Nelayan Lamsel Tetap Nekat Melaut

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

137

LAMPUNG — Kondisi perairan wilayah Lampung Selatan pasca erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) serta gelombang tinggi membuat pihak berwenang mengimbau nelayan untuk tidak melaut. Namun karena butuh biaya hidup, sebagaian mengabaikan imbauan tersebut.

Suminto (30) salah satu nelayan warga Desa Maja Kecamatan Kalianda menyebut dirinya masih tetap melaut meski terjadi gelombang pasang saat bulan Purnama.

Agar terhindar dari bencana, lokasi penangkapan ikan pun dipilih di dekat pulau kecil Sebuku, sehingga bisa berlindung saat terjadi angin kencang dan gelombang tinggi.

“Bagi nelayan tangkap melaut menjadi pekerjaan utama kalau berhenti kami tidak memiliki penghasilan, kuncinya tetap memperhatikan faktor keselamatan serta membawa pelampung,” terang Suminto salah satu nelayan tangkap saat ditemui Cendana News di pantai desa Maja kecamatan Kalianda, Minggu (29/7/2018).

Suminto juga menyebut masih tetap memperhatikan prakiraan cuaca di wilayah perairan setempat dari laman Stasiun Meteorologi Maritim Lampung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Pada prakiraan cuaca yang akan berlaku dua hari ke depan ia menyebut diperkirakan tinggi gelombang dapat mencapai 2-3 meter di Selat Sunda Selatan dan Perairan Barat Lampung. Tinggi gelombang juga bisa mencapai 3-4 meter di Samudera Hindia Barat Lampung sehingga tetap berhati-hati.

Suminto mengaku nelayan di wilayah tersebut sedikit terbantu dengan keberadaan gugusan kepulauan Krakatau. Pasalnya pulau Sebesi, pulau Sebuku, pulau Panjang, pulau Sertung dan pulau San Tiga kerap menjadi perlindungan gelombang besar dan angin dari perairan Samudera Hindia.

Berkat benteng alam tersebut gelombang tidak separah seperti yang terjadi di wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara dalam beberapa hari terakhir.

“Kami juga sempat kuatir adanya informasi cuaca buruk namun jika melihat kondisi di laut bersahabat kami putuskan melaut,” beber Suminto.

Pedagang ikan menjual lebih sedikit dibandingkan hari biasa akibat banyak nelayan tidak melaut [Foto: Henk Widi]
Berbeda dengan Suminto dan sejumlah nelayan tangkap lain, sejumlah pemilik bagan apung di wilayah Kalianda sebagian memilih meminggirkan bagan.

Sobri (40) salah satu pemilik sengaja menepikan bagan di tepi dermaga Kalianda menghindari terbawa arus.

Biaya pembuatan yang mencapai puluhan juta disebutnya menjadi alasan nelayan menepikan bagan terbuat dari bambu, kayu dan pelampung drum untuk dibawa ke tepi.

“Kalau tidak ditepikan takut terbawa arus bahkan bisa tenggelam kerugian bisa sangat banyak,” beber Sobri.

Sementara itu, Ibnu (40) nelayan setempat mengaku hasil tangkapannya menurun hingga 50 persen. Biasanya dalam sekali melaut ia mampu memperoleh ikan hingga 100 kilogram.

“Saat omohanya mendapatkan tangkapan sekitar 50 kilogram jenis ikan tengkurungan, ekor kuning dan selar,” sebutnya.

Sepinya nelayan yang melaut terutama jenis kapal kecil membuat tempat pelelangan ikan dermaga bom tak seramai biasanya. Pasar ikan higienis Kalianda bahkan sebagian mendatangkan ikan dari wilayah perairan timur Lampung seperti pelabuhan Muara Gading Mas. Selain ikan laut sebagian pedagang pasar ikan higienis menjual ikan air tawar memenuhi pasokan ikan bagi warga Kalianda.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.