Menawar Kenangan Lama di Pasar Kangen Jogja

Editor: Satmoko Budi Santoso

398

YOGYAKARTA – Setiap memasuki sore hari, kawasan seputaran Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sejak seminggu terakhir nampak selalu ramai pengunjung. Puluhan orang, baik tua maupun muda nampak antusias menikmati suasana pusat kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta ini.

Puluhan lapak dan warung sederhana, nampak berdiri berjejer di halaman luar gedung. Mereka menawarkan aneka dagangan barang lawas yang mungkin sudah sangat jarang ditemui saat ini.

Bermacam olahan kuliner tradisional jadul seperti clorot, geblek, lempeng juruh, sate kere hingga wedang uwuh bisa ditemui disini. Ada pula berbagai barang antik seperti piringan hitam, kaset, CD, dolanan anak serta berbagai barang lawas lainnya.

Salah seorang peserta, Astika Yunita (32) yang menjual aneka dolanan anak tradisional (kaus putih kerudung hitam) Foto Jatmika H Kusmargana

Digelar setiap tahun, Pasar Kangen Jogja 2018 memang selalu menjadi salah satu even yang banyak ditunggu masyarakat Jogja dan sekitarnya. Seolah menawarkan kenangan akan masa lalu, Pasar Kangen mampu menarik antusiasme pengunjung dari berbagai kalangan.

“Hampir setiap tahun selalu datang kesini. Ya sekedar jalan-jalan sambil menikmati jajanan saat masih kecil,” ujar salah seorang pengunjung Tari (40) asal Bantul.

Mengangkat tema Pasrawungan Ajur-Ajer, event Pasar Kangen ke 11 ini memang nampak semakin ramai dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Lebih dari 80 stand kuliner tradisional dan 40 stand barang/kerajinan lawas ikut dalam event tahun 2018 ini.

Salah seorang peserta, Astika Yunita (32) asal Jogja mengaku sudah 2 tahun ikut berjualan di Pasar Kangen. Ia menjual berbagai macam dolanan anak tradisional sepeti gerabah pasaran, dakon, bekel, plembungan, peluit hingga kipas warna.

“Di rumah, saya memang sehari-hari jualan mainan tradisional ini secara online. Awalnya sih hanya koleksi untuk mainan anak saya saja. Tapi kemudian ada teman yang pengen, hingga akhirnya muncul ide untuk berjualan. Karena kan saat ini sudah sangat jarang,” katanya.

Digelar 7-16 Juli, pengunjung Pasar Kangen Jogja, tidak hanya sekedar bisa menikmati atau mencari barang dan jajanan jadul saja. Pasalnya bersamaan dengan digelarnya event ini juga digelar pertunjukan seni budaya di tempat yang sama.

Sebuah panggung sederhana di depan kawasan TBY, tak henti menampilkan pertunjukan dari berbagai kelompok kesenian. Mulai dari wayang bocah, dagelan mataraman, ketoprak, hingga tari angguk.

Meski mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat setiap tahunnya, gelaran event Pasar Kangen Jogja bukan tanpa cela. Beberapa pengunjung nampak mengeluhkan semakin mahalnya harga jajanan kuliner yang dijual pedagang.

“Sayangnya, harga makanan disini mahal-mahal. Seperti misalnya sate kere itu, Rp 10 ribu hanya dapat 3 tusuk. Itupun rasanya juga tidak seenak biasanya. Semoga ke depan panitia bisa memperbaiki ini,” ujar salah seorang pengunjung yang enggan disebutkan namanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.