Minat Sekolah ke Boarding School Meningkat

Editor: Mahadeva WS

719

YOGYAKARTA – Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah berasrama (boarding school) di musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) saat ini meningkat. 

Meski dari sisi biaya jauh lebih mahal dari sekolah pada umumnya, pendidikan komprehensif yang memadukan ilmu umum dan ilmu agama, menjadi pertimbangan utama para wali murid atau orang tua menyekolahkan anaknya ke boarding school. Seperti yang terlihat di salah satu sekolah berasrama rujukan di kota pendidikan, Pondok Pesantren Modern, Muhammadiah Boarding School (MBS) Yogyakarta.

Berdiri sejak 2008 silam, jumlah siswa yang mengenyam pendidikan di MBS Yogyakarta diketahui terus meningkat. Untuk PPDB di 2018, MBS Yogyakarta menerima 800 siswa baru. Siswa terbagi dalam 12 rombongan belajar (kelas) untuk tingkat SMP dan 8 kelas untuk tingkat SMA.

Total siswa di MBS Yogyakarta sendiri saat ini mencapai 2.000 siswa lebih. Jumlahnya meningkat dibandingkan 2016 lalu yang hanya sekitar 1.700 siswa.  “Setiap tahun jumlah santri kita terus meningkat. Dari sekitar 800 kursi yang kita buka, jumlah pendaftar selalu diatas 1.500 siswa. Karena itu kita melakukan proses seleksi PPDB sejak setahun sebelumnya. Jadi siswa tahun ajaran 2017/2018 sudah mendaftar dan diterima tahun sebelumnya. Sedangkan tahun 2018 ini kita buka PPDB untuk siswa yang masuk tahun 2019 mendatang,” ujar Kabag Humas MBS Yogyakarta, Nadia Ditasari.

Nadia mengatakan, siswa yang masuk ke MBS Yogyakarta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan luar negeri. Baik yang berasal dari sekolah formal seperti SD dan SMP ataupun sejumlah pondok pesantren. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, setiap siswa yang masuk ke boarding school harus memenuhi persyaratan tertentu. Baik itu tes tulis akademik maupun tes baca Al-Quran hingga tes bahasa Arab.

“Untuk santri jenjang SMA wajib bisa berbahasa Arab. Namun untuk siswa bukan lulusan pondok, tapi sekolah formal seperti SMP, boleh tidak bisa berbahasa Arab. Namun harus masuk kelas khusus Takhasus terlebih dahulu,” jelasnya.

Seperti sekolah formal pada umumnya, proses pembelajaran di boarding school tetap mengikuti kurikulum nasional yang ditetapkan pemerintah melalui kementerian pendidikan. Baik itu kurikulum 2013 maupun kurikulum 2006 yang biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Para siswa di boarding school ini juga tetap mengikuti Ujian Nasional (UN) seperti siswa SMP SMA pada umumnya.

“Jadi kita menerapkan dua kurikulum sekaligus. Yakni kurikulum nasional dan kurikulum pondok. Sehingga seimbang antara ilmu akademik dan ilmu agama. Karena memang itu tujuan kita, tidak hanya membentuk santri yang memiliki ilmu pengetahuan saja, tapi juga akhlak dan akidahnya,” tuturnya.

Salah seorang orang tua/wali murid, yang memiliki Boarding School, Nur Avia – Foto: Jatmika H Kusmargana

Salah seorang wali murid, Nur Avia asal Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, menyebut, menyekolahkan kedua anaknya ke sekolah berasrama atau boarding school karena pertimbangan sistim pendidikan yang diajarkan. Ia menilai lulusan boarding school memiliki keunggulan yang tidak dimiliki sekolah formal biasa.

“Pertama karena anak memang minat. Kedua saya lihat anak lulusan boarding school memiliki nilai lebih. Ya lebih mandiri, lebih bagus akhlak kepribadiannya. Di zaman dengan teknologi luar biasa seperti inikan rawan untuk anak. Dan dengan sekolah di boarding school mereka diajarkan untuk ngerem,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...