Menguatnya Dolar AS Berdampak Melemahnya Fundamental Ekonomi

220
Rupiah, ilustrasi -Dok: CDN
PADANG – Anggota DPR RI daerah pemilihan Sumatera Barat, Hermanto, mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis dan taktis, guna mengatasi melemahnya nilai Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Terus melemahnya nilai Rupiah akan mengakibatkan pelarian modal ke luar negeri dan menurunnya pertumbuhan ekonomi. Karena itu, harus ada upaya konkret mengatasinya,” kata dia, di Padang, Senin (9/7/2018).
Menurut dia, Bank Indonesia memang telah mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan atau 7 days reverse repo rate.
“Namun kebijakan tersebut parsial dan jangka pendek, harus disertai dengan kebijakan yang komprehensif dan berjangka panjang, guna memperkuat fundamental ekonomi nasional,” kata doktor ekonomi lulusan IPB ini.
Ia mengingatkan, perlunya diwaspadai penggunaan modal asing untuk pembiayaan infrastruktur dengan pengembalian jangka panjang, sementara pengembalian modal plus bunga bersifat jangka pendek.
“Ini bisa berakibat terganggunya likuiditas keuangan negara dan sama sekali tidak mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat,” katanya.
Ia mengatakan, semakin menguatnya nilai Dolar AS yang disertai dengan defisit neraca perdagangan berdampak pada semakin besarnya Rupiah yang diperlukan untuk menanggung beban utang asing.
“Kondisi ini akan memberatkan keuangan negara dalam menopang pembiayaan-pembiayaan dalam negeri, dan bila terus berlanjut, akan berakibat semakin lemahnya fundamental ekonomi,” katanya.
Lebih jauh, dia menyampaikan, situasi politik dan kepemimpinan nasional menghadapi Pemilu dan Pilpres 2019 juga mempengaruhi melemahnya nilai Rupiah, karena pihak asing khawatir dan bersiaga, sehingga setiap saat bisa menarik investasi dan memindahkan ke negara lain.
“Saat ini, diperlukan konsolidasi kepemimpinan nasional yang solid untuk menjaga kepercayaan asing. Namun hal ini sulit direalisasikan, karena kompetisi menjelang pemilu dan pilpres sudah terlanjur tajam,” kata dia.
Hermanto berpendapat, ada satu upaya yang bersifat ideologis dan nonekonomi yang bisa dilakukan, yaitu menguatkan dan menumbuhkan nasionalisme anak bangsa untuk cinta pada Rupiah, dan mengonsumsi produk dalam negeri.
“Untuk mewujudkan nasionalisme yang kuat, diperlukan kepemimpinan nasional yang kuat dan keteladanan negarawan yang mumpuni, sehingga dapat menyatukan anak bangsa yang dengan itu otomatis mampu memperkuat ekonomi nasional”, tuturnya.
Ia menambahkan, dengan kepemimpinan nasional yang kuat disertai dukungan penuh dari rakyat dan struktur pemerintahan yang solid, kebijakan ekonomi dapat berjalan dengan baik. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...