Pedagang Batagor dan Siomay Stop Sementara Gunakan Telur

Editor: Makmun Hidayat

2.090

LAMPUNG — Kenaikan harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional yang ada di Lampung Selatan ikut berimbas bagi sejumlah pelaku usaha kuliner diantaranya pedagang batagor dan siomay.

Wali (26) salah satu pedagang keliling batagor menyebut kuliner yang merupakan singkatan baso tahu goreng kerap menggunakan pelengkap telur rebus. Namun ia menyebut semenjak harga telur naik menjadi Rp27.000 perkilogram dirinya tidak menjual batagor dilengkapi dengan telur ayam.

Pedagang batagor dengan gerobak yang kerap mangkal di objek wisata kuliner Dermaga Bom tersebut mengaku berhenti menggunakan telur semenjak satu bulan terakhir.

Wali, salah satu pedagang keliling batagor yang kerap menyediakan pelengkap telur rebus memilih tidak menyediakan telur rebus sejak harga telur naik – Foto: Henk Widi

Pasalnya ia menyebut sejak bulan Juni harga telur ayam sudah mencapai Rp24.000 perkilogram dengan jumlah perkilogram mencapai 15 butir. Ia menyebut kerap menjua telur yang sudah direbus sebagai campuran batagor Rp2.000 perbutir.

Harga tersebut diakuinya menyesuaikan harga pembelian telur dengan jumlah sebanyak 15 butir seharga Rp24.000 makan perbutir telur ayam Rp1.600. Ia menyebut untuk telur rebus pelengkap makan batagor ia hanya mengambil keuntungan Rp400 perbutir. Sementara untuk batagor dirinya yang menjual batagor milik sang bos yang dipatok seharga Rp700 dan menjual ke konsumen Rp1.000 perbuah batagor dengan keuntungan Rp300.

“Kami sebagai pedagang keliling diberi modal gerobak dan sistem penjualan mengambil keuntungan perbuah batagor ditambah upah harian sesuai kesepakatan,” terang Wali, salah satu pedagang batagor di bilangan wisata kuliner Dermaga Bom Kalianda saat ditemui Cendana News, Sabtu (14/7/2018).

Pada hari normal, Wali menyebut menjual sekitar 30 butir telur atau sebanyak dua kilogram. Telur tersebut diakuinya dijual sebagai pelengkap menu batagor lengkap dengan kentang rebus. Sehari dari penjualan batagor, dirinya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp440.000 ditambah telur rebus yang laku Rp60.000 total bisa dibawa pulang sebesar Rp500.000 perhari.

Sebanyak lima kilogram bahan baku batagor diakuinya dijual keliling ke sekolah, perkampungan dan objek wisata.

Keputusan tidak menjual telur rebus diakuinya disebabkan harga telur sudah mencapai Rp27.000 di pasar Kalianda. Imbasnya ia menyebut perbutir telur sudah mencapai Rp1.800 sehingga saat dijual dengan harga Rp2.000 perbutir dalam kondisi telur rebus keuntungan yang diperoleh kecil.

Batagor yang dijual perporsi Rp5.000 diakui Wali kerap dibeli oleh warga saat berada di lokasi wisata dan sejumlah lokasi saat dirinya menjajakan batagor dengan gerobak dorong.

“Saya stop menyediakan tambahan telur rebus karena harga telur mentahnya sudah mahal di pasaran dalam beberapa bulan ini,” tegas Wali.

Serupa dengan pedagang batagor, pedagang siomay dengan bahan baku nyaris sama. Pembuatan kuliner siomay disebut Dendi (28) menggunakan bahan ikan tenggiri, tepung aci, tepung ditambah beragam bumbu.


Dendi, salah satu pedagang siomay tidak menggunakan telur rebus sebagai pelengkap berjualan setelah harga telur naik – Foto: Henk Widi

Bumbu yang digunakan diantaranya gula, garam, bawang putih, bawang goreng dan penyedap rasa. Penggunaan telur diakuinya kerap menjadi pelengkap bersama tahu, kol, pare, kentang.

Siomay diakuinya dijual dengan batagor, meski Dendi menyebut tidak menjualnya dalam kondisi digoreng. Ketiadaan alat penggoreng di gerobak yang dimiliki membuat ia hanya menjual siomay yang dikukus dan disajikan dalam kondisi hangat. Siomay yang sudah dibuat seperti batagor akan disajikan dengan kuah kacang serta kecap.

“Keputusan tidak menggunakan telur rebus sudah dilakukan bos pembuat siomay dan batagor, jadi kami hanya mengikuti,” terang Dendi.

Dendi menyebut sejak dirinya tidak menyertakan telur rebus, permintaan siomay terbilang menurun. Pasalnya saat ada telur ayam rebus pelanggan kerap meminta disertai pare, kol, kentang sebagai pelengkap.

Saat ada telur rebus yang dijual bersama siomay dirinya bisa menjual sekitar 100 porsi dengan harga Rp5.000. Namun kini ia mengaku hanya bisa menjual sebanyak 80 porsi siomay.

Dendi memastikan sang bos akan menyediakan siomay dan batagor dilengkapi dengan telur rebus saat harga telur turun. Penjualan siomay dan batagor dilengkapi telur rebus diakuinya dilakukan saat harga telur ayam hanya mencapai Rp15.000 hingga Rp17.000 perkilogram.

Saat harga telur ayam mahal, ia menyebut pedagang batagor dan siomay menghentikan pelengkap telur rebus untuk menu batagor dan siomay.

Baca Juga
Lihat juga...