Menanti Kebijakan Pemerintah di Sektor Bisnis Florikultura

157
Anggrek, ilustrasi -Dok: CDN
JAKARTA – Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), yang beranggotakan pelaku di industri bunga, saat ini masih menantikan kebijakan pemerintah, terutama keringanan fiskal, agar budi daya bunga (florikultura) di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang.
“Mungkin pemerintah dapat meniru kebijakan pemerintah Thailand dan Vietnam untuk menumbuhkembangkan florikultura, mulai subsidi di sektor pajak sampai kepada bantuan pupuk,” kata Wakil Ketua Asbindo, Hesti Widayani, dalam ajang “Indonesia International Landscape and Greenery Exhibition, di Jakarta International Expo Kemayoran, Jumat (20/7/2018).
Hesti mengakui, salah satu hal yang memberatkan di sektor perpajakan adalah pengenaan PPN sebesar 10 persen untuk penjualan bunga. “Jadi, ketidakkonsistenan di sini kalau bunga yang dijual eceran tidak kena PPN, tetapi kalau sudah dalam bentuk rangkaian atau beberapa tangkai, dikenakan PPN sebesar 10 persen. Usulan kami diseragamkan saja jadi satu persen,” ujarnya.
Persoalan lain yang seharusnya menjadi perhatian agar sektor florikultura ini berkembang, adalah dukungan penyediaan lahan melalui sewa serta ketersediaan air, bahkan aspek lingkungan.
“Pernah petani kami di lereng Gunung Pangrango, mengalami kerugian setelah lahan bunganya tersapu banjir akibat tidak adanya pengendalian lingkungan dari pemerintah daerah setempat,” jelas Hesti, didampingi pengurus Asbindo lainnya.
Menurut Atik Setyawati, Kepala Bidang Organisasi Asbindo, untuk menghadapi tantangan tersebut, melakukan inovasi mulai dari hulu ke hilir. Melalui inovasi dan teknologi produk florikultura dari hulu ke hilir, industri florikultura mampu mempercepat pertumbuhan pasar domestik maupun peluang ekspor, dapat membantu menekan biaya produksi dan lebih ekonomis bagi para petani florikultura.
“Perusahaan kami menyediakan dan mendorong budi daya florikultura, melalui benih karena lebih efisien dan memberikan hasil lebih besar kepada petani. Kami menyadari, pasar tanaman hias di Indonesia mulai mengalami kenaikan. Untuk itu, kami siap memberikan dukungan dengan menyediakan teknologi dan benih unggul,” ujar Atiek, yang juga Manajer Export Import di PT East West Seed Indonesia (Ewindo).
Lebih jauh, Humas Asbindo, Damayani Sabini, mengatakan potensi florikultura berdasarkan pengalaman di Vietnam dan Thailand, sangat besar, terutama dalam memberikan kontribusi bagi devisa, untuk Indonesia sendiri data terakhir menunjukan nilai konsumsi florikultura Indonesia mencapai sekitar 150 milliar dolar AS dengan nilai ekspor 20 juta dolar AS.
Dengan demikian, jelas Damayanti, industri florikultura Indonesia mempunyai masa depan yang menjanjikan, potensi Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global sangat besar. Kekayaan akan bunga tropis belum dapat dimanfaatkan secara optimal, padahal peminatnya di pasar dunia sangat besar.
Hesti menambahkan, hadirnya Asbindo dalam ajang “Indonesia International Landscape and Greenery Exhibition” untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, pentingnya tanaman hias baik di rumah maupun tempat kerja bagi kesehatan.
“Harus diingat, polusi udara yang semakin memburuk mengancam kesehatan kaum urban yang tinggal di kota kota besar di Indonesia. Berdasarkan data dari WHO 2016, kota Jakarta dan Bandung termasuk dalam urutan ke sepuluh dari kota-kota dengan pencemaran udara terburuk di Asia Tenggara,” ujar dia.
Tanpa disadari, polusi udara tidak saja di ruang terbuka, tetapi di ruang tertutup, faktanya sebagian besar dari kaum urban/perkotaan berada di ruang tertutup (indoor), lebih dari 50 persen dari waktu kegiatannya dalam sehari.
Sumber pencemaran dalam ruangan dan gedung, berasal dari asap rokok, polusi dari cat tembok, kurangnya ventilasi dan sirkulasi udara, radiasi dari perangkat komputer dan peralatan elektronik kantor seperti mesin fax, mesin fotokopi.
Polusi dalam ruangan tertutup seperti di perkantoran, pabrik, mal dan gedung gedung tinggi, berdampak pada turunnya kualitas kesehatan secara fisik dan mental yang disebut dengan sick building syndrome.
“Hadirnya tanaman hias berfungsi sebagai antipolutan filter udara dan  memberikan oksigen, sehingga udara dalam ruangan menjadi lebih bersih dan lebih segar”, tutur Hesti.
Lebih jauh, Teresa M Ineke Turangan, Floral Designer Asbindo, mengatakan kreativitas menjadi salah satu tuntutan membuat produk-produk florikultura semakin menarik dan berfungsi ganda, sebagai antipolutan, tetapi juga menciptakan suasana asri, sekaligus meningkatkan pertumbuhan usaha florikultura.
Dalam rangka menundukung acara Expo Urbanscape & Greenery 2018 dan mempromosikan produk florikultura, Asbindo ikut berpartispasi dalam pameran dan mengadakan Seminar ‘Healthy life through Green Eco Environtment’ pada hari Sabtu 21 Juli 2018, memberikan inspirasi  dan ide kreatif hidup sehat di lingkungan hijau di ruangan tertutup maupun untuk ruang terbuka, khususnya kepada kaum urban yang tinggal di kota kota besar dengan lahan sempit. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.