banner lebaran

Nelayan Diimbau tak Dekati Gunung Anak Krakatau

Editor: Koko Triarko

264
LAMPUNG – Ketua Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargo Pancuran, Desa Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suardi, membenarkan telah terjadinya erupsi kecil gunung berapi di Selat Sunda, Lampung Selatan, tersebut, Rabu (11/7) malam.
Namun demikian, kata Andi Suardi, akibat kondisi gelap, secara visual asap dan kolom abu dari kubah GAK tidak jelas teramati menggunakan teropong.
Sebelumnya, ia mengakui jika erupsi juga terjadi pada Senin (25/6), dengan kolom abu teramati sekitar 1.305 meter.
Andi Suardi, Ketua Pos Pengamatan GAK di Desa Hargo Pancuran, Desa Rajabasa, Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Menurutnya, pengamatan visual dilakukan oleh petugas pos pantau, untuk melihat kondisi terkini aktivitas GAK, termasuk kegempaan yang dicatat menggunakan seismograf.
Terkait erupsi kecil tersebut, ia pun mengimbau agar nelayan tidak melakukan aktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Meski aktivitas terpantau normal, nelayan tidak diperkenankan mendekat dalam radius satu kilometer, memperhitungkan faktor keselamatan,” terang Andi Suardi, Kamis (12/7/2018).
Andi Saurdi juga mengatakan, imbauan bagi nelayan tersebut telah dilakukan sejak lama, ketika terjadi erupsi GAK pada 2 September 2012. Selain bagi nelayan, sejumlah aktivitas di sekitar GAK juga dilarang, dan berada di bawah pengawasan Seksi Konservasi Wilayah III Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung. Sebab, kawasan GAK merupakan  kawasan cagar alam dan pendidikan, berkaitan dengan geologi, biologi, vulkanologi.
Sementara itu, berdasarkan data dari laman resmi Magma Indonesia Kementerian ESDM, diketahui visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar dari CCTV. Kondisi ombak laut yang dalam tenang dan terdengar dentuman terpantau dari laman https://magma.vsi.esdm.go.
id.
Magma Indonesia merupakan aplikasi yang menyajikan informasi dan rekomendasi secara real time, mengenai kebencanaan geologi di Indonesia.
Gunung Krakatau yang merupakan salah satu gunung api di tengah laut dengan ketinggian 305 meter di atas permukaan laut, pernah meletus sebanyak 99 kali, amplitudo 18-54 mm dengan durasi antara 20-102 detik. Selain itu, hembusan sebanyak 197 kali dengan amplitudo 3-35 mm berdurasi 16-93 detik.
Tremor nonharmonik sebanyak dua kali, amplitudo 2-7 mm, tremor harmonik berjumlah dua dan amplitudo antara 4-5 mm. Gempa vulkanik dangkal terjadi 32 kali, dengan status Gunung Anak Krakatau ditetapkan masih Level II atau Waspada.
Sementara itu, salah satu nelayan di Pantai Belebuk, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Solihin, mengaku tetap beraktivitas seperti biasa, meski tetap memperhatikan imbauan, agar tidak mendekat ke sekitar Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, demi keamanan.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.