Padi Milik Petani Ketapang Diserang Hama Wereng

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

171

LAMPUNG — Sejumlah areal pertanian padi di wilayah kecamatan Ketapang kabupaten Lampung Selatan diserang hama penyakit wereng coklat (nilaparvata lugens). Daun yang diserang mengalami gosong dan bahkan layu, rumpun mengering dan membusuk.

Mujiono (50) salah satu petani di desa Bangunrejo kecamatan Ketapang Lamsel menyebut hama wereng menyerang padi usia 30 hari sesudah sema. Lahan seluas setengah hektare yang ditanam pada awal bulan Juni dan lebih awal dibandingkan petani lain membuat tanaman miliknya jadi sasaran.

Proses penanaman lebih cepat menurut Mujiono menyebabkan sejumlah hama juga menyerang di antaranya lembing, ulat daun, kumbang tanah, belalang dan keong mas.

“Saya menebar benih saat puasa sehingga saat sesudah lebaran saya menanam padi namun karena terlalu cepat dibanding petani lain, hama lebih dahulu menyerang,” terang Mujiono saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Senin (2/7/2018)

Mengatasi wereng yang menyerang, Mujiono bahkan terpaksa mempergunakan insektisda berbahan aktif jenis karbosulfan. Proses penanggulangan dengan sistem penyemprotan dilakukan untuk mengurangi populasi yang menyebabkan sebagian daun padi mengering.

Pada sejumlah rumpun terkena serangan hama wereng Mujiono bahkan telah menyediakan benih cadangan untuk proses penyulaman mengganti benih yang mati.

hama wereng
Tanaman sebagian pupus dan mengering [Foto: Henk Widi]
Mujiono juga menyebut serangandi areal persawahan miliknya dampak keberadaan lampu jalan. Saat malam hari berbagai jenis hama mendekat ke lampu jalan saat malam hari. Imbasnya saat siang menyerang rumpun padi miliknya dan petani lain.

“Areal lahan sawah dekat dengan akses jalan provinsi yang diberi lampu saat arus lebaran kemarin, imbasnya hama berkumpul di dekat persawahan,” cetus Mujiono.

Hengki (40) petani lain di desa Sripendowo kecamatan Ketapang mengaku lebih beruntung sebab hama tidak menyerang tanaman miliknya. Masa tanam menyesuaikan “mongso” atau masa yang tepat.

Proses penanaman serentak diakuinya berkaitan dengan pasokan air irigasi yang dilakukan secara bergantian oleh petani anggota kelompok tani.

“Sebagian petani pemilik modal menggunakan mesin pompa air sehingga lebih cepat masa tanamnya meski resiko terserang hama penyakit,” terang Hengki.

Kesepakatan penanaman serentak pada akhir bulan Juni diakui Hengki membuat pengendalian organisme pengganggu tanaman lebih mudah. Sejumlah petani juga menerapkan penanaman varietas padi yang berubah-ubah terutama untuk jenis tahan wereng, di antaranya jenis Ciherang.

Faktor masa tanam tidak serentak berimbas pada kemunculan hama disebut Hengki sudah kerap disosialisasikan oleh penyuluh pertanian di wilayah tersebut.

Hengki juga menyebut penanaman serentak dilakukan oleh petani yang sengaja menyemai padi usia 25 hari termasuk penyediaan benih cadangan. Sejumlah petani juga menghindari menanam lebih cepat karena sepanjang bulan Mei dan Juni petani masih fokus menjalankan ibadah ramadan dan hari raya Idul Fitri.

asa tanam serentak bulan Juli diharapkan meminimalisir serangan berbagai hama penyebab menurunnya produksi padi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.