Meski dalam Keterbatasan, MI Nurul Hidayah Tetap Gratiskan Seragam Sekolah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

218
Orangtua murid MI Nurul Hidayah mengikuti rapat penerimaan peserta didik baru [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG — Memberikan kesempatan kepada warga yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan, Sekolah madrasah di desa Padan yang terletak di kaki Gunung Rajabasa, MI Nurul Hidayah menggratiskan seragam sekolah untuk murid baru.

Dra. Siti Nurjanah kepala sekolah MI Nurul Hidayah menyebutkan, beberapa keperluan sekolah yang dibagikan gratis di antaranya seragam batik, merah putih, hijab, pramuka, baju olahraga, tas lengkap dengan alat tulis.

“Semua peralatan sekolah tersebut dibagikan secara gratis kepada murid baru. Pembagian tersebut dilakukan melihat kondisi ekonomi orangtua yang bahkan untuk kebutuhan sehari hari masih harus dipenuhi dengan memungut cokelat,” sebut Siti Nurjanah saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (12/7/2018).

Sebagian murid MI Nurul Hidayah [Foto: Henk Widi]
Dra. Siti Nurjanah kepala sekolah MI Nurul Hidayah menyebut minat orangtua menyekolahkan anaknya di MI masih cukup tinggi. Tercatat saat ini ada 10 murid baru yang akan menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Sebagian besar murid yang bersekolah di MI Nurul Hidayah diakui Siti Nurjanah merupakan murid tidak mampu. Bahkan sebagian murid yang masuk tidak memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Meski demikian, secara nyata bisa melihat kondisi orangtua murid yang hanya bekerja sebagai buruh tani atau tidak memiliki lahan sendiri. Sebagai upaya agar murid tetap bersekolah pihak sekolah menyediakan pakaian seragam yang tidak bisa dibeli oleh orangtua.

“Saat rapat penerimaan peserta didik baru sudah kami sampaikan agar orangtua tidak khawatir terkait seragam karena sudah kami sediakan, sehingga orangtua tidak perlu membeli seragam,” terangnya.

Pada tahun ini ia menyebut jumlah murid pada tahun ajaran baru 2018/2019 dibanding tahun sebelumnya terbilang lebih sedikit. Sebagian kelas diakuinya khusus untuk murid kelas 6 dan 3 serta kelas 5 dan 4 terpaksa disekat sementara untuk kelas 2 harus belajar di lorong. Keterbatasan lokal sekolah membuat MI Nurul Hidayah berencana membuat bangunan baru di bagian belakang sekolah dengan konsep sekolah alam.

Salah satu orangtua bernama Karmila yang memasukkan anak bernama Anisa Sentiawati menyebut menyekolahkan anaknya di MI Nurul Hidayah karena berasal dari Kedaung. Memiliki suami bernama Samsul yang bekerja sebagai tukang ojek dan dirinya sebagai buruh tani dengan penghasilan hanya kebutuhan untuk sehari hari.

Memasukkan anak kedua yang masuk ke MI Nurul Hidayah ia menyebut senang karena saat diterima sebagai murid baru mendapatkan peralatan sekolah gratis.

“Selain lokasinya dekat saya ingin anak saya sekolah dengan dasar pendidikan agama sehingga saat lulus bisa mengenal Alquran dan shalat,” papar Karmila.

Lihat juga...

Isi komentar yuk