Panen Durian dan Jeruk Chockun, Ladang Penghasilan Pedagang Buah

Editor: Satmoko

426

LAMPUNG – Masa panen buah durian asal provinsi Bengkulu pada bulan Juni hingga Juli mulai dinikmati sebagian warga Lampung. Durian yang dijual oleh sejumlah distributor sebagian dibeli langsung sistem borongan di pohon didistribusikan ke pedagang pengecer salah satunya di wilayah Lampung Selatan.

Selain durian asal Bengkulu, musim panen buah jeruk keprok chokun atau jeruk BW mulai membanjiri Lamsel.

Yono (35), salah satu pedagang musiman buah durian menyebut masa panen durian kerap tidak seragam di setiap provinsi. Ia menyebut musim buah durian asal Jambi dan Sumatera Selatan kerap terjadi pada bulan Januari, sementara di Lampung sekitar bulan November.

Musim durian secara bergantian diakuinya memberi peluang bisnis baginya sebagai pedagang keliling. Selain buah durian yang berbuah dengan musim berbeda, panen buah duku kerap dimanfaatkannya mengadu peruntungan dalam bisnis jual beli buah lokal.

“Pekerjaan utama saya awalnya perantara jual beli motor, lalu ada peluang musim buah menggunakan mobil dan hasilnya lumayan khususnya buah durian yang disukai masyarakat,” terang Yono salah satu pedagang buah keliling saat ditemui Cendana News di Penengahan, Minggu (15/7/2018)

Jeruk keprok Chockun atau dikenal jeruk BW memiliki ukuran kecil dengan isi buah manis menyegarkan [Foto: Henk Widi]
Musim buah disebutnya kerap bisa lebih cepat atau lebih lambat menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Yono kerap harus rajin mencari informasi daerah yang sedang musim buah agar bisa dibeli dan dijual kembali.

Peluang bisnis tersebut membuat dirinya pernah menjual satu unit motor dengan harga Rp6 juta untuk membeli langsung di kebun warga. Saat musim durian Bengkulu ia lebih beruntung memiliki saudara di wilayah tersebut dan dikirim menggunakan mobil.

Buah durian Bengkulu diakuinya memiliki beragam ukuran dengan ciri khas rasa yang manis. Sistem borongan hingga ribuan butir durian membuat ukuran durian kerap tidak seragam dengan harga jual bervariasi mulai dari Rp10.000 per buah hingga Rp50.000 per buah.

Keuntungan berjualan buah durian Bengkulu saat musim panen diperoleh sebesar Rp5.000 hingga Rp15.000 perbuah dipergunakan untuk modal membeli buah durian berikutnya.

“Saya berkeliling di wilayah kabupaten Lamsel, kalau mangkal biasanya di dekat objek wisata dermaga Bom yang banyak dikunjungi wisatawan,” papar Yono.

Menjual buah durian dengan kendaraan dalam jumlah banyak membuat konsumen bisa mencicipi buah durian yang dijual. Teknik mencicipi buah durian tanpa merusak bagian dalam dilakukan oleh Yono menggunakan pisau khusus mengambil bagian daging buah.

Jika konsumen menyukai rasa durian yang dipilih maka bisa dibayar dan dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Sejumlah durian yang tidak laku terjual disebutnya kerap diborong pemilik rumah makan untuk dibuat sambal tempoyak.

Berbeda dengan Yono yang menjual durian asal Bengkulu menggunakan mobil L300 bak terbuka,pedagang buah lain menggunakan motor. Kuwadi (32) warga desa Kelaten kecamatan Penengahan menggunakan motor dengan kerombong (wadah bambu) untuk berjualan jeruk dan bengkuang.

Kuwadi yang biasanya berjualan buah semangka,melon,salak juga mencari peruntungan dengan berjualan jeruk Chockun.

Jeruk chockun diakui Kuwadi yang berasal dari Thailand dari wilayah Chokun dikembangkan oleh petani Lampung di wilayah Metro dan Lampung Timur. Jeruk keprok chokun yang selama ini dijual keliling diakuinya didatangkan dari wilayah Metro dan Lampung Timur dari salah satu distributor.

Jeruk dengan ciri khas ukuran lebih kecil dibandingkan jeruk lain memiliki rasa manis kecut menyegarkan. Meski bagian kulit masih terlihat hijau saat dikupas daging buahnya berwarna kuning dengan kadar air berlimpah.

Kuwadi menyebut jeruk keprok chokun sudah kerap dijualnya terutama saat musim panen Mei hingga Juli. Buah jeruk tersebut diakuinya dibeli dengan sistem borongan lalu dijual perkilogram seharga Rp7.500 atau Rp15.000 dua kilogram.

Konsumennya rata rata merupakan warga pedesaan karena harga yang terjangkau sebagai buah lokal.

“Saya kerap keliling perkampungan dan objek wisata pantai karena menjual buah yang menyegarkan terutama saat musim panas,” terang Kuwadi.

Jeruk keprok chokun yang dijual bersama buah bengkuang disebutnya kerap diminati karena bisa digunakan sebagai jeruk peras. Sehari Kuwadi bisa menjual jeruk keprok chockun sebanyak 50 hingga 100 kilogram.

Selain jeruk keprok chockun yang dikenal di wilayah Lampung dengan jeruk BW, Kuwadi juga menjual buah bengkuang perkilogram seharga Rp6.000.

Pekerjaan berjualan keliling buah jeruk keprok chockun serta buah lain diakui Kuwadi menjadi pekerjaan sampingan. Sebab saat sedang tidak musim buah dirinya kerap hanya bekerja sebagai buruh tanam dan panen jagung.

Menjual buah secara keliling diakuinya digunakan untuk keperluan keluarga dan sang anak yang masih duduk di bangku SMP.

Baca Juga
Lihat juga...