Pembakaran Limbah Sisa Panen Akibatkan Polusi Udara

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

788

LAMPUNG — Sejumlah pengendara kendaraan roda dua dan roda empat di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ruas Kalianda-Bakauheni mengeluhkan asap yang ditimbulkan dari pembakaran limbah sisa panen. Meski hal tersebut sebagai upaya pembersihan limbah pertanian namun bagi masyarakat lain dinilai mengganggu.

Iksan, salah satu pengendara roda dua yang ditemui menyebutkan matanya pedih dan mencium aroma asap saat melintas. Ia berharap sejumlah petani tidak membakar limbah penyebab polusi.

Asap akibat pembakaran yang terbawa angin dan mengarah ke Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), selain mengganggu pernapasan, juga menghalangi pandangan pengguna jalan.

“Saat asap cukup tebal saya khawatir berpotensi menimbulkan kecelakaan,” terang Iksan salah satu pengendara yang melintas di Jalan Lintas Sumatera KM 10 saat ditemui Cendana News, Sabtu (29/7/2018)

Selain itu, sebagian limbah pembakaran merupakan sisa jerami, sisa batang jagung serta jenje yang dibakar dan ditinggalkan pemilik berpotensi merembet ke lahan pertanian lain, apalagi saat ini musim kering.

Saiful salah satu petani yang membakar jerami untuk mempercepat pembersihan lahan [Foto: Henk Widi]
Proses pembakaran limbah pertanian paling marak terjadi di wilayah desa Sukabaru kecamatan Penengahan. Sebagian berada di tepi Jalinsum sehingga dampak sangat dirasakan oleh pengendara yang melintas.

Iksan menyebut tiga tahun sebelumnya ada spanduk pengumuman adanya larangan membakar limbah pertanian. Namun imbauan tersebut kini sudah tidak terlihat sehingga petani memilih untuk membakar.

Jumadi, salah satu petani penanam jagung menyebut sengaja membakar guna mempercepat proses pembersihan lahan. Meski menimbulkan polusi, pembakaran menjadi solusi tercepat pembersihan lahan saat kemarau.

“Efesiensi pembersihan lahan dengan membakar lebih cepat selesai dan rumput cikal bakal gulma bisa ikut terbakar,” beber Jumadi.

Jumadi menyebut saat musim penghujan dirinya membutuhkan waktu membersihkan lahan hampir satu bulan. Batang tanaman jagung yang basah harus dikeringkan dan dibakar setelah waktu tertentu sehingga bisa cepat dibersihkan.

“Lahan kembali bisa digunakan setelah semua limbah batang tanaman jagung dibakar sehingga mudah dilakukan pengolahan lahan,” terangnya.

Petani lain yang memilih membakar limbah pertanian di antaranya Saiful, warga desa Banjarmasin kecamatan Penengahan. Limbah jerami yang sebagian sudah diambil oleh sejumlah peternak selanjutnya dihamparkan hingga kering. Jerami akan dibakar setelah seharian dikeringkan menggunakan sinar matahari.

“Saat kemarau proses pembusukan juga akan lama karena tidak ada air, solusinya harus dibakar agar cepat selesai proses membersihkan lahan,” papar Saiful.

Ia tidak menampik asap proses pembakaran mengganggu pengguna jalan dan mengganggu pernapasan. Namun proses pembakaran jerami yang cepat diakuinya tetap diawasi.

Selain agar jerami lebih cepat terbakar, pengawasan dilakukan agar api tidak menjalar ke lahan perkebunan di dekat sawah. Setelah dipastikan menjadi abu ia melakukan proses pemadaman dengan air sungai.

Baca Juga
Lihat juga...