Pabrik Coklat di Sikka Tingkatkan Nilai Jual Kakao

Editor: Koko Triarko

322
MAUMERE –  Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kakao fermentasi sebagai bahan pembuatan coklat di pabrik coklat Sikka Inovation Center (SIC), telah ditambah sebanyak 10 kelompok tani (poktan) di Desa Wolonwalu, Kecamatan Bola.
“Awalnya, kami hanya mendapatkan suplai kakao dari 35 kelompok tani di tiga kecamatan, yakni Nita, Lela dan Mego, yang tergabung dalam KSU Suber Huter, dan didampingi LSM Lutheran World Relief (LWR) asal Amerika Serikat,” ujar Okto Suban Pulo, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) SIC, Senin (2/7/2018).
Albertus Sani Sogen, pendamping petani kakao di Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary
Kelompok tani tersebut, jelas Okto, sapaannya, tergabung dalam Koperasi Serba Usaha (KSU) Suber Huter di kecamatan Nita. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mendampingi para petani dalam kelompok tersebut, juga selama ini bergerak dalam fermentasi kakao.
“Pabrik pengolahan kakao menjadi coklat milik pemerintah kabupaten Sikka di SIC, hanya menerima kakao fermentasi selama lima hari, dengan kadar air tujuh persen, sehingga coklat yang diproduksi memiliki kualitas terbaik di Indoensia,” ungkapnya.
Menurut Okto, kondisi alam di kabupaten Sikka memiliki struktur tanah dan iklim yang mendukung pengembangan kakao di beberapa wilayah kecamatan di daerah pegunungan, dan menghasilkan kualitas kakao yang terbaik, bukan saja di Indonesia, namum di dunia.
“Coklat produksi SIC sudah mulai terkenal dan disukai oleh pembeli. Bahkan, beberapa wisatawan yang datang ke Sikka, setelah mencoba mengaku cita rasa coklat di Sikka sangat enak dan sekelas dengan cokat kelas dunia,” tuturnya.
Albertus Sani Sogen, salah seroang pendamping petani kakao, mengatakan, hadrinya pabrik coklat milik Pemerintah  Kabupaten (Pemkab) Sikka di lokasi SIC, membuat harga jual kakao di Sikka melonjak tinggi dan petani pun bisa mendapatkan keuntungan yang besar.
“Selama ini, para petani hanya menjual kakao dalam bentuk gelondongan. Setelah dikupas dan dikeringkan, biji kakao langsung dijual kepada pengepul dengan harga murah, 10 sampai 15 ribu rupiah sekilo,” sebutnya.
Hadirnya pabrik coklat ini, tambah Albert, membuat petani mulai memperhatikan kualitas kakao yang akan dijual, dan mulai beralih kepada kakao fermentasi.
Para petani juga mulai melakukan perawatan secara teratur hingga menghasilkan buah kakao yang bermutu.
“Saya yakin, bila ke depan pabrik kakao ini kapasitas produksinya semakin besar, maka banyak kelompok petani kakao akan mulai beralih dari menjual biji kakao gelondongan menjadi kakao fermentasi,” ungkapnya.
Saat ini, sambung Albert, harga kakao fermenatsi bisa dijual petani kakao ke pabrik kakao di SIC seharga Rp38-40 ribu rupiah per kilogram. Keuntungan yang didapat petani meningkat drastis hampir tiga kali lipat dari sebelumnya.
“Sebagai pendamping, tentunya kami selalu mengimbau para petani untuk terus menjaga kualitas kakao yang dihasilkan, agar bisa terus dibeli pabrik. Petani kakao di desa juga semakin bersemangat menanam dan merawat kakao hingga mengolahnya menjadi kakao fermentasi,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...