PDAM Solo Terapkan Pengelolaan IPAL Berbasis Web dan Android

Editor: Koko Triarko

222
SOLO – Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Solo, menerapkan pengelolaan air limbah dengan sistem informasi kekinian. Yakni, dengan penerapan aplikasi android dan berbasis web, sehingga pengawasan pengelolaan IPAL dapat dilakukan real time.
“Ada dua sistem pengelolaan air limbah yang kami lakukan. Yakni sistem pipanisasi serta pengelolaan secara berkala, seperti tangki saptic, IPAL dan MCK,” papar Direktur Utama Perusda Air Minum Solo, Maryanto, kepada awak media, Rabu (25/7/2018).
Pengelolaan sistem pipanisasi mencakup 30 persen dari jumlah penduduk di Solo. Sedangkan penerapan sistem berkala, baik tangki saptic, IPAL komunal, dan MCK, mencapai 70 persen dari jumlah penduduk. Pengelolaan berkala ini dilakukan secara periodik, yakni antara 2-5 tahun.
Direktur Utama Perusda Air Minum Solo, Maryanto. -Foto: Harun Alrsoid
Dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan melalui pengelolaan IPAL komunal ini,  pihaknya bekerja sama dengan United States Agency International Development (USAID) Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene, penyehatan lingkungan untuk semua (IUWASH-PLUS).
Bersama IUWAS-PLUS, di sejumlah lokasi yang membutuhkan air bersih, pihaknya membangun sumur-dalam serta fasilitas MCK. “Langkah ini juga untuk mencegah adanya buang air besar sembarangan (BABS). Pengeboran sumur dan MCK ini terutama dilakukan di permukiman padat penduduk yang berada di pinggiran,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Maryanto mengatakan, penerapan pengelolaan IPAL komunal berbasis android dan web dapat dilakukan on call. Sistem tersebut telah diterapkan kepada seluruh masyarakat yang sudah menjadi pelanggan.
“Mereka yang belum masuk jadi pelanggan, tetap dilayani dengan sistem on call. Pengelolaan sistem web dan android inilah yang membuat banyak daerah tertarik untuk belajar ke Solo. Ada yang dari Jawa Timur dan juga Jawa Barat,” terangnya.
Sementara itu, perwakilan USAID IUWASH-PLUS, Jefri Budiman, menjelaskan, penerapan pengelolaan IPAL komunal berbasis web dan android ini, baru dilakukan di Solo dan Balikpapan. Sedangkan pengelolaan IPAL berbasis UPTD telah dilakukan di Bekasi, Bogor dan Makassar.
Menurut Jefri, sistem layanan berkala dan terjadwal yang diterapkan selama ini belum maksimal. Sebab, meski layanan yang dilakukan sudah on call, namun masih dimasukkan ke database.
“Kalau sistem on call ini kuncinya ada di pelanggan. Jika sudah waktunya disedot tapi tidak memiliki uang, layanan tidak dapat dilakukan. Berbeda kalau di Solo, karena sistem pembayaran sudah dimasukkan dalam rekening air,” pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.