banner lebaran

Mengenal Rumah Adat Madura di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

205

JAKARTA – Mengunjungi Anjungan Jawa Timur di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), bagaikan membuka sejarah ilmu pengetahuan tentang khazanah budaya bangsa. Ihwal anjungan ini dibangun pun mendulang kisah menakjubkan.

Pemandu Anjungan Jawa Timur TMII, Munarno, mengatakan, anjungan ini dibangun selama 39 hari. Padahal saat itu, 26 anjungan provinsi daerah lainnya sudah selesai dibangun dan siap diresmikan.

Tapi, anjungan Jawa Timur masih berupa lahan kosong. Kemudian Pemerintah Daerah Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Muhammad Nur, bergerak cepat berkomitmen membangun anjungan ini agar bisa diresmikan bersamaan dengan 26 anjungan daerah lainnya. Demi mencapai target tanggal 20 April 1975 untuk diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Pemandu Anjungan Jawa Timur TMII, Munarno. Foto : Sri Sugiarti.

Waktu menuju tanggal itu tinggal 40 hari lagi. Maka, kata Munarno, pemikiran cerdas dikerahkan dengan semangat pelestarian budaya Jawa Timur.

Ragam rumah adat Jawa Timur harus ditampilkan di anjungan ini. Sedangkan waktu tidak memungkinkan jika bahan-bahan harus didesain lagi. Akhirnya, rumah-rumah adat itu dibawa langsung dari Jawa Timur.

Seperti infrastruktur bangunan yaitu kayu ukiran dan genteng beserta isi rumah adat dibawa ke Jakarta untuk ditancapkan atau dipasang langsung di area lahan anjungan Jawa Tengah. Fungsinya tetap sebagai rumah adat yang orisinil.

Suasana dalam rumah adat Sumenep di kawasan Madura Anjungan Jawa Timur TMII, Jakarta, Minggu (8/7/2018). Foto: Sri Sugiarti.

“Ya seperti rumah adat kawasan Madura. Di antaranya rumah adat Pamekasan, Bangkalan, dan Sumenep. Bangunan rumah adat tersebut asli dibawa langsung dari daerah tersebut, kemudian ditancapkan atau dipasang kembali di area anjungan Jawa Timur ini,” kata Cak Narno demikian sapaannya kepada Cendana News, Minggu (8/7/2018).

Dia menjelaskan, rumah adat Madura pada umumnya memiliki bentuk sama, yakni memanjang ke samping dengan ukiran-ukiran kayu dan permainan warna yang khas. Tergambar nuansa rumah adat Pamekasan dan Bangkalan, yang merupakan rumah tempat tinggal rakyat atau masyarakat.

Namun berbeda dengan rumah adat Sumenep yang memiliki bentuk minimalis kotak persegi dengan ukiran didominasi warna hijau, kuning, dan merah. Rumah ini menampilkan dua kamar yakni kamar ayah dan ibu.

“Ada Madura rakyat dan Madura Bangsawan. Rumah bangsawan adalah rumah adat Sumenep. Sedangkan rumah adat Pamekasan dan Bangkalan adalah rumah rakyat biasa yang ekonominya menengah,” jelasnya.

Sarjana ekonomi ini menjelaskan, bagian dalam rumah-rumah adat kawasan Madura ini memamerkan hasil kerajinan tangan masyarakatnya. Seperti kerajinan gerabah dari Sampang dan Bojonegoro, kerajinan kuningan dari Bondowoso, dan kerajinan ukir serta pahat kayu dari Sumenep.

Tersaji juga kerajinan alat musik kendang Sentul lengkap dengan miniatur tari tradisional Tayub Tulungagung. Juga dokumentasi kesenian gabungan bernama Gerebek Pancasila khas Jawa Timuran.

Di kawasan rumah adat Madura ini ditampilkan perahu tradisional yang menjadi simbol kehidupan nelayan, sebagian besar masyarakat di pesisir.

Di area ini, ada diaroma alat transportasi kretek atau dokar, tepatnya disamping rumah adat Sumenep.

Cak Narno menyebutkan, mungkin orang tidak percaya kalau anjungan Jawa Timur dengan ragam khazanah budaya seperti rumah-adat kawasan Madura bisa dihadirkan. Juga rumah adat Situbondo, Pacitan dan Ponogoro bisa ditampilkan di anjungan ini dengan ciri khas serta keunikannya.

Relief perjuangan khas arek-arek Suroboyo juga lengkap ada. Diaroma garapan sapi khas masyarakat Jawa Timur juga menghiasi halaman depan anjungan.

“Memang orang antara percaya dan tidak, tapi terbukti dalam waktu 39 hari anjungan Jawa Timur selesai dibangun dan bisa diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April bersama anjungan daerah lainnya. Alhamdulillah,” ucapnya.

Rumah adat Pamekasan di kawasan Madura di Anjungan Jawa Timur TMII. Foto : Sri Sugiarti.

Cak Narno mengaku bangga TMII telah memfasilitasi pemerintahan Jawa Timur untuk mempromosikan seni budaya Jawa Timur, termasuk rumah-rumah adat. Menurutnya, budaya adalah warisan adiluhung bangsa. Adiluhung bermakna nenek moyang yang senantiasa melestarikan dan mengembangkan budaya.

Maka, menurutnya, sudah menjadi kewajiban masyarakat Indonesia untuk melestarikan seni budaya daerah agar lebih dikenal tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional.

Cak Narno berharap generasi muda mencintai budaya Indonesia dan tidak tergerus budaya luar negeri.

“Indonesia ini kaya budaya, patut kita hargai dan lestarikan. Kalau kita cinta seni budaya berarti kita mencintai adiluhung bangsa,” pungkas pengamat kesenian dan budaya Jawa Timur ini.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.