Pak Harto Senantiasa Mengamalkan Amanat KHA Dahlan

Oleh Mahpudi, MT

1.735

Catatan redaksi:
Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 19 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.
Selamat Membaca.

Panti Asuhan Puteri Aisyiyah Muhammadiyah, Serangan, Yogyakarta

Ketika Tim Ekspedisi melakukan Napak Tilas Incognito Pak Harto di Yogyakarta pada 6 Juni 2012, kami mengikuti bagian album foto perjalanan diam-diam Pak Harto (Incognito) yang memperlihatkan Pak Harto sedang berada di sebuah lokasi Panti Asuhan. Dari keterangan yang disertakan pada album tertulis, “Panti Yatim Putri Muhammadijah Desa Serangan Djogdjakarta.”

Kami pun berupaya mencari. Dan ternyata, lokasi panti tersebut tak jauh dari stasiun kereta. Namun, kami harus berjalan kaki melintasi jalan kecil, karena letaknya agak masuk ke dalam wilayah perumahan penduduk. Diam-diam, kami mencoba menerka-nerka, kira-kira apa yang melatari Pak Harto menyambangi Panti Asuhan Muhammadiyah?

Ketika kami berjumpa dengan Ibu Hajjah Huriyah Adnan, pengasuh Panti Asuhan Putri Aisyiah Muhammadiyah Yogyakarta, kami mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut. “Salah satu hal yang wajib dijalankan oleh seorang Muslim adalah memelihara anak yatim, seperti tercantum dalam surat Al Ma’un (QS 107:1-7),” demikian penjelasan dari Hj. Huriyah Adnan.

Harus kami kemukakan, bahwa Pak Harto memang memiliki hubungan sangat erat dengan Muhammadiyah. Selagi Pak Harto masih belia, ia pernah mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Seperti dituturkan sendiri dalam autobiografinya yang berjudul, Soeharto : Pikiran,Ucapan dan Tindakan Saya (1988), Pak harto menyampaikan, ”..Saya kembali ke kampung asal saya, ke Kemusuk. Dan dari sana saya pergi setiap hari ke Yogya, naik sepeda, untuk menyelesaikan pelajaran di Sekolah Muhammadiyah..”

Didampingi Sri Pakualam VIII, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam perjalanan incognitonya Pak Harto menyempatkan bersilaturahim dengan para pengelola Panti Yatim Puteri Aisyah Muhammadiyah di Serangan, Ngampilan, Yogyakarta (22 Juli 1970).

Maka, tak heran, bila Pak Harto menghayati benar berbagai pelajaran tentang nilai-nilai Islam, termasuk pesan Ilahi dalam ayat suci Alquran pada surat Al Ma’un yang mengisyaratkan pesan kepedulian sosial, khususnya kepada anak yatim. “Surat Al-Maun itu memang melatari pengurus awal organisasi Muhammadiyah yang mengamanatkan agar setiap anggotanya mengamalkan ajaran mulia itu. Caranya dengan memelihara anak yatim di rumah masing-masing atau di dalam suatu panti,” jelas Hajjah Huriyah Adnan kepada kami.

Keluhuran sikap sosial tersebut dicontohkan langsung oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan yang merintis panti yatim di rumahnya pada tahun 1921. Selanjutnya, pada tahun 1938, panti asuhan dipisah menjadi dua, yakni Panti Asuhan Putera bertempat di Lowano, Mergangsan, Yogyakarta, dan Panti Yatim Puteri Aisyiah berlokasi di tempat tinggal KH Ahmad Dahlan hingga tahun 1957, sebelum akhirnya dipindahkan ke Serangan, Ngampilan, Yogyakarta. Ternyata, Panti Asuhan Yatim Puteri inilah yang dikunjungi Pak Harto.

Sebagai lulusan Sekolah Muhammadiyah, ketika Pak Harto telah menjadi Presiden RI, dirinya tetap menaruh kepedulian yang besar terhadap anak yatim maupun panti asuhan tempat mereka tinggal. Itulah yang mendasari Pak Harto, seperti dituturkan oleh Hj. Huriyah Adnan, berkunjung ke Panti Yatim Puteri Aisyiah Muhammadiyah di Serangan pada 22 Juli 1970.

Dalam kunjungan tersebut, Pak Harto melihat dari dekat, aktivitas anak-anak yatim dalam pembinaan pengasuhnya, mendengarkan berbagai keluh kesah para pengelolanya, dan tak lupa memberikan bantuan dana yang digunakan untuk memperbaiki asrama tersebut.

Ibu Hj. Huriyah Adnan, Pengurus Panti Asuhan Puteri Aisyiyah Muhammadiyah, Serangan, Yogyakarta:”Pak Harto Mengamalkan Pesan Al Maun untuk memelihara anak yatim.”

Yang menarik, seperti diungkapkan oleh Hj. Huriyah Adnan, panti asuhan yang dikelolanya, sampai saat ini masih dikirimi bantuan dana santunan dari Pak Harto. Berdasarkan penelusuran Tim Ekspedisi, santunan itu memang dikirim oleh Yayasan Dharmais yang dibentuk Pak Harto bersama beberapa koleganya, khusus membantu ribuan yatim piatu dan panti-panti jompo serta pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

Meskipun Pak Harto sudah wafat pada 27 Januari 2008, nyatanya, Yayasan yang kini dipimpin oleh putera-puterinya, melanjutkan pengiriman santunan kepada ribuan yatim piatu dan panti-panti, serta pesantren, tentu saja dalam jumlah yang tidak sedikit. (***)

Baca Juga
Lihat juga...