Panen Jagung Petani Ketapang Membaik

Editor: Mahadeva WS

319

LAMPUNG – Panen jagung di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan menjadi berkah tersendiri bagi petani. Panen di awal 2018, harga jagung kering panen di petani hanya dihargai Rp2.800 perkilogram.  Saat ini, harganya sudah naik Rp750 perkilogram menjadi Rp3.550 perkilogram.

Petani jagung Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang Suniah (45) yang memanen jagung di lahan seluas satu hektar, sudah memanen jagung berusia 110 hari dalam kondisi kering. Jagung varietas hibrida bisi, serta beberapa varietas lain yang ditanam hasil panennya cukup bagus di awal Juli.

Cuaca sangat mendukung di awal masa tanam. Sementara curah hujan yang terjadi menjelang musim panas membuat kadar air minim sehingga hasil panen cukup bagus. “Harganya cukup lumayan dibandingkan harga masa panen sebelumnya dibawah angka tiga ribu, saya langsung menjual jagung ke pabrik yang mengirimkan alat pemipil jagung ke kebun,” terang Suniaih saat ditemui Cendana News, Senin (2/7/2018).

Hasil panen yang membaik untuk masa tanam kali ini terlihat dari isi tongkol jagung dengan bulir yang penuh. Hal tersebut tidak ditemui pada masa panen sebelumnya. Tongkol jagung kurang berisi akibat adanya serangan hama tikus dan juga kadar air tinggi. Hal itu berimbas pada turunnya harga jagung.

Suniah menyebut, kenaikan harga jagung sudah berlangsung sepekan terakhir. Masa panen jagung terjadi tidak serentak. Dia sengaja menjual jagung paska panen langsung di kebun ke pemilik pabrik penampungan jagung. Hal itu untuk mengantisipasi turunnya harga yang bisa terjadi sewaktu waktu.

Penjualan di kebun, dengan prediksi hasil panen enam ton, Suniah memperkirakan bisa memperoleh hasil Rp21,3juta. Jumlah tersebut dengan memperhitungkan harga jual jagung pipil Rp3.550 perkilogram.

Menjual jagung langsung dikebun juga mengurangi biaya jika harus membawa pulang hasil panen ke rumah. “Sebelum harga anjlok dan mumpung ada pembeli pada awal masa panen harganya sedang bagus maka saya jual,” beber Suniah.

Hendro mengumpulkan biji jagung hasil perontokan menggunakan alat pemipil jagung [Foto: Henk Widi]
Hendro (30), salah satu pekerja pemipilan jagung menggunakan mesin membenarkan adanya kenaikan harga jagung semenjak sepekan terakhir. Selain kualitas jagung dengan kadar air rendah, minim serangan hama, kualitas hasil panen jagung pada Juli ini cukup memuaskan.

Jagung varietas hibrida membuat pemilik pabrik berani membeli Rp3.550 perkilogram. Salah satu faktor pemicu kenaikan harga jagung, adalah permintaan jagung untuk bahan baku pakan unggas dan ternak. Perubahan harga juga dipengaruhi oleh stok pabrik.

Saat stok pabrik melimpah, harga dipastikan bisa kembali anjlok apalagi permintaan akan pakan unggas sudah terpenuhi. “Komoditas jagung selain untuk konsumsi bagi sumber makanan manusia juga untuk ternak sehingga kenaikan tetap menyesuaikan permintaan,” cetus Hendro.

Hendro yang dipercaya membeli jagung dari petani menyebut, jagung yang dibeli akan ditampung di salah satu pabrik di Jalan Lintas Timur Lampung. Jagung kemudian dibawa ke Panjang untuk dilakukan pengolahan lanjutan. Selama sepekan terakhir, Hendro memproses penggilingan jagung milik petani dengan mesin bertenaga solar.

Baca Juga
Lihat juga...