banner lebaran

Menengok Perkampungan Honai Suku Dani di TMII

Editor: Mahadeva WS

190

JAKARTA – Rumah Honai merupakan salah satu rumah adat Papua yang ditampilkan di Anjungan Papua Taman Mini Indonesia (TMII). Tampilan rumah berbentuk bulat berbahan kayu dengan atap setengah kubah terbuat dari jerami menjadi ciri khas dari rumah Honai.

Pemandu Anjungan Papua TMII, Marlon Yarangga. Foto: Sri Sugiarti.

“Honai atau perkampungan Honai, ini rumah suku Dani, Papua. Rumah ini terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut atau kubah berbahan jerami, pintunya kecil dan tidak berjendela,” kata Pemandu Anjungan Papua, Marlon Yarangga kepada Cendana News, Kamis (12/7/2018).

Pintu rumah Honai yang kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Suku Dani tinggal di daerah Wamena yang berada di pegunungan tengah yang berada di ketinggian 3.500 dari permukaan laut. Kondisi tersebut membuat Honai didesain seperti rumah Iglo di kutub utara untuk menahan dingin.

Dari tampilannya, Honai memiliki filosofi mendalam. Rumah adat tradisional suku Dani ini adalah tempat generasi awal masyarakat pegunungan tengah Papua dilahirkan dan dibesarkan di satu perkampungan Honai. Di dalam perkampungan Honai, mereka belajar mengenai arti kehidupan dan hubungan antar manusia dengan alam dan juga dengan sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Rumah Honai terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai tempat tidur, dan lantai kedua untuk bersantai bersama keluarga, menyantap makanan dan tempat untuk mengerjakan kerajinan tangan. Struktur bangunan rumah adat suku Dani memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter.

Di bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun guna menghangatkan tubuh penghuninya manakala suhu udara dingin. Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5-10 orang. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga dari bambu. Para pria tidur di lantai dasar secara melingkar, sementara para wanita tidur di lantai satu.

Honai, tempat tinggal pria dewasa, berada sebelah kiri di kawasan perkampungan Honai Suku Dani di Anjungan TMII, Jakarta. Bentuk bangunan rumah adat ini lebih kecil daripada Honai Pilamo atau rumah adat tempat tinggal kepala suku. Foto : Sri Sugiarti.

Rumah Honai terbagi dari tiga tipe. Untuk kepala suku disebut Honai Pilamo. Untuk kaum laki-laki yang belum menikah disebut Honai, dan perempuan adalah Honai Ebei. Ada juga wamai adalah kandang babi yang ada di lingkungan perkampungan Honai. “Jadi, ada Honai khusus kepala suku, Honai untuk yang sudah berkeluarga, dan Honai bagi yang belum berkeluarga. Mereka yang masih lajang, antara wanita dan lelaki dipisah tinggalnya,” jelas Marlon.

Namun, ketika sudah menaungi bahtera rumah tangga, maka warga tersebut akan disatukan di dalam rumah adat Honai khusus keluarga. “Babi, bagi mereka memiliki harga jual yang tinggi, selain juga ada nilai sejarahnya,” tambah Marlon.

Di perkampungan Honai, tersaji tradisi bakar batu yang biasa dilakukan di halaman rumah adat suku Dani tersebut. Lagi-lagi tujuannya adalah untuk menghangatkan tubuh. Perkampungan Honai, Suku Dani sudah sejak lama berada di Kabupaten Jayawijaya.

Hingga kini, rumah Honai secara turun-temurun masih dibangun sebagai tradisi warisan leluhur yang terus dilestarikan. Ditampilkannya Honai di TMII bertujuan untuk memperkenalkan khazanah seni budaya Papua, kepada masyarakat luas. “Rumah Honai suku Dani ini warisan budaya Papua yang wajib diketahui pengunjung. Banyak turis yang datang ke anjungan ini begitu antusias tertarik akan keunikan Honai,” kata pria berusia 44 tahun tersebut.

Honai terdiri dari dua kata, yakni Hun yang berarti pria dewasa, dan Ai yang bermakna atau berarti rumah. Maka, Honai berarti rumah laki-laki dewasa. Namun, kaum perempuan juga mempunyai honai hanya saja dalam pengistilahannya berbeda. Yaitu, Ebei yang terdiri dari dua kata yakni Ebeai atau tubuh yang berarti kehadiran tubuh. Sedangkan kata Ai mengandung arti rumah.

Masyarakat suku Dani biasanya membicarakan pesta adat atau diskusi masalah apapun baik itu tentang kehidupan ekonomi, di Honai laki-laki dewasa. Adapun Honai dan Ebeai adalah juga digunakan sebagai tempat pendidikan ketrampilan. Lelaki dewasa dan beranjak dewasa diajarkan tentang banyak hal untuk persiapan menghadapi kehidupan masa depan. Kegiatan bagi kaum lelaki dewasa ini diadakan di Honai.

Sedangkan Honai Ebeai, khusus untuk kegiatan ketrampilan perempuan yang diajarkan oleh ibu-ibu. “Honai rumah adat suku Dani ini memiliki nilai filosofi, maka patut dijaga dan dilestarikan karena ini budaya warisan nenek moyang jangan sampai tergerus oleh zaman,” pungkasnya.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.