Museum Basoeki Abdullah Ruang Publik Peminat Seni

Editor: Makmun Hidayat

266
Dra. Maeva Salmah, M.Si., Kepala Museum Basoeki Abdullah - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Museum Basoeki Abdullah terus berbenah sebagai ruang publik dengan bersinergi bersama para peminat seni mengadakan berbagai kegiatan, seperti lomba, seminar, workshop, pameran, lokakarya, lokawisata.

Kali ini Museum Basoeki Abdullah bersinergi dengan Komunitas 22 Ibu, menggelar pameran nasional ‘Narasi Mitos & Legenda Indonesia dalam Ekspresi Batik Tamarin’ yang berlangsung dari 27 Juli sampai 10 Agustus 2018.

Maeva Salmah, selaku Kepala Museum Basoeki Abdullah yang menjabat sejak Agustus 2017, menyebut kegiatan di Museum Basoeki Abdullah sekarang cukup banyak. Ada lomba, seminar, workshop, pameran, lokakarya, lokawisata, dan lain-lain.

Pameran dari Komunitas 22 Ibu ini, kata Maeva, memanfaatkan ruang publik yang dimiliki Museum Basoeki Abdullah.

“Jadi di era kita sekarang ini Museum Basoeki Abdullah membuka ruang publik untuk para seniman, komunitas seni, sanggar seni, yang dimaksudkan agar masyarakat bisa mengapresiasi Museum Basoeki Abdullah,” tutur Maeva kepada Cendana News di Museum Basoeki Abdullah, Jl. Keuangan Raya No. 19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dengan membuka ruang publik museum, kata Maeva, artinya pemerintah dengan masyarakat bersinergi.

“Mereka merasakan kehadiran negara dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki negara di Museum Basoeki Abdullah, karena museum (ini) milik pemerintah,” ucapnya mantap.

Menurut perempuan yang sebelumnya bekerja di Direktorat Kesenian sebagai Kepala Seksi Seni Rupa Murni periode 2012-2017, itu mengatakan sebelum menjadi museum, pada tahun 1993 Basoeki Abdullah berwasiat melalui notaris Neneng Samiah agar rumah kediamannya beserta lukisan dihibahkan kepada negara.

“Pada tahun 1993 kita tahu Pak Basoeki Abdullah meninggal, dan kemudian tahun 2001 rumah kediaman Pak Basoeki Abdullah diproses untuk dijadikan museum, tepatnya pada tanggal 25 September 2001,” tuturnya.

Maeva menyebut Museum Basoeki Abdullah pada saat dihibahkan mempunyai 123 lukisan, 720 koleksi pribadi, dan 300 buku milik pribadi Basoeki dari berbagai bahasa.

“Di samping melukis, Pak Basoeki juga gemar membaca,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata Maeva, Basoeki Abdullah juga pintar menari tarian Ramayana. “Jadi Pak Basoeki Abdullah itu multitalenta,” tegasnya.

Harapan Maeva ke depan, Museum Basoeki Abdullah lebih dikenal, tidak hanya nasional, tapi juga di dunia internasional.

“Sosok Basoeki Abdullah itu punya nama di dunia internasional, seorang maestro yang dimiliki bangsa Indonesia,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...