MENEMUI PENGAMEN JALANAN

Oleh Siti Hardiyanti Rukmana

2.071

Suatu sore, sepulang bapak dari bermain golf di Rawamangun, bapak memanggil saya. Kalau tidak salah bulan Juli 1986 waktu itu.

Obos Gembok (Alm), Matiyas, Ibu, Bapak, Yanto Bule, Arie Langoe.
Malam itu, Bapak dan Ibu sangat bahagia sekali dapat bertemu dan dihibur oleh anak-anak Pengamen Jalanan, di hari ulang tahun Ibu yang ke 63 tahun.

Saya temui bapak masih berpakain golf: “Bapak nimbali (manggil) saya?” sambil cium tangan bapak saya bertanya.

“Iya, gini wuk, bapak itu kalau pulang golf di depan Rumah Sakit Cipto, selalu ada 4 anak pengamen jalanan berdiri tegak, begitu bapak lewat mereka memberi hormat ke bapak.”

“Empat-empatnya memberi hormat pak?” saya memotong pembicaraan bapak.

Sambil tersenyum bapak menjawab: “Iya mereka berempat bareng sampai bapak pulang ditunggu memberi hormat lagi.”

“Memberi hormat membungukkan badan atau hormat salut tentara pak?” penasaran saya bertanya lagi.

“Hormat tentara,”. Bapak menjelaskan “Coba kamu beliin gitar. Mereka berempat, jadi beli gitarnya 4, biar satu anak dapat 1 gitar. Setelah itu, kamu acarakan ketemu bapak, biar bapak yang memberikan sendiri pada mereka!”.

Subhannalloh, ngimpi apa anak-anak pengamen itu karena akan ditemui oleh Presiden mereka. “Bapak kersonya (maunya) kapan menjumpai mereka.”

“Kamu sesuaikan dengan jadwal acara bapak. Kamu check ke ajudan!” bapak memberi petunjuk.

Saya tanyakan lagi: “Bapak mau bertemunya siang atau malam, di Binagraha atau di rumah?”

“Di rumah saja biar lebih kekeluargaan. Waktunya kamu atur dengan ajudan.”

“Baik bapak, nanti dalem (saya) koordinasikan dengan ajudan, kalau sudah dapat gitarnya saya matur (lapor) bapak lagi,”. Lalu saya mohon diri.

Belum keluar dari pintu, bapak sudah manggil saya lagi: “Wuk, begini saja,”. Saya kembali menghadap bapak sambil menunggu perintah selanjutnya “Kamu acarakan tgl 23 Agustus saja, pas acara ulang tahun ibu, biar mereka sekalian menghibur para tamu!”. bapak melanjutkan perintahnya sambil tersenyum.

“Ada lagi pak?”

“Sudah itu saja, kamu panggil anak-anak pengamen itu, sampaikan supaya menghibur di ulang tahun ibu.”

“Bapak, boleh tahu kenapa bapak perhatian banget ke mereka?”.

“Bapak terkesan dengan sikap mereka. Mereka pasti kehidupannya jauh dari kemewahan. Mencari sesuap nasi dengan mengamen. Dengan tingkat kehidupan mereka seperti itu, mereka menyempatkan diri untuk mengambil waktunya, hanya sekedar memberi penghormatan pada Presidennya. Dan mereka memberikan penghormatan itu setiap bapak berangkat maupun pulang golf, berarti mereka mencari tau kapan bapak akan bermain golf, dan pada waktu-waktu tertentu itu mereka siap memberi penghormatan pada bapak,”.
Bapak terdiam sejenak. “Mereka tanamkan dislipin betul dalam kehidupannya, dan dislipin itu salah satu kunci dari keberhasilan. Dengan disiplin, semua yang kita lakukan akan lebih terarah, terencana, baik, cermat, sukses dan dapat dipertanggung jawabkan.

Nasehat bapak di atas, yang selalu saya tanamkan di diri saya dalam keseharian saya maupun dalam saya melakukan tugas dan kewajiban saya.

Seminggu setelah saya dipanggil bapak, saya minta staf saya mencari para pengamen yang dimaksud bapak. Akhirnya kami menemukan mereka, dan nama mereka adalah Arie langoe alias Munari Arie, Matiyas, Obos Gembok alias Suherman dan Yanto Bule. Kemudian saya beri tahu keinginan bapak untuk bertemu dengan mereka.

Tampak dari wajah mereka tergambar antara bahagia dan tidak percaya “Alhamdulillah …..” sersempak mereka bersyukur, salah satu dari mereka berkata “ibu, kami tidak bermimpi kan?”.

“Kalian semua tidak sedang bermimpi,” saya jawab sambil tertawa. “Bapak berkenan menerima kalian, tanggal 23 Agustus, kebetulan hari itu ibu berulang tahun yang ke 63 tahun.”

“Siaap bu .. “ serempak mereka menjawab.

“jadi kalian selalu nunggu bapak lewat lalu memberi hormat?” saya bertanya.

“Betul bu Tutut. Kami tunggu sampai bapak pulang kami hormat lagi pada beliau.”

“Apa tujuan kalian melakukan semua itu?” tanya saya ingin tahu.

“Kami menghormati Presiden kami Bapak Soeharto, yang selalu memperhatikan dan mencintai rakyatnya. Kami rakyatnya akan selalu mencintai beliau. Kami sadar tidak akan mungkin bernyanyi untuk beliau, jadi saya dan Obos yang mencari cara agar Bapak Soeharto tahu bahwa kami sangat menghormati beliau, kami putuskan untuk menghormat pada beliau,” Arie mewakili kawan-kawannya menjawab. “Tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena harus melalui penjagaan yang sangat ketat di jalan tersebut, apalagi kami pengamen. Begitu mobil bapak Presiden mulai mendekat, kami lari langsung berdiri tegap dan memberi hormat. Hal ini kami lakukan setiap bapak Presiden lewat,”.

Jawaban yang lugas, jujur dan penuh kekaguman yang keluar dari Pengamen Jalanan.

Singkat cerita, sampailah pada tanggal 23 Agustus, akhirnya mereka bertemu dengan bapak dan ibu. Terpancar dari wajahnya rasa gembira, tapi agak takut, mungkin karena tidak pernah terbayangkan bahwa mereka akan bertemu Presiden RI .

Malam itu bapak dan ibu sangat bahagia menerima mereka. Tak lepas senyum dari wajah bapak dan ibu. Bapak sangat antusias memperkenalkan mereka pada para tamu, yang dilanjutkan dengan lantunan nyanyian yang biasa mereka bawakan.
Bapak memberikan wejangan kepada mereka, di sela-sela syukuran ulang tahun ibu. “Teruskan mewujudkan cita-cita mu. Jangan mudah putus asa. Kalau kamu ingin sesuatu cari mbak Tutut!”.
Bapak berkenan memberikan sebuah gitar pada Obos Gembok alias Suherman
Bapak berkenan memberikan sebuah gitar pada Arie Langoe alias Munari Arie
Bapak berkenan memberikan sebuah gitar untuk Yanto Bule
Bapak berkenan memberikan sebuah gitar pada Matiyas.

Demikianlah sekelumit kisah, tentang Pengamen Jalanan, dari trotoar menuju rumah Kepala Negara.

Salah seorang dari mereka, telah mendahului kawan-kawannya meninggalkan dunia, yaitu Obos Gembok. Kita doakan semoga diampuni dosanya, dimaafkan kesalahannya dan diterima seluruh amal perbuatannya …. Aamiin.

Untuk yang masih berkarya, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan bimbingan kepada kalian dan keluarga…. Aamiin.

“Bapak, begitu perhatian bapak pada rakyat Indonesia. Apapun yang orang bilang tentang bapak, kami anak-anak, cucu dan buyut bapak, merasakan bahwa bapak mempunyai hati yang tegas dalam kelembutan.

Bahagialah bapak dan ibu di atas sana………

Doa kami selalu menyertai bapak dan ibu.

We love you dearly ……….…….”

Ya Allah satukan bapak dan ibuku di sorga MU .. aamiin.

Jakarta 7 Juli 2018
03.40 menanti subuh

 

Baca Juga
Lihat juga...