Nyakak dan Ngudok, Kesibukan Perempuan Saat Panen Cengkih

Editor: Satmoko Budi Santoso

367

LAMPUNG – Masa panen komoditas cengkih di wilayah kecamatan yang berada di kaki Gunung Rajabasa Lampung Selatan berlangsung sejak bulan Mei. Sebagian warga pemilik kebun cengkih di antaranya kaum perempuan melakukan tradisi panen cengkih yang dikenal dengan nyakak (memanjat, memetik) serta ngudok (memungut) cengkih.

Rukiah (39) bersama sejumlah perempuan di desa Tanjung Gading kecamatan Rajabasa menjadikan kegiatan nyakak dan ngudok sebagai tambahan penghasilan.

Selama hampir tiga bulan semenjak musim panen awal cengkih jenis zanibar setidaknya Rukiah ikut memanen cengkih di puluhan pemilik kebun cengkih. Sistem upahan dengan nyakak di pohon disebutnya dari pemilik ia mendapatkan Rp5 ribu per kilogram.

Rukiah (baju biru) bersama sejumlah perempuan desa Tanjung Gading melakukan ngudok cengkih di bawah pohon sebagai tenaga upahan [Foto: Henk Widi]
Bagi warga yang upahan ngudok maka akan mendapat upah Rp4 ribu per kilogram. Dalam sehari para wanita tersebut bisa memperoleh sekitar 25 kilogram cengkih atau sebesar Rp125 ribu bagi yang nyakak dan Rp100 ribu bahkan bisa lebih.

Tradisi nyakak dan ngudok diakui Rukiah sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Pada musim panen cengkih, pemilik kebun cengkih bahkan harus mengerahkan buruh nyakak dan ngudok. Sebagian di antaranya anak-anak yang membantu orangtua untuk mengumpulkan cengkih di bawah pohon. Pohon cengkih setinggi belasan meter dipanjat dengan tangga bambu, sebagian cengkih berjatuhan saat dipetik.

“Bagi kaum perempuan di wilayah pesisir dan kaki Gunung Rajabasa, panen cengkih menjadi sumber penghasilan karena upahnya lumayan dalam sehari bisa untuk membantu ekonomi keluarga,” terang Rukiah, salah satu warga Desa Tanjung Gading Kecamatan Rajabasa, saat ditemui Cendana News, Minggu (8/7/2018).

Alwan, salah satu warga desa Tengkujuh kecamatan Rajabasa melakukan penjemuran cengkih [Foto: Henk Widi]
Selain nyakak dan ngudok, sesampainya cengkih di rumah pemilik, akan dilakukan pemisahan cangkang dan buah cengkih. Pemisahan cangkang dari cengkih disebutnya kerap melibatkan warga dan anak-anak dengan upah Rp500 per kobok (wadah kaleng). Pemisahan cangkang dari cengkih kerap dilakukan malam hari sekaligus waktu berkumpul bersama tetangga dan kerabat.

Sistem nyakak dan ngudok diakui Rukiah memiliki dua ketentuan di antaranya bagi hasil 1: 1, atau 1: 2. Saat hasil panen sebanyak 2 kilogram maka diberikan sebanyak 1 kilogram bagi pemilik dan 1 kilogram bagi tenaga upahan nyakak dan ngudok. Sebaliknya pada sistem 1 banding 2 pemilik cengkih hanya mendapat 1 kilogram dan tenaga upahan mendapat 2 kilogram jika mendapatkan 3 kilogram cengkih.

“Sistem pembagian tergantung kesepakatan dengan pemilik apakah akan berwujud uang atau dalam bentuk cengkih basah,” beber Rukiah.

Akses jalan terpaksa ditutup untuk proses penjemuran memanfaatkan panas sinar matahari [Foto: Henk Widi]
Melalui tradisi nyakak dan ngudok, Rukiah memastikan bisa memperoleh sekitar 100 kilogram cengkih basah dari beberapa pemilik kebun cengkih. Saat sudah dijemur dan kering cengkih hanya menjadi 80 kilogram dengan harga rata-rata Rp80 ribu dirinya bisa memperoleh Rp6,4 juta sekali panen.

Hasil tersebut diakuinya tergantung dengan harga cengkih saat dijual yang kerap bisa berubah sewaktu-waktu.

Rukiah juga menyebut pada musim panen tahun ini cukup menguntungkan masyarakat, pasalnya bertepatan dengan hari libur sekolah. Bagi sejumlah perempuan selain tidak disibukkan dengan aktivitas anak juga sekaligus bisa mengumpulkan uang untuk membeli peralatan sekolah.

Tidak jarang anak-anak secara berkelompok bahkan berinisiatif ikut ngudok cengkih hasil upah dari pemilik bisa digunakan untuk keperluan tahun ajaran baru sekolah.

Fitri (29) salah satu pemilik kebun cengkih menyebut pemanenan cengkih bisa dilakukan empat bulan pascapembungaan. Cengkih harus segera dipetik agar tidak berbunga karena semakin besar cengkih harganya bisa anjlok.

Buah cengkih dipetik oleh sejumlah pekerja dengan jumlah bisa mencapai 6 hingga 10 pekerja. Pekerja di antaranya laki-laki dan perempuan yang sebagian melakukan nyakak di atas pohon dan ngudok di bawah pohon.

“Musim panen sekaligus memberdayakan warga dengan sistem padat karya untuk mempercepat pemanenan cengkih,” terang Fitri.

Alwan (30) salah satu warga Dusun Way Lahu Desa Tengkujuh pemilik kebun cengkih mengaku terbantu dengan adanya buruh nyakak dan ngudok. Berkat kesibukan pemanen cengkih, ia bisa lebih cepat melakukan proses penjemuran.

Sebagai pemilik ia kerap ke kebun mengawasi proses pemetikan lalu mengangkut hasil panen ke rumah. Proses penjemuran segera dilakukan setelah cengkih dipetik memanfaatkan panas matahari.

“Saat ini kondisi cuaca dominan panas, bahkan akses jalan masuk ke desa sebagian ditutup untuk menjemur cengkih dan pengendara mobil dialihkan ke jalan lain,” terang Alwan.

Proses pemanenan bisa cepat diakuinya mengandalkan tenaga nyakak dan ngudok yang dilakukan kaum laki-laki dan perempuan. Satu pohon dengan buah lebat bisa menghasilkan sekitar 50 kilogram bahkan bisa 100 kilogram yang bisa dipanen dalam waktu satu hari bahkan lebih per pohon.

Warga pesisir kaki Gunung Rajabasa rata-rata memiliki ratusan batang pohon cengkih zanzibar menghasilkan kuintalan hingga beberapa ton cengkih basah.

Pemilik 100 batang cengkih saat kering sempurna mendapatkan 18 kilogram per pohon bisa mendapatkan Rp144 juta dengan harga Rp80 ribu. Kondisi tersebut bisa terpengaruh kondisi cuaca dan tingkat penyusutan cengkih selama pengeringan.

Sebab harga cengkih saat ini bisa mencapai Rp82.000 per kilogram dan saat panen mulai berkurang bisa mencapai Rp150.000 bahkan Rp200.000 per kilogram. Sebagian warga segera menjual untuk kebutuhan meski harga murah. Sebagian lagi menunggu harga tinggi dengan penyimpanan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.