Omzet Berdagang Bendera Musiman di Jalinsum Tembus Puluhan Juta

Editor: Mahadeva WS

194

LAMPUNG – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia kerap identik dengan pernak pernik Bendera Merah Putih. Peluang permintaan yang tinggi tersebut membuat bisnis penjualan bendera dan sejumlah perlengkapan lain menjadi sumber rezeki masyarakat.

Sanusi,salah satu pedagang bendera musiman [Foto: Henk Widi]
Sanusi (30), salah satu penjual bendera menyebut, sudah menekuni usaha berjualan bendera tersebut sejak lima tahun silam. Sanusi sengaja hijrah dari kampung halamannya di Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara untuk berjualan bendera.

Untuk berdagang, Sanusi mengaku sudah menyiapkan modal berjualan sejak Juni silam. Dengan modal Rp20 juta. Dia mendapat pasokan bahan untuk dijual dari bos. Total bersama 20 orang dari kampung yang sama, Sanusi berjualan bendera di sejumlah titik yang tersebar di beberapa kecamatan yang dilintasi Jalinsum wilayah Lampung Selatan.

“Berjualan bendera dan segala aksesoris untuk kemeriahan HUT RI menjadi sumber penghasilan bagi saya setiap tahun sebagai pedagang musiman sebab pekerjaan utama saya sebagai petani,” terang Sanusi, pedagang bendera saat ditemui Cendana News di Jalinsum KM 67 Lampung Selatan, Senin (23/7/2018).

Beberapa jenis perlengkapan untuk kemeriahan HUT RI yang dijual di dominasi berupa Bendera Merah Putih berukuran kecil dan besar. Selain bendera juga ada perlengkapan lain seperti bandir, umbul-umbul, background. Berbagai jenis aksesoris tersebut dijual satu pekan sebelum memasuki Agustus untuk masyarakat umum dan sejumlah instansi.

Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, Sanusi berhasil menjual 100 kodi aksesoris. Barang barang yang dijual diantaranya 50 kodi umbul umbul, 30 kodi bandir, 20 kodi bendera berbagai ukuran dan 100 helai background. Harga yang dijual cukup bervariasi sesuai jenis dan ukuran sekaligus bahan dasar bendera.

Bendera dijual sesuai ukuran, mulai dari harga Rp20.000 hingga Rp50.000 perhelai. Selain itu jenis bandir dengan lambang Garuda dijual dengan harga Rp35.000, umbul-umbul Rp25.000, background Rp150.000 hingga Rp450.000 sesuai ukuran dan jenis bahan.

Bahan untuk bendera dan aksesoris pada umumnya terbuat dari kain satin abutai dan sebagian jenis parasut biasa. Berkat hasil berjualan bendera dan berbagai aksesoris tersebut di 2017 Sanusi berhasil memperoleh omzet Rp50juta. Dengan modal Rp20juta ditambah operasional lain, Sanusi mendapat keuntungan bersih hingga Rp15juta.

Di tahun ini Dia berharap, omzet bisa lebih banyak dengan alasan kemeriahan Asian Games XVII akan semakin disemarakkan dengan Bendera Merah Putih. Pelanggan tetap bendera pada umumnya berasal dari instansi pemerintah dan perseorangan. Jenis bahan kualitas bagus berupa satin abutai membuat bendera bisa awet bertahan hingga 5 tahun dan jenis kain parasut biasa hanya bertahan 2 tahun.

Sejumlah instansi yang ingin terlihat meriah bahkan kerap mengganti aksesoris setiap tahun. “Kalau masyarakat umum kerap membeli bendera dan umbul umbul, instansi biasanya selalu membeli baru untuk background dan bandir,” terang Sanusi.

Penjualan akan ramai saat memasuki Agustus. Untuk berdagang hingga 16 Agustus mendatang, Sanusi memilih mengontrak satu rumah warga selama mencari peruntungan berjualan bendera.

Samingan (40), salah satu pembeli bendera menyebut, sengaja membeli bendera untuk mengganti bendera lama. Ia membeli dua bendera yang satunya akan ditempatkan di rumah sang anak. Selain bendera, lima umbul umbul dengan motif gambar garuda sengaja dipilihnya untuk menghias halaman rumah saat perayaan HUT RI ke-73 mendatang.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.