Pameran Kartun Indonesia Senyum, Refleksi Mice 20 Tahun Berkarya

Editor: Makmun Hidayat

226
Muhammad 'Mice' Misrad - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Muhammad Misrad atau lebih dikenal Mice termasuk kartunis handal. Dulu ia dikenal berpasangan dengan Benny Rachmadi di bawah label Benny & Mice, menggarap seri strip kartun di sebuah harian nasional.

Kini Mice berkarya sendiri, yang tak terasa sudah 20 tahun lebih berkarya membuat kartun. Untuk menandai 20 tahun berkarya, Mice menggelar pameran kartun tunggal bertajuk ‘Indonesia Senyum’ di Galeri Nasional Indonesia, yang digelar dari 21 Juli hingga 4 Agustus 2018,

“Konsep pameran bertajuk ‘Indonesia Senyum’ ini merupakan refleksi 20 tahun saya berkarya dalam dunia kartun. Kartun paling awal dibuat sekitar tahun 1996, jadi sebenarnya sudah 22 tahun berkarya tapi untuk lebih mudahnya digenapkan jadi 20 tahun saya berkarya,” kata Mice kepada Cendana News di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Minggu (22/7/2018).

Dengan pameran ini, Mice ingin mengajak masyarakat di situasi negeri yang penuh carut marut ini untuk tersenyum.

“Jadi pameran Indonesia Senyum ini bisa dikatakan kita ingin meredam tensi politik di negeri ini yang semakin tinggi menjelang Pemilu 2019,” ungkap alumni Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Lelaki kelahiran Jakarta, 23 Juli 1970 itu membeberkan awal ketertarikan dirinya menjadi kartunis dari membaca sekitar tahun 1977 yang waktu itu masih didominasi kartun Eropa, sedangkan kartun Jepang belum masuk.

“Malah kartun silat kita yang lagi booming, seperti Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Gundala, dan lain-lain,” bebernya.

Suasana pameran Indonesia Senyum, 20 Tahun Mice Berkarya – Foto Akhmad Sekhu

Tahun 1996 menandai Mice sebagai profesional terjun menjadi kartunis. “Latar belakang saya sebenarnya adalah grafic design, tapi passion-nya di kartun. Ini termasuk nekad karena tahun 1996 kartun kita matisuri, di mana pada waktu itu dikuasai kartun Jepang,” ujarnya.

Dulu Mice terkenal berpasangan dengan Benny sebagai pasangan kreatif ‘Benny & Mice’, tapi keduaanya sekarang sudah berpisah karena perbedaan visi misi pribadi dan idealisme yang sudah tidak sejalan.

“Sebenarnya kita masih sama temanya membuat kartun yang mengkritisi situasi aktual Jakarta seiring perkembangan zaman, tapi saya memang harus berjalan sendiri dengan menekuni idealisme yang saya pegang,” tuturnya.

Mice memandang perkembangan dunia kartun Indonesia sekarang sudah sedemikian maju dan berkembang dengan platform digital.

“Sayangnya, kekhasan kearifan lokal kita masih dipengaruhi Manga, kartun Jepang, atau bisa dikatakan kartun kita masih dalam pencarian,” simpulnya.

Mice berharap pameran tunggal kartun pertama kalinya itu dapat terus berkembang. Selain itu, bisa sejajar dengan karya seni lainnya.

“Saya berharap kartun kita akan semakin terus berkembang, dan ingin kartun bisa disejajarkan dengan karya seni lainnya,” tuturnya.

Menurut Mice, secara skill dan talenta kartunis kita bagus sekali diangkat jempol, tapi dari segi cerita masih kurang karena baru menyentuh hanya pada permukaan saja.

“Saya sarankan, negeri kita sangat dinamis, banyak sekali cerita yang bisa digali, berceritalah menyentuh hajat hidup orang banyak, kebanyakan orang bikin cerita yang asyik dengan diri sendiri atau menyenangkan segelintir orang, buatlah kartun yang bisa dibaca banyak orang,” tegasnya.

Dari segi style, Mice menilai masih belum menemukan style kartun Indonesia, tidak seperti Jepang yang khas dikenal dengan Manga-nya, atau Amerika dengan superhero-nya.

“Ada yang bilang seri strip kartun ‘Benny & Mice’ sudah tampak mencirikan style kartun Indonesia, semoga ke depan kita dapat menemukan citi khas style kartun Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.