Pasokan Minim, Harga Ayam Pedaging di Lamsel Melambung

Editor: Mahadeva WS

279

LAMPUNG – Setelah kenaikan harga telur ayam, harga ayam pedaging mulai mengekor untuk naik di sejumlah pasar tradisional yang ada di Lampung Selatan. Kenaikan harga daging ayam tersebut, disebut-sebut sebagai akibat minimnya pasokan.

Wahyuni (50), salah satu pedagang pengecer daging ayam menyebut, dua pekan lalu, harga ayam masih bertengger di angka Rp39.000 hingga Rp42.000. Kini harga daging ayam mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000. Harga tersebut menyesuaikan bobot serta kondisi ayam yang sudah dibersihkan dan ayam hidup.

Wahyuni menyebut, pasokan yang minim menjadi penyebab melonjaknya harga daging ayam potong. Wanita yang berjualan ayam hidup dan sudah dipotong selama lima tahun terakhir tersebut mengatakan, biasa menyiapkan 200 ekor ayam potong perhari. Namun, semenjak pasokan langka, ia hanya mendapat jatah 100 ekor ayam perhari. Pasokan yang berkurang terjadi dari peternak besar di wilayah Tanjungbintang dan Natar. “Sebagai pedagang saya maunya berjualan ayam dalam jumlah banyak tapi dari peternak sudah dikurangi, alasannya harga anak ayam serta pakan sedang naik,” papar Wahyuni, Senin (23/7/2018).

Daging ayam potong masih banyak diminati karena harga lebih murah dibandingkan harga daging sapi yang mencapai Rp100.000 perkilogram. Pasokan yang berkurang hampir setengah dari pekan sebelumnya, membuat pedagang harus menjual lebih mahal.

Harga dari peternak disebutnya, sudah tinggi karena mencapai Rp39.000 untuk ukuran ayam dengan bobot 1,5 kilogram. Sementara harga untuk ayam berukuran dua kilogram mencapai Rp43.000. Meski menjual hingga Rp45.000, Wahyuni mengaku mengalami dilema. Selain karena keuntungan yang tipis, biaya operasional usaha juga dirasakan cukup tinggi. Pantauan Cendana News, sejumlah pedagang daging ayam di pasar Panengahan menjual daging ayam dengan harga di atas Rp40.000 untuk satu ekor ayam berbobot 1,5 kilogram hingga dua kilogram.

Selain di pasar tradisional, kurangnya pasokan ayam hidup dari peternak juga dirasakan oleh Yuli (33) pemilik usaha jual beli ayam dengan sistem pembesaran. Yuli mengaku kerap menyiapkan 300 hingga 500 ekor ayam di kandang miliknya. Ayam berusia dua pekan dibeli dari penyedia ayam pedaging. Ayam tersebut dipelihara hingga usia tertentu hingga mencapai bobot layak jual yaitu lebih dari satu kilogram.

Pasokan yang menurun drastis membuat Dia tidak mendapat pasokan sejak satu bulan terakhir. Satu kandang berukuran 8×6 meter miliknya dibiarkan kosong dan kini hanya tersisa 20 ekor ayam hidup siap jual. Jenis ayam potong diminati masyarakat untuk mengadakan pesta hajatan pernikahan dan acara syukuran.

“Saat ini sebagai peternak pembesaran ayam potong serba salah soalnya harga pakan mahal, bibit dan operasional tinggi sehingga harga jual ikut melonjak,” tandas Yuli.

Yuli juga menyebut, permintaan ayam mulai menurun seiring dengan kenaikan harga telur ayam. Faktor mahalnya bibit ayam atau Day Old Chicken (DOC) untuk ayam pedaging dan petelur, berimbas langsung kepada kenaikan harga pakan. Ayam usia di bawah 10 hari hingga 15 hari dibeli untuk dibesarkan dengan sistem kandang dan bisa dipanen pada usia tiga bulan. Yuli masih menjual ayam hidup dengan harga Rp45.000 hingga Rp50.000 perekor.

Baca Juga
Lihat juga...