Pemprov DKI Terus Berupaya Bebaskan Warga dari TB

Editor: Koko Triarko

267
JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI terus berupaya melaksanakan berbagai kebijakan dan tindakan promotif dan preventif, agar warga Jakarta terbebas dari penyakit menular TB.
Demikian disampaikan Gubernur DKI, Anies Baswedan, saat meresmikan Ruang Rawat Inap TB RO (Resisten Obat) Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2018).
“Mudah-mudahan, Jakarta (bebas TB), nanti bagian kita ini di pemerintah, memastikan, bahwa kita melindungi seluruh warga Jakarta dari segala macam potensi penyakit menular termasuk TB ini,” kata Anies.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI akan terus berupaya melaksanakan berbagai kebijakan dan tindakan promotif dan preventif, agar warga Jakarta terbebas dari penyakit menular TB.
“Jadi, dengan begitu, nanti bagian kami (Pemprov DKI Jakarta) insyaallah yang mengikhtiarkannya untuk pencegahannya juga. Aspek promotif dan preventif kita lakukan, dan (RS Islam) di sini menyiapkan kuratifnya untuk pengobatannya,” ucapnya.
Kemudian untuk mewujudkan Jakarta bebas TB, nantinya seluruh Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan di Provinsi DKI harus mampu melakukan tata laksana pasien TB, dengan penegakkan diagnosis berbasis laboratorium dengan kualitas terjaga.
Pemprov DKI juga menggerakkan seluruh rumah sakit, puskesmas, dan posyandu yang ada di Jakarta untuk bisa menangani pasien pengidap TB RO ini dengan baik, termasuk tindak lanjut setelah melewati perawatan intensif di rumah sakit.
“Ini sesuatu yang kita harus bangun kesadaran, betapa pentingnya kita mencegah, dan betapa pentingnya kita memeriksa. Untuk itu, seluruh rumah sakit dan puskesmas siap menangani pasien TB,” tuturnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan, ada 556 warga di Ibu Kota yang terdeteksi menderita penyakit TB resisten obat. TB resisten obat (multidrug resistant/MDR-Tb) merupakan penyakit TB yang pengobatannya lebih sulit.
“Menurut data Dinas Kesehatan, ada 37.700 orang yang terdeteksi memiliki masalah TB. Dari 37.700 itu, 5.775 orang anak, 31 lainnya dewasa dan TB yang resisten obat di data Dinas Kesehatan ada 556 orang, 70 persen warga DKI dan 30 persen dari luar DKI,” jelasnya.
Dalam penanganan penderita TB resisten, dibutuhkan keinginan sembuh yang besar dari pasien.  “Resisten obat penanganannya sederhana, tapi ini membutuhkan penanganan serius, termasuk dari pasien untuk pengobatan secara tuntas,” ujarnya.
Menurut Anies, RS Islam Jakarta Cempaka Putih merupakan rumah sakit swasta pertama yang memiliki fasilitas rawat inap khusus pasien TB resisten obat.
“Saya harap, rumah sakit swasta lain bisa mengikuti apa yang dikerjakan rumah sakit Islam Cempaka Putih. Karena manfaatnya besar,” imbuhnya.
Sebelumnya, Anies memiliki kebijakan untuk tidak melakukan operasi pelarangan penduduk dari luar Jakarta. Namun dengan syarat, pendatang harus melengkapi diri dengan jaminan kesehataan dan imunisasi sebelum ke Jakarta, agar tidak membawa masalah yang paling mendasar, salah satunya Tuberkulosis.
Sementara itu, Direktur Utama RSIJ, Metta Desvini Primadona Seregar, mengaku akan mendukung program Pemprov DKI untuk menuntaskan TB di seluruh wilayah Jakarta.
“Kami berupaya untuk dukung program tuntaskan TB zero di Jakarta dan berupaya untuk bangun ruang rawat inap TB RO, karena kapasitas di RS lain terbatas dan banyak pasien yang tak terawat. Kami beranikan diri buka ruang inap ini, mudah-mudahan ke depan kami banyak membantu dan bekerja sama dengan pemerintahan DKI,” tuturnya.
Penyakit TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Jakarta. Indonesia masih berada di peringkat ketiga sesudah India dan Cina, sebagai negara yang warganya banyak menderita TB.
Sementara itu, TB Resisten Obat adalah penyakit TB yang disebabkan mycobacterium tuberculosis yang sudah mengalami kekebalan terhadap obat. Artinya, obat tersebut tak lagi dapat membunuh kuman penyebab penyakitnya. Untuk itu, TB RO ini butuh penanganan serius, termasuk komitmen pasien untuk mengikuti pengobatan secara tuntas.
Baca Juga
Lihat juga...