Pemkot Balikpapan Monitoring Pertanian Hidroponik

Editor: Koko Triarko

228
BALIKPAPAN – Meski petani hidroponik melakukan penanaman secara mandiri, Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Balikpapan tetap melakukan pemantauan dan pengawasan.
Hal ini mengingat tanaman hidroponik yang ditanam oleh penggiat hidroponik ini juga memberikan kontribusi terhadap kebutuhan akan sayur mayur di kota minyak.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan, Yosmianto, menjelaskan, petani hidropinik yang ada di Balikpapan saat ini sudah terbentuk sebuah asosiasi hidropnik sendiri dengan tujuan sebagai wadah untuk mengakomodir keluhan dan masukan petani hidroponik, sekaligus sebagai wadah bertukar pengalaman serta tidak bersaing dalam harga.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan, Yosmianto. –Foto: Ferry Cahyanti
“Sejauh ini, kami dorong untuk membentuk asosiasi untuk mengakomodir semuanya, karena yang tergabung di dalam asosiasi ini banyak. Tujuannya untuk saling bertukar pengalaman dan tidak bersaing harga. Yang terdata di dalam asosiasi hidroponik saat ini ada 50 orang,” katanya, Senin (16/7/2018).
Dengan menggunakan hidroponik, para petani akan dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi tanaman yang dapat dilakukan dengan menggunakan lahan sempit di perkotaan, dengan media rumah kaca.
Tanaman yang menggunakan hidroponik dapat ditanam menggunakan pot atau wadah dengan menggunakan air atau bahan lainnya berupa kerikil, pecahan genteng pasir, pecahan batu ambang dan lain sebagainya sebagai media penanaman.
Kendati belum memenuhi kebutuhan sayuran untuk kota, namun petani hidroponik telah menyuplai kebutuhan sayuran hijau ke pusat perbelanjaan dan salah satu pasar tradisional di Balikpapan.
“Memang masih jauh kalau untuk memenuhi kebutuhan sayuran, tetapi sudah mampu memproduksi dan bisa menyuplai mall-mall dan salah satu pasar segar di Balikpapan,” sebut pria yang akrab disapa Yos.
Menurutnya, pengawasan melalui petugas penyuluh juga terus dilakukan oleh pemerintah melalui dinas terkait. “Pengawasan dan monitoring tetap kami lakukan melalui petugas penyuluh. Memang tidak ada anggaran untuk melakukan pembinaan, tapi kami tetap monitoring,” paparnya.
Sementara itu, salah satu penggiat hidroponik di Balikpapan, Bambang Iswahyudi, menemukan kendala dalam mencari bibit, mengingat bibit yang digunakan adalah bibit impor.
“Baru-baru ini ada kebijakan yang rada rumit, jadi kesulitan mencari benih impor yang biasa digunakan. Dan, kemungkinan akan hilang dari peredaran di pasar. Sementara tidak ada solusinya,  paling kita nanti pakai produk lokal yang kualitasnya jauh dari impor,” imbuhnya.
Dia menambahkan, produktivitas hidroponik bersama komunitasnya setiap hari semakin meningkat sejak digeluti pada 2014. Rata-rata panen setiap hari 12 kilogram, dan jumlah lubang yang ditanam mencapai enam ribu.
“Di awal hanya 200, lubang kemudian kini bertambah menjadi enam ribu lubang,” tambah Bambang.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.