengenalkan, menjelaskan, apa itu konservasi, sehingga pada akhirnya jika ingin belajar konservasi di Sekolah Sungai pun bisa didapat,” tandasnya.

Sekolah Sungai Ciliwung menggunakan kawasan seluas tiga kilometer yang dibagi menjadi, satu kilo pertama untuk zona sekolah sungai, satu kilo kedua untuk camping ground dan outbond dan satu kilo ketiga untuk ekoriparian. Kegiatan sekolah sungai sudah berjalan dua tahun, sedangkan program Mat Peci sudah disusun sejak 2006. Baru di 2009 Mat Peci aktif menjalankan program tersebut.

Sekolah Sungai diadakan setiap hari. Pengajarnya ada 10 orang yang merupakan para pengurus. Peserta tidak hanya dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari luar wilayah seperti perusahaan-perusahaan banyak yang datang untuk belajar.

Usman Firdaus dan anak-anak warga sekitar siap berangkat menyusuri sungai Ciliwung. Foto Dok Mat Peci / M Fahrizal

Anggota Mat Peci saat ini berjumlah 150 orang. Sedangkan untuk relawan melibatkan, mahasiswa, pelajar, masyarakat. “Sebenarnya ada 3 konsep lagi yang ingin kita terapkan yakni yang di hulu itu konsep Sekolah Gunung sama seperti Sekolah Sungai hanya bedanya itu di hulu (gunung), sedangkan yang di Marunda itu saya ingin kembangkan Sekolah Laut dikarenakan lokasinya di pantai, dan khusus yang di tengah yakni Sekolah Sungai yang sekarang sudah berjalan. 3 potensi inilah yang sedang kita kembangkan,” tandasnya.

Sejauh ini, kegiatan yang dijalankan Mat Peci belum melibatkan dinas terkait. “Untuk Pemerintahan kita lebih banyak ke kebijakan, kita dibantu dari sisi itu mulai dari perizinan. Dan terakhir yang kita lakukan mengajukan kembali proposal kegiatan kita ke Walikota Jakarta Selatan, dan kita masih terus kordinasi dengan dinas-dinas tertentu,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.