Misi Aisyiyah Sama Dengan Tugas Diplomat Indonesia

Editor: Mahadeva WS

259
Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno LP Marsudi - foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Ada dua kesholehan yang dimiliki Muhammadiyah maupun Aisyiyah yang berhimpitan dengan tugas para diplomat Indonesia. Yakni, kesholehan sosial di bidang kemanusiaan dan perdamaian.

“Dua kesholehan sosial ini telah dilakukan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Kalau melihat diplomasi Indonesia selama ini, maka akan melihat salah satu kekuatan kita dalam pelaksanaan politik luar negeri dalam bidang kemanusiaan dan perdamaian,” jelas Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno LP Marsudi, Selasa (10/7/2018).

Menurut Retno, Dirinya melakukan banyak kerja sama dengan Aisyiyah maupun Muhammadiyah. Termasuk mengenai women impowerment. Di bidang kemanusiaan, Indonesia telah melakukan kerjasama yang sangat erat dengan para stakeholder termasuk Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Sebagai contohnya, adalah kegiatan membantu warga Rohingya yang terpaksa mengungsi dari Myanmar ke Bangladesh. Sementara sebagai organisasi Aisyiyah dan Muhammadiyah berusaha menggabungkan semua yang dimiliki untuk membantu masalah kemanusiaan.

Termasuk dalam hal membantu warga Rohingya yang tidak beruntung. “Sehingga semua mensinergikan apa yang dimiliki untuk mencapai hasil yang baik dalam upaya menjunjung tinggi kemanusiaan. Indonesia selalu dimintai pendapat setiap kali berdiskusi tentang masalah di Myanmar,” jelas Retno.

Selain itu, telah banyak hal yang dilakukan untuk Palestina. Sementara dari aspek politik internasional, dukungan Indonesia ke Palestina selalu menjadi prioritas politik luar negeri. “Sedangkan dari aspek kemanusiaan, banyak juga hal yang dapat kita lakukan. Antara lain memberikan capacity building untuk saudara-saudara kita di Palestina banyak sekali yang kita lakukan, yang dari segi program sudah ratusan,” paparnya.

Retno menyebut,  Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina telah didirikan. Selain itu, Indonesia juga memiliki enam sekolah dan sedang membangun RS Indonesia di Myanmar. Dan, belum lama ini Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan ulama Indonesia, Afghanistan dan Pakistan.

Pertemuan tersebut untuk memberikan ruang kepada ulama untuk dapat berkontribusi terhadap upaya perdamaian di Afghanistan. “Ini merupakan kesalehan sosial di bidang perdamaian. Dan, kalau kita bicara perdamaian di Afghanistan, semua orang tahu,  bahwa tidak mudah untuk mencapai perdamaian tersebut,” tegas Retno.

Baca Juga
Lihat juga...