Mengenali Rumah Alternatif Tahan Gempa

OLEH BUDI LAKSONO

193

INDONESIA dikepung oleh banyak bencana. Di antaranya gempa dan tsunami. Untuk itu, diperlukan antisipasi menghadapi sejumlah bencana tersebut. 

Salah satu bentuk antisipasi adalah pembuatan rumah alternatif bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area bencana. Rumah alternatif ini bisa disebut sebagai rumah tahan gempa.

Fakta menunjukkan, bencana tsunami dan gempa di Jogja/Jateng, misalnya, menghancurkan banyak sekali rumah rakyat. Maka, diperlukan dana dan waktu yang panjang untuk menyediakan rumah baru bagi mereka.

Hunian sementara seperti tenda sangat menolong mereka. Walaupun begitu, hidup dalam tenda sangat dibatasi oleh beberapa faktor seperti ketahanan tenda, psikologi penghuni, kenyamanan dan lain-lain.

Menciptakan rumah murah, cepat dan tumbuh sangat diperlukan terutama pada bencana Besar dimana ratusan hingga ribuan rumah rusak dan perlu pengganti. Dari dasar itulah, maka diusulkan pembuatan rumah cepat (dibuat dalam 6 jam oleh 6 orang biasa) murah (dana tak lebih 6 jutaan), bisa dikembangkan oleh penghuni.

Suasana pembuatan rumah alternatif tahan gempa – Foto Ist

Rumah tersebut beratap seng, dinding kayu, lantai semen, ukuran 4 x 5 m ruang dan 2 x 4 beranda. Rumah model ini pernah disumbangkan masyarakat Semarang kepada pengungsi di Desa Meunasah Bak-u, Leupung, Aceh Besar.

Berpaling dari pengalaman di Aceh, hampir dua tahun program berjalan, belum semua orang bisa dipindahkan dari tenda. Menunjukkan bahwa diperlukan pembuatan rumah yang cepat, murah tetapi memungkinkan penghuni mengembangkan rumahnya sesuai dengan kemampuan dan kesenangan.

Keterbatasan dana dan tenaga untuk mengerjakan serta kemungkinan terjadinya mark up pembuatan rumah membuat kemampuan membangun untuk semua rakyat terbatasi.

Penampungan pengungsi dalam barak menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan di Aceh. Bahkan ongkos untuk itu juga tidak murah, daripada memberi kesempatan masyarakat membangun rumahnya sendiri.

Pembangunan rumah sendiri mempunyai keuntungan karena orang akan menerima dan memelihara dengan baik rumahnya. Akan tetapi banyak orang khawatir akan biaya yang malah membengkak.

Pembuatan rumah pribadi sangat menguntungkan karena orang akan mempunyai rasa memiliki yang tinggi dan bisa mengembangkan rumahnya sesuai dengan keinginannya. Pada saat itu, pemerintah melepaskan pengembangan kepada pemilik. Dan secara kemanusiaan, pemerintah telah menyelesaikan tugas rehabilitasinya.

Dari dasar itulah maka setelah mengkaji pembuatan rumah bagi pengungsi, disusun pembuatan rumah kecil, tahan gempa, mudah, murah model AB. Model rumah ini diterima masyarakat di Aceh waktu PMI Kota Semarang yang menyalurkan dana masyarakat kota Semarang membuat rumah tersebut bagi mereka.

Bahkan hingga kini rumah ini berdiri kokoh di pantai barat Aceh di Desa Meunasah Bak’u.

RUMAH MODEL AB 
Rumah model AB adalah rumah papan ukuran 4 x 5 m meter. Beranda 2 x 4 m, atap seng. Lantai semen. Rumah ini bisa dibuat dalam waktu 6 jam oleh kelompok 6 warga penerima yang akan membangun satu persatu rumah mereka secara bergantian. 6 jam adalah pembuatan semua, termasuk pelantaian dan pemasangan seng.

Pembuatannya relatif mudah sehingga dengan melihat demonya saja setiap warga bisa langsung membuatnya sendiri. Untuk itu mereka akan diperlihatkan demo pembuatan 1 rumah oleh instruktur dan kemudian mereka membuat sendiri dengan supervisi saja.

Rumah ini tahan gempa karena ringan dan pada setiap sisi menggunakan penyilang sehingga menjadikan dinding kokoh dan rigid. Rumah ini tidak besar karena sebagai hunian cepat, tetapi sangat memungkinkan dikembangkan oleh penghuni menjadi sesuai yang diperlukan.

Bahkan pembangunan ini menggunakan metode community self development sehingga menjamin 100% rumah dibangun tanpa korupsi.

Manfaat pembangunan ini akan bisa dirasakan bagi masyarakat secara langsung. Keberadaan rumah akan mempercepat proses rehabilitasi fisik dan moral masyarakat korban tsunami. Bagi pemerintah program ini akan sangat membantu terutama menyetting bagaimana membangun rumah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan murah sehingga pemenuhan kebutuhan akan lebih cepat menjangkau seluruh masyarakat. ***

Budi Laksono, dosen dan praktisi manajemen bencana pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang.

Redaksi menerima tulisan opini dengan tema tidak mengandung SARA dan memperkukuh tegaknya kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

 

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.