Matra Etnira, Lestarikan Budaya Sumatera Utara

Editor: Mahadeva WS

212

JAKARTA – Gerakan penari belia yang gemulai membawakan Tari Sitalasari dan Haro-Haro, khas Simalungun, Sumatera Utara tersaji di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pelatih tari Matra Etnira Sanggar Seni Anjungan Sumatera Utara TMII, Ani Saragih. Foto : Sri Sugiarti.

Nada gamelan khas Simalungun berpadu lagu Sitalasari mengiringi tangan lentik bocah belia yang sedang menari. Tari tersebut mengibaratkan sedang memetik setangkai bunga. “Sitalasari itu bunga, dan tarian ini dipertunjukkan untuk menyambut raja pada upacara pesta,” kata Pelatih Tari Matra Etnira Sanggar Seni Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Ani Saragih S kepada Cendana News, Jumat (27/7/2018).

Tari Sitalasari adalah salah satu dari sekian banyak seni tari tradisi budaya Simalungun. Tari ini telah ada sejak 1946 dan diciptakan oleh seniman tari bernama Taralamsyah Saragih. Beliau adalah seorang bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun.

Ani menjelaskan, makna lagu dan tari Sitalasari adalah bunga rampai yang terdapat di jalan. Bunga ini dijadikan penutup kepaya atau topi kebesaran bagi perempuan Simalungun. Karena datang inangnya, maka anak perempuan itu harus berlaku sopan. Yakni mengingat akan adat dari Simalungun.

Adapun Tari Haro-Haro, juga diciptakan Taralamsyah Saragih pada 1952. Tarian ini,  mengandung makna mengenai kain hiou warisan nenek moyang Simalungun yang patut dilestarikan. “Tari Haro-haro dengan penarinya mengenaikan kain hiou. Ini kain tenun tradisional warisan nenek moyang Simalungung. Kain ini mengandung jati diri masyarakat Simalungun, harus dipertahankan,” tandas Ani.

Kedua tarian tersebut, diajarkan secara turun menurun. Tarian tersebut tidak hanya bernilai budaya, tetapi terkandung makna pembelajaran diri masyarakat Simalungan dalam kehidupan bermasyarakat. “Saya berharap tarian tradisi Simalungun ini menggema tidak hanya di Indonesia, tapi juga hingga luar negeri,” tegasnya.

Petugas Informasi dan Pelayanan Promosi Wisata Anjungan Sumatera Utara TMII, Evy Julinda menambahkan, Matra Etnira adalah sanggar yang berada di bawah naungan Diklat Seni Anjungan Sumatera Utara (Sumut). Sanggar ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangan seni budaya Sumut.

Dari sanggar tersebut, harapannya, seni dan budaya Sumut dapat dikenal oleh masyarakat luas. “Matra artinya satu atap berbagai suku etnik. Peserta sanggar ini dari berbagai daerah, tercatat ada 70 peserta mulai usia dini, pelajar hingga mahasiswa,” kata Evy.

Kegiatan menari tersebut rutin dilakukan setiap Selasa dan Jumat,  pukul 14.00-16.00 WIB. Kegiatannya dilakukan di Rumah Adat Simalungun yang berada di area anjungan Sumut. Tarian yang diajarkan adalah tari khas Batak Tiba, Karo, Simalungun, Pak-Pak Dairi, Melayu, dan tarian khas Sumut lainnya.

Materi tari yang diajarkan dari tahap dasar hingga pengembangan. Para penari sanggar Matra Etnira kerap tampil diberbagai acara besar, baik itu HUT TMII, pernikahan, acara perusahaan hingga istana negara menyambut tamu kenegaraan.

Prestasi lomba menari yang diraihpun berjumlah puluhan, sebuah bukti membanggakan telah melestarikan budaya Sumut. “Kami juga pernah kerap tampil di luar negeri. Di 2016 lalu, kami memeriahkan acara fashion week di Kuala Lumpur Malaysia,” kata Evy yang juga seorang pelatih tari.

Nur Khaerunsyah, siswi kelas 1 SMP menyebut, sudah belajar di sanggar tersebut sejak kelas 1 SD. Dia merasa senang bisa menguasai tari dari Sumut, meski Dirinya adalah keturunan Aceh dan Jawa. “Saya tertarik tarian Sumut, sekarang lagi belajar tari khas Simalungun. Alhamdulillah saya sering tampil juga,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...