Omzet Pedagang Es Meningkat Dua Kali Lipat

Editor: Koko Triarko

266
LAMPUNG – Kebutuhan akan air dan minuman menyegarkan sebagai pelepas dahaga saat musim kemarau, menjadi peluang sekaligus berkah bagi para pelaku usaha minuman es di Lampung Selatan.
Aris Paslah (40), penjual minuman bubur sunsum asal Desa Kunjir, Kecamataan Rajabasa, mengaku penjualannya meningkat dua kali lipat di musim kemarau ini. Padahal, pada hari biasa dengan cuaca mendung, bahkan hujan, Aris Paslah hanya bisa menjual sekitar lima kilogram bubur sumsum.
Aris Paslah menjajakakan bubur sumsum dengan bahan utama tepung, santan kelapa, mutiara atau cenil warna-warni, gula merah dan es batu secara keliling menggunakan motor.
“Cuaca yang panas membuat warga ingin minum sesuatu yang menyegarkan. Salah satunya, bubur sumsum ditambah es batu yang menyegarkan, yang disukai oleh berbagai usia. Dari anak-anak hingga orang dewasa,” terang Aris Paslah, saat ditemui Cendana News, di Bakauheni, Selasa (31/7/2018).
Aris Paslah menyebut, dalam sehari bisa menjual sekitar seratus gelas es bubur sumsum ke sejumlah lokasi. Saat pagi hari, ia berjualan di sejumlah sekolah SD, SMP hingga SMA. Rata-rata porsi yang dibeli ukuran gelas kecil seharga Rp2.000, sesuai dengan kantong pelajar. Sementara untuk konsumen umum, dirinya juga menjual ukuran sedang seharga Rp3.000 serta ukuran besar seharga Rp5.000, menggunakan mangkuk.
Aris Paslah, penjual minuman es bubur sumsum saat melayani konsumen [Foto: Henk Widi]
Saat musim kemarau, Aris Paslah juga kerap berjualan di sejumlah objek wisata. Selain lokasi Menara Siger, objek wisata pantai menjadi lokasi berjualan dengan kondisi suhu udara lebih panas dibandingkan biasanya.
Berjualan es bubur sumsum saat hari biasa, dengan rata-rata mencapai 100 porsi dirinya bisa mendapatkan hasil sekitar Rp1 juta. Saat musim kemarau dirinya bisa mendapatkan omset sekitar Rp1,8 juta, bahkan Rp2 juta sehari.
Pedagang minuman lain bernama Mariawati (40), warga Desa Pasuruan yang berjualan es buah, juga mengaku mengalami peningkatan penjualan. Es buah yang dijualnya saat kemarau diracik dari buah-buahan, berupa alpukat, mangga, pepaya, kelapa muda, ditambah sirup dan es batu. Dalam sehari, ia bisa menjual puluhan porsi es buah, dan sisanya berupa jus buah.
“Peningkatan penjualan pasti, dibandingkan saat musim penghujan, karena saat cuaca panas orang cenderung haus,” cetus Mariawati.
Menjual es buah dengan harga perporsi Rp8.000 dan jus buah Rp8.000, membuat dirinya bisa mendapatkan hasil yang cukup menjanjikan. Lokasi strategis di dekat perlintasan Jalan Lintas Sumatera dan sekolah membuat usahanya juga mudah dicapai.
Sementara itu, Saminem (50), pedagang minuman tradisional es cendol juga mengaku mengalami peningkatan omzet saat musim kemarau ini. Penjual minuman di Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang, ini mengaku menjual es cendol di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera.
Dalam sehari, ia membuat tiga kilogram cendol dari tepung tapioka dan disajikan bersama dengan santan kelapa, cairan gula merah dan es batu.
“Hasilnya cukup lumayan, dan porsi yang saya jual lebih banyak dibandingkan saat musim mendung, bahkan penghujan,” terang Saminem.
Pada hari biasa, Saminem bisa menjual es cendol sebanyak 50 gelas, namun di musim kemarau ini ia bisa menjual hingga 100 gelas. Ia yang berjualan es cendol dengan tempe goreng, bakwan dan pisang goreng, menjadi langganan warga.
Lokasi di tepi Jalan Lintas Timur sekaligus menjadi tempat untuk singgah pengemudi travel dan kendaraan pengangkut udang dan ikan bandeng.
Saat musim kemarau, sebagian konsumen yang membeli es cendol bahkan minta dibungkus untuk dibawa pulang. Selain menyediakan es cendol, kemarau yang cukup panas sepanjang bulan Juli membuat ia dan sang suami bernama Hendro (50), juga menyediakan kelapa muda yang sengaja dijual menjadi minuman menyegarkan bagi pelanggan yang berniat melepas dahaga.
Kelapa muda yang sudah dibelah disajikan dengan susu dan gula merah, dijual seharga Rp10.000 per buah.
Baca Juga
Lihat juga...