Nasib Penjual Mainan Tradisional di Bali

Editor: Satmoko Budi Santoso

411

DENPASAR – Mansyur merupakan salah seorang dari penjual mainan anak-anak tradisional yang masih bisa temui di Kota Denpasar, Bali. Pria asal Lombok Timur, NTB, masih bertahan dengan profesi tersebut selama kurang lebih lima tahun.

Meskipun ia berjualan di tengah-tengah gempuran mainan anak modern, seperti mobil remote control, play station, dan lain sebagainya.

Mansyur menjual mainan tradisional berupa kitiran dan trotokan atau sorongan, serta hewan-hewanan (ayam, ikan lele, kupu-kupu, tikus, buaya dan lainnya), yang terbuat dari bahan daur ulang sampah seperti kertas dan plastik.

Berbagai jenis mainan tradisional berupa kitiran dan trotokan atau sorongan, serta hewan-hewanan (ayam, ikan lele, kupu-kupu, tikus, buaya dan lainnya) yang sudah jarang ditemui.-Foto: Sultan Anshori.

Untuk kerajinan tersebut ia tidak membuatnya sendiri, melainkan ia pasok dari pengepul dari orang Jawa yang memang sewaktu-waktu datang ke Bali. Khususnya di Kota Denpasar dengan membawa serta banyak mainan sejenis.

“Satu mainan ini saya ambil dari pengepul mulai dari harga Rp2 ribu hingga Rp3500, Mas,” ucap Mansyur, saat ditemui waktu menjajakan barang dagangan di Jalan Tengku Umar Denpasar, Selasa (31/7/2018).

Setelah itu, ia kembali menjual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Mansyur mengaku, penjualan mainan tradisional ini sebenarnya sudah sepi, bahkan bisa dikatakan tidak laku di pasaran karena anak zaman sekarang tidak mengenal lagi mainan tersebut.

Menurutnya, mainan anak-anak tradisional seperti ini sudah tergantikan oleh gadget dan kecanggihan teknologi, mainan tradisional saat ini kurang diminati. Namun, Mansyur masih terus menjajakan, meski keuntungan sedikit atau bahkan tidak ada karena jarang laku.

“Sehari paling banyak laku rata-rata lima buah, Mas, tapi jarang itu,” imbuh Mansyur.

Mansyur sebelumnya pedagang tipat cantok khas Lombok, namun karena keterbatasan biaya akhirnya ia memilih menjual mainan ini meski keuntungan tidak seberapa yang ia dapat.

Sehari-hari ia menjajakan barang dagangannya di sekitar Rumah Sakit Sanglah, Kota Denpasar. Ia berharap ke depan mainan ini dibantu dipromosikan oleh pihak pemerintah agar mainan ini masih bisa terus dikenal oleh anak-anak.

Sekedar informasi, Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah merupakan sentra produksi pembuatan mainan tradisional berupa kitiran dan trotokan atau sorongan, serta hewan-hewanan (ayam, ikan lele, tikus, buaya dan lainnya). Hampir semua warga desa berprofesi sebagai perajin mainan tradisional anak-anak ini.

Baca Juga
Lihat juga...