Musim Kemarau, Bantu Produsen Batu Bata Atasi Pengeringan

Editor: Satmoko Budi Santoso

181

LAMPUNG – Sejumlah produsen batu bata di kecamatan Palas dan Penengahan terbantu oleh kondisi musim kemarau.

Tibanya musim kemarau membuat produsen batu bata bisa lebih cepat melakukan proses pengeringan batu bata pascadicetak.

Tukino (53) salah satu pembuat batu bata di Dusun Simpang Plabuh Desa Sukaraja mengungkapkan, bisa lebih cepat dibandingkan saat musim hujan. Selama satu hari proses pengeringan pascadicetak batu bata bahkan sudah bisa disimpan di lokasi penumpukan sebelum dibakar.

Sebelumnya, saat pembuatan batu bata selama musim hujan, Tukino menyebut, membutuhkan waktu empat hari untuk proses pengeringan. Pengeringan secara alami disebutnya bahkan terpaksa harus ditutup menggunakan plastik menghindari hujan tiba-tiba turun.

Sainah, salah satu pembuat batu bata dengan mesin di Desa Belambangan Kecamatan Penengahan Lamsel [Foto: Henk Widi]
Biaya yang dikeluarkan saat musim hujan bahkan bisa lebih banyak untuk membeli plastik serta penggunaan waktu lebih lama. Proses pembuatan batu bata jenis tubruk disebutnya dikerjakan manual satu cetakan sebanyak 10 batu bata.

“Penghematan waktu dan biaya akan diperoleh saat musim kemarau karena pengeringan mengandalkan sinar matahari sebelum batu bata dibakar,” terang Tukino, salah satu produsen batu bata di desa Sukaraja kecamatan Palas, saat ditemui Cendana News, Selasa (24/7/2018).

Musim kemarau juga, diakuinya, membuat Tukino yang dibantu sang anak mudah memperoleh kayu sebagai bahan untuk pembakaran batu bata. Kayu tersebut di antaranya diperoleh dari pelepah pohon kelapa serta sekam dari limbah penggilingan padi.

Selain itu ia mudah memperoleh kayu bakar dari sejumlah penjual kayu untuk pembakaran batu bata. Kayu bakar dibeli dari pengepul seharga Rp420 ribu untuk ukuran kendaraan colt diesel dan sekam dengan harga Rp5000 per karung.

Meski mudah dalam proses pengeringan dan memperoleh bahan baku untuk pembakaran batu bata, saat musim kemarau Tukino justru terkendala pasokan air. Tinggal berada di lokasi yang sulit air membuat ia tetap harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan adukan air.

Air sangat diperlukan untuk proses penghalusan tanah. Satu mobil colt diesel L300 ia harus mengeluarkan biaya untuk sebanyak 14 drum air berisi sekitar 100 liter air. Tanah bahan batu bata dibeli untuk ukuran satu kendaraan L300 seharga Rp50.000 dengan kebutuhan dua kendaraan untuk per seribu batu bata.

Batu bata yang sebagian sudah dibakar siap dibongkar untuk dikirim ke pembeli [Foto: Henk Widi]
“Air digunakan untuk menghaluskan tanah dengan mesin molen terpaksa harus dibeli karena air sumur dihemat untuk keperluan sehari-hari,” papar Tukino.

Tukino menyebut, sebelumnya ia mendapat pesanan batu bata sebanyak 20.000 buah dengan harga per seribu batu bata dijual Rp330.000. Harga tersebut diakuinya lebih murah dibandingkan tahun 2016 dengan harga Rp370.000 per seribu batu bata.

Kenaikan harga batu bata bahan bangunan terjadi pasca proses pembebasan lahan untuk pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) terutama bagi warga yang rumahnya tergusur. Pembuatan bangunan baru yang mulai berkurang pada tahun 2018 membuat harga batu bata kembali normal di harga Rp330.000 per seribu batu bata.

“Saat musim kemarau proses pengeringan memang lebih cepat namun tentunya pasokan air sulit harus kami beli karena jauh dari sungai,” beber Tukino.

Kondisi musim kemarau yang menguntungkan untuk proses pengeringan, merugikan untuk kebutuhan air, diakui Sainah (50) pembuat batu bata di desa Belambangan kecamatan Penengahan.

Pembuat batu bata tanah merah menggunakan mesin tersebut mengaku bisa memproduksi batu bata sebanyak 5000 buah per hari. Kendala pasokan air juga diakui Sainah dampak dari musim kemarau berimbas air harus dibeli dengan tangki.

“Permintaan akan batu bata masih tetap lancar hanya saja kendala pasokan air harus dibeli, sehingga biaya operasional untuk air lebih banyak,” terang Sainah.

Air yang sudah dibeli, disebut Sainah, ditampung dalam kolam terpal tebal dengan sistem menggunakan tangki. Satu tangki air yang disedot dari sungai menyesuaikan jarak berisi sekitar 5000 liter dibeli dengan harga Rp250 ribu.

Selain bisa dipergunakan untuk proses penghalusan tanah bahan pembuatan batu bata, air dipergunakan untuk mencuci peralatan dan mesin pembuat batu bata.

Meski harus membeli air, Sainah menyebut, pembuat batu bata lebih cepat melakukan pengeringan. Setelah dikeringkan selama satu hari, batu bata bisa dipindah ke tobong atau lokasi pembakaran batu bata. Demi efisiensi penggunaan kayu bakar yang harus dibeli, pembakaran baru akan dilakukan saat batu bata mencapai lebih dari 50.000 buah.

Pembeli kerap sudah datang ke tobong sepekan sebelum batu bata dibakar sehingga sepekan pascadibakar batu bata bisa dikirim ke konsumen.

Baca Juga
Lihat juga...