Pedagang Kuliner Bertahan di Tengah Tingginya Harga Daging Ayam

Editor: Koko Triarko

210
LAMPUNG – Masih tingginya harga daging ayam potong di sejumlah pasar tradisional dan pengecer, menyebabkan sejumlah pelaku usaha kuliner di Lampung Selatan, kesulitan mencari untung. Bahkan, sebagian terpaksa tutup.
Aisiyah (34), salah satu pelaku usaha usaha kuliner pecel lele dan pecel ayam ‘Tenda Lilis’ di Jalan Lintas Sumatera KM 70 Penengahan, Lampung Selatan, mengatakan, kenaikan harga ayam mencapai Rp20.000, dari harga semula dalam kondisi utuh seharga Rp30.000, kini menjadi Rp50.000 per ekor.
Aisiyah, pelaku usaha kuliner di Jalinsum KM 70 Penengahan, menghidangkan pesanan ayam goreng kepada pelanggan [Foto: Henk Widi]
Menurutnya, kenaikan tersebut merata terjadi di sejumlah penyedia daging ayam di pasar, serta peternak penggemukan. Harga paling murah hanya Rp42.000, meski ukurannya lebih kecil dan kerap hanya disajikan sebagai menu ayam Serbu bersama ikan laut dan ikan air tawar.
Aisiyah mengatakan, menu Serbu (Serba Sepuluh Ribu) dilakukan agar tetap bertahan berjualan. Konsep tersebut dilakukan dengan menjual ayam goreng dan ayam sayur. Satu ayam utuh biasanya dibelah menjadi empat bagian. Saat dijual dalam bentuk menu Serbu, harganya lebih murah. Menu Nasi Serbu menjadi pilihan pedagang, agar tidak gulung tikar.
“Untungnya tipis, tapi karena pelanggan sudah mencapai ratusan orang per hari, saya tidak langsung menaikkan harga atau menutup warung, sambil berharap harga daging ayam kembali normal,” terang Aisiyah, saat ditemui Cendana News, Selasa (31/7/2018).
Aisiyah menyebut, warungnya buka selama 24 jam, dari sore hingga subuh. Menyediakan pecel lele, ayam goreng dan beberapa menu tradisional lainnya. Sejak pagi hingga pagi berikutnya, ia berjualan menu Serbu, melayani para pelintas di Jalinsum, di antaranya pengemudi truk, travel serta kendaraan pribadi jurusan Sumatera ke Jawa dan sebaliknya.
Meski harga daging ayam naik, ia mengaku tak menaikkkan harga jual kulinernya, agar pelanggan tidak lari.
Satu porsi ayam goreng lengkap dengan sambal, dijual Rp13.000, dengan nasi total Rp18.000. Satu porsi bebek goreng dijual seharga Rp25.000, dengan nasi total Rp30.000.
Pecel lele tanpa nasi satu porsi Rp10.000, dan dengan nasi Rp15.000. Nasi goreng Rp10.000, semua jenis menu Serbu dijual Rp10.000, dengan menu sayur dan lauk telur, ikan dan ayam.
“Saya melihat, ada beberapa warung yang tutup, karena tidak kuat biaya operasional untuk membeli bahan baku. Alhamdulilah, saya bertahan,” cetus Aisiyah.
Sesuai perhitungan antara modal usaha dan hasil penjualan, Aisiyah menyebut keuntungan per porsi dari berjualan kuliner saat bahan baku naik, hanya Rp7.000.
Keuntungan itu masih dibagi-bagi untuk karyawan dan penjual. Keuntungan yang minim tersebut jauh dibandingkan saat harga bahan baku murah, dengan keuntungan per satu porsi Rp10.000. Meski untung sedikit, ia mengaku usaha kuliner miliknya tetap dipertahankan.
Pedagang lainnya di Jalinsum KM 90 Kota Kalianda, Heni (40), juga mengalami hal yang sama. Ia mengatakan, beberapa pekan terakhir harga daging ayam potong mencapai Rp55.000, yang dibelah menjadi empat bagian. Hal yang sama juga pada ayam kampung, dengan harga Rp57.000, dan bebek Rp60.000.
“Porsi daging ayam potong, ayam kampung dan bebek tetap dibelah empat, dengan standar ukuran dua kilogram per ekor, dan dijual harganya juga tetap sama seperti sebelum harga bahan baku naik,” terang Heni.
Ia mengatakan, harga ayam kampung goreng tanpa Rp23.000, dengan nasi seharga Rp28.000. Bebek goreng tanpa nasi dijual Rp25.000, dengan nasi Rp30.000. Ayam potong goreng tanpa nasi Rp15.000, dengan nasi Rp20.000. Berbagai menu tersebut tetap dijual bersama dengan menu lain, tanpa melakukan perubahan harga.
Saat harga bahan baku normal, ia mengaku bisa mendapatkan keuntungan Rp12.000 per porsi. Namun, kini saat harga naik hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp8.000 per porsi.
Namun, katanya, keuntungan tipis itu disokong keuntungan dari penjualan beberapa menu seperti minuman es jeruk serta es teh, bahkan kopi yang dijualnya per gelas Rp5.000. Hal demikian terpaksa dilakukan, agar tidak menaikkan harga yang akan membuat pelanggan lari, dan gulug tikar.
Heni mengatakan, menjalin kerja sama dengan sejumlah pengurus travel trayek terminal Rajabasa ke Bakauheni dan sebaliknya, untuk mendatangkan pembeli.
Pada jam-jam tertentu, wanita yang berjualan hanya saat sore hingga subuh tersebut, menerima puluhan travel yang mampir ke warungnya. Ratusan porsi bisa dijual dengan satu mobil minimal yang memesan makan mencapai lima orang.
Ia berharap, harga bahan baku untuk usaha kuliner berupa telur, daging ayam dan sayuran kembali normal.
Baca Juga
Lihat juga...