Pemerintah Beri Insentif Pengembangan Mobil Listrik

262
Ilustrasi Mobil listrik - Dok: CDN
JAKARTA – Pemerintah memastikan bakal memberikan insentif dalam skema tax holiday, dalam rangka membantu mengembangkan industri mobil listrik yang memberikan nilai tambah dan mengoptimalkan pemanfataan sumber daya lokal.
“Kami memberikan insentif, yaitu tax holiday, termasuk industri teknologi baterainya,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Harjanto, dalam diskusi roadmap pengembangan industri mobil listrik Indonesia di Jakarta, Selasa (10/7/2018).
Selain itu, pihaknya juga tengah mengusulkan agar terkait penggunaan kendaraan yang mengurangi emisi, maka ke depan akan bisa memperoleh tingkat pajak yang lebih rendah.
Harjanto mengemukakan, pengembangan industri mobil listrik sudah ada peta jalannya, termasuk di dalamnya mencakup pengembangan industri ramah lingkungan, sehingga target 20 persen dari total produksi kendaraan emisi karbon rendah bisa tercapai pada 2025, mendatang.
Ia juga menyatakan, pihaknya bakal melakukan langkah menuju ke arah sana dengan hati-hati, agar tidak terjadi turbulensi, sehingga industri otomotif masih tetap dapat mempertahankan pertumbuhannya, serta transisi menuju ke penggunaan kendaraan ramah lingkungan bisa mulus.
Sementara itu, Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, menyatakan, pihaknya mendukung karena ke depan, PLN telah berkomitmen untuk menggunakan energi baru dan terbarukan di Nusantara.
“Kami berkomitmen mengembangkan energi baru dan terbarukan hingga 23 persen pada 2025,” kata Direktur Perencanaan Korporat PLN, dan menambahkan, pihaknya mendukung untuk memberikan pasokan listriknya.
Sedangkan Ketua Umum Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, mengatakan pihaknya setuju dengan rencana pengembangan mobil listrik, karena hal itu merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari.
Namun, Yohannes Nangoi juga mengutarakan harapannya, agar berbagai kebijakan terkait dengan itu jangan sampai mengganggu industri otomotif yang ada di Indonesia, yang saat ini telah berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi kepada ekonomi.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian juga telah menggandeng Toyota Indonesia dan enam perguruan tinggi negeri untuk melakukan riset dan studi bersama secara komprehensif, tentang teknologi electrified vehicle (mobil listrik) di dalam negeri.
Langkah ini akan menjadi masukan bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik, sehingga target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) tahun 2025 dapat tercapai.
“Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartart,o pada acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study, di Jakarta, Rabu (4/7).
Menurut Menperin, langkah itu tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada 2030, dan sekaligus menjaga energi, khususnya di sektor transportasi darat. Apalagi, industri otomotif berkontribusi cukup signifikan bagi perekonomian nasional selama ini.
Dalam implementasinya, Kemenperin berkolaborasi dengan sejumlah akademisi dan Toyota Indonesia, sebagai salah satu pelaku industri otomotif nasional, guna memperkenalkan teknologi pengembangan kendaraan ramah lingkungan. Riset bersama ini dijadwalkan akan berlangsung selama dua tahun hingga 2019. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...