Musim Kemarau, Pengaruhi Produksi dan Turunkan Harga TBS Sawit

Editor: Satmoko Budi Santoso

249

LAMPUNG – Musim kemarau yang mulai melanda wilayah Lampung berimbas pada penurunan produksi tanaman perkebunan jenis kelapa sawit.

Usman, salah satu pemilik kebun sawit di desa Kelaten kecamatan Penengahan menyebut, harga tandan buah sawit segar (TBS) sawit sempat berada di level Rp1.700 per kilogram. Harga tersebut terjadi pada awal tahun 2018, selanjutnya mulai mengalami penurunan pada level Rp1.000 per kilogram.

Penurunan harga TBS sawit, diakui Usman, bersamaan dengan penurunan produksi kelapa sawit yang sebagian memasuki usia enam tahun lebih. Harga TBS sawit yang sempat bertengger pada angka Rp950 per kilogram pada masa panen bulan Juni bahkan kembali anjlok pada bulan Juli seharga Rp700 per kilogram. Penurunan hingga Rp1.000 sejak awal tahun diakuinya cukup merugikan bagi petani sawit seperti dirinya.

TBS sawit dikumpulkan menunggu kendaraan yang akan mengangkut ke pabrik pengolahan sawit menjadi minyak goreng [Foto: Henk Widi]
Pada bulan Juli Usman memastikan, memanen sekitar satu ton TBS sawit atau memperoleh hasil sebesar Rp7 juta. Padahal sebelumnya bisa mendapat Rp9 juta. Meski harga TBS sawit anjlok, ia menyebut, tidak bisa menyimpan hasil panen kelapa sawit yang dimiliki. Memiliki lahan sekitar dua hektar, ia menyebut, panen harus segera dilakukan tiga hari sebelum pengepul mendatangi kebun miliknya.

“Kami sudah mulai bisa memanen sawit setengah bulan sekali, jika kondisi cuaca musim penghujan. Namun musim kemarau membuat produksi menurun dan buah yang dipanen hanya sebagai penyelang,” terang Usman, saat ditemui Cendana News, tengah melakukan proses pemanenan sawit miliknya, Jumat (20/7/2018).

Usman menyebut, tetap mempertahankan tanaman sawit miliknya, karena masih bisa memberikan penghasilan di samping pekerjaannya sebagai karyawan. Pada musim kemarau, ia menyebut, buah sawit yang dihasilkan lebih sedikit seiring dengan musim trek daun.

Kondisi musim kemarau seperti tahun sebelumnya, diakui Usman, bahkan dipergunakan untuk mengurangi sejumlah lahan sawit yang kering.

Petani sawit di desa Baktirasa kecamatan Ketapang juga mengakui hal yang sama terkait anjloknya harga TBS sawit. Sumari, salah satu petani sawit di desa setempat mengaku dalam satu TBS sawit saat kondisi normal, bisa menghasilkan 8-10 kilogram.

Namun masa panen penyelang dengan pasokan air yang kurang berimbas produksi sawit hanya berkisar 5-8 kilogram. Kemampuan produksi buah yang berkurang diakuinya terjadi karena pohon masih fokus mempertahankan diri dari kekeringan.

“Penurunan produksi setiap pohon memang wajar karena masa kemarau justru menjadi masa bertahan dari kekeringan, mau berbuah saja sudah lumayan,” papar Sumari.

Sumari menyebut, di tingkat pengepul, harga TBS sawit masih dijual sekitar Rp1.200 per kilogram lebih rendah dari sebelumnya, sempat mencapai Rp1.700. Selisih Rp500, diakuinya dipergunakan untuk biaya operasional pengangkutan.

Sebab sebagian besar lahan sawit, diakui Sumari, kerap berada jauh dari jalan raya sehingga membutuhkan ojek angkut TBS sawit. Ongkos ojek tersebut kerap dibebankan dalam potongan harga sehingga di level petani TBS sawit terus anjlok, bersamaan dengan penurunan produksi.

Sebagai upaya meningkatkan produksi sawit setelah musim kemarau, Sumari dan sejumlah petani sawit kerap mempergunakan pupuk organik. Pupuk organik berupa kotoran ternak sapi yang sudah dicampur dengan pupuk organik cair ditaburkan di sekitar tanaman sawit bersama dengan dolomit.

Pemberian pupuk untuk memenuhi nutrisi sehingga saat musim hujan pupuk bisa terserap. Berada di tepi sungai juga menguntungkan bagi Sumari dengan melakukan penyedotan air untuk mengairi lahan sawit yang dimiliki saat kemarau.

Baca Juga
Lihat juga...