Pembibitan Bawang Merah, Tekan Biaya Produksi 50 Persen

Editor: Satmoko Budi Santoso

447

YOGYAKARTA – Sebagai upaya mengatasi persoalan ketersediaan bibit bawang merah, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta memperkenalkan sistem baru pembibitan bawang merah dengan menggunakan benih asal biji atau True Shallot Seed (TSS) pada para petani di DIY.

Upaya tersebut dilakukan dengan menjalankan introduksi sekaligus diseminasi inovasi teknologi TSS dalam sistem produksi bawang merah di sejumlah wilayah di DIY salah satunya di Trisik, Banaran, Galur, Kulonprogo dan Srigading Sanden Bantul.

Peneliti BPTP Yogyakarta, Ir Sutardi MSi mengatakan, penggunaan TSS dalam pembibitan bawang merah memiliki sejumlah keunggulan. Diantaranya memperkecil kebutuhan benih, memperpanjang masa penyimpanan benih menjadi lebih lama hingga 1-2 tahun, serta menjadikan benih lebih tahan terhadap penyakit.

Penyuluh BPTP Yogyakarta, Dr. Rahima Kaliky – Foto Jatmika H Kusmargana

“Penggunaan bibit bawang merah asal biji (TSS) ini dapat menghemat biaya produksi, karena benih yang dibutuhkan jauh lebih rendah. Hanya 3-4 kilogram per hektar. Sedangkan kebutuhan benih umbi mencapai 1,2 ton per hektar,” katanya saat acara pindah tanam bibit bawang merah asal biji TSS, di Bulak Jeronan, Trisik, Banaran, Galur, Kulonprogo, Selasa (24/07/2018).

Dari uji coba di dua lokasi tersebut, penerapan teknologi penggunaan bibit bawang merah asal biji (TSS) dikatakan berhasil. Dimana lahan seluas masing-masing 1 hektar mampu menghasilkan benih siap tanam di umur 25-35 hari. Yakni dengan menggunakan sistem persemaian.

Salah seorang petani asal Trisik, Banaran, Galur, Kulonprogo Ngatimin, mengakui manfaat penggunaan sistem baru pembibitan bawang merah dengan menggunakan benih asal biji (TSS). Dimana teknologi tersebut mampu menghemat biaya pembibitan hingga mencapai 50 persen lebih.

“Tidak kesulitan, cukup mudah. Walau baru pertama tapi bisa berhasil. Persemaian sangat bagus. Jika biasanya untuk lahan seluas 1 hektar membutuhkan biaya pembibitan mencapai Rp20 juta lebih, dengan benih asal biji ini Rp10 juta cukup,” katanya.

Sementara itu, penyuluh BPTP Yogyakarta, Dr. Rahima Kaliky, mengatakan, selain melakukan introduksi teknologi pertanian, BPTP Yogyakarta juga melakukan desiminasi dengan menggelar bimbingan teknis pada penyuluh. Hal itu dilakukan untuk memberi informasi teknologi pembibitan bawang merah dengan menggunakan benih asal biji (TSS) pada penyuluh.

“Teknologi ini kan harus didesiminasikan pada petani. Dan penyuluhlah yang bertugas mengkomunikasikannya pada petani. Karena itu bimtek ini kita gelar dengan melibatkan 6 BPP Kulonprogo. Baik PNS, THL maupun penyuluh swadaya,” katanya.

Ia pun berharap introduksi dan diseminasi inovasi teknologi TSS dalam sistem produksi bawang merah yang dilakukan akan dapat mempercepat adopsi teknologi serta diimplementasikan oleh petani bawang merah di DIY. Sehingga target produksi dapat tercapai dan DIY mampu menjadi pemasok bawang merah kedua terbesar di Jawa.

Baca Juga
Lihat juga...